Tautan-tautan Akses

Paus Tinggalkan Irak, Kembali ke Roma


Paus Fransiskus mengucapkan selamat tinggal kepada Presiden Irak Barham Salih dan istrinya Sarbagh Salih sebelum berangkat ke Roma, di Bandara Internasional Baghdad di Baghdad, Irak, 8 Maret 2021. (Foto: Vatican Media via REUTERS)

Paus Fransiskus, Senin (8/3), mengakhiri lawatan bersejarahnya ke Irak yang ditujukan untuk menumbuhkan harapan bagi minoritas Kristen yang terpinggirkan di negara itu sambil membawa pesan hidup berdampingan, pengampunan dan perdamaian.

Paus dan delegasi kelilingnya dilepas di bandara Baghdad dengan upacara perpisahan. Ia kembali ke Roma setelah kunjungan selama empat hari yang mencakup lima provinsi di Irak.

Saat pesawat Paus lepas landas, Presiden Irak Barham Salih terlihat berada di landasan, melambai-lambaikan tangannya.

Pada setiap putaran perjalanannya, Paus Fransiskus mendesak warga Irak untuk merangkul keberagaman - dari Najaf di selatan, di mana dia mengadakan pertemuan tatap muka bersejarah dengan ulama Syiah Ayatollah Agung Ali al-Sistani, ke Niniwe di utara, di mana ia bertemu dengan orang-orang Kristen yang menjadi korban ISIS dan mendengarkan kesaksian mereka tentang bertahan hidup.

Orang-orang berkumpul dalam kerumunan, dan berusaha melihat sekilas Paus ke mana pun ia pergi, sehingga memicu kekhawatiran akan bahaya penyebaran virus corona. Hanya beberapa orang terlihat mengenakan masker, terutama selama kunjungan Paus Fransiskus di Irak Utara pada hari Minggu (7/3). Hari itu diakhiri dengan misa terbuka di stadion yang menarik hampir 10 ribu pengunjung. Keamanan ketat dan sebagian besar acara dikontrol dengan ketat.

Banyak pakar kesehatan masyarakat menyatakan keprihatinan mereka menjelang kunjungan Paus itu karena pertemuan-pertemuan besar dapat menjadi pusat penyebaran virus corona besar-besaran. Wabah COVID-19 di Irak memburuk dan hanya sedikit orang yang telah divaksinasi. Paus dan anggota delegasinya telah divaksinasi tetapi sebagian besar warga Irak belum.

Irak sedang menghadapi gelombang baru wabah virus corona, yang dipicu oleh varian baru yang lebih menular yang pertama kali muncul di Inggris. Pihak berwenang di Irak mencatat 4.068 infeksi baru pada 6 Maret, menurut data Kementerian Kesehatan, naik secara signifikan dari tingkat infeksi pada awal tahun. Sekitar 13.500 orang meninggal di antara 720 ribu kasus yang sejauh ini tercatat secara resmi di Irak. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG