Tautan-tautan Akses

Paus Akhiri Lawatan ke Jepang, Desak Masyarakat yang Inklusif


Paus Fransiskus menerima karangan bunga di bandara Haneda International, Tokyo, 26 November 2019. (AP Photo/Koji Sasahara)

Paus Fransiskus, Selasa (26/11) mengakhiri lawatannya ke Jepang dengan memberitahu mahasiswa Jepang di sebuah universitas Katolik mengenai perlunya bekerja ke arah “masa depan yang dipenuhi harapan” yang lebih inklusif dengan mengatasi orang-orang yang terputus hubungan di tengah masyarakat.

Dalam pidatonya di Sophia University, Paus mengatakan ia merasakan adanya keinginan di Jepang untuk menciptakan masyarakat yang lebih manusiawi, lebih penuh belas kasih dan murah hati.

“Universitas, berfokus pada misinya, harus selalu terbuka untuk menciptakan suatu ‘kepulauan’ yang mampu menghubungkan realitas yang mungkin secara budaya dan sosial dianggap terpisah,” kata Paus Fransiskus. “”Kaum terpinggirkan harus secara kreatif dimasukkan ke dalam kehidupan dan kurikulum universitas dalam upaya menghasilkan pendekatan edukatif yang bertujuan mengurangi jarak dan diskoneksi.”

Paus juga menyebut “cinta akan alam” sebagai aspek khas budaya Asia dan menyatakan perlunya melindungi planet bumi.

Beberapa bagian sebelumnya dalam lawatannya ke Jepang ini difokuskan pada pesan antinuklir.

Paus asal Argentina yang berusia 82 tahun itu mendarat di Tokyo, Sabtu (23/11) sebelum ia mengunjungi Hiroshima dan Nagasaki, tempat di mana lebih dari 100 ribu orang tewas seketika oleh bom-bom AS pada akhir Perang Dunia II pada tahun 1945.

Di Nagasaki, Minggu (24/11), Paus Fransiskus meminta para pemimpin politik agar meninggalkan senjata nuklir dan perlombaan senjata.

“Saya meminta para pemimpin politik agar tidak lupa bahwa senjata-senjata ini tidak dapat melindungi kita dari ancaman masa kini terhadap keamanan nasional dan internasional,” ujarnya.

Paus menyatakan ia sudah lama bermimpi untuk mengunjungi Jepang, dan bahwa ia ingin sekali dikirim ke sana sebagai misionaris lebih dari 50 tahun silam. Dari 126 juta penduduk Jepang, sekitar 440 ribu orang di antaranya diperkirakan adalah umat Katolik.

Sebelum melakukan perjalanan ke Jepang, Paus mengunjungi Thailand untuk menyampaikan pesan mengenai toleransi agama dan perdamaian. [lt/ab]

XS
SM
MD
LG