Tautan-tautan Akses

Paus Fransiskus Temui Pengungsi Rohingya di Bangladesh


Paus Fransiskus naik rickshaw, sejenis becak lokal, saat mengunjungi gereja Katedral Santa Maria, di Dhaka, Bangladesh, Jumat (1/12).
Paus Fransiskus naik rickshaw, sejenis becak lokal, saat mengunjungi gereja Katedral Santa Maria, di Dhaka, Bangladesh, Jumat (1/12).

Paus Fransiskus menahbiskan 16 pastor hari Jumat (1/12) dalam misa besar-besaran di ibukota Bangladesh. Diperkirakan sekitar 100 ribu orang menghadiri misa yang diadakan di Taman Suhrawardy Udyan di Dhaka.

Pemimpin Gereja Katolik Roma hari Jumat siang ini bertemu dengan beberapa orang pengungsi Muslim Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh dari Myanmar.

Paus melawat ke Myanmar selama empat hari sebelum tiba di Bangladesh pada hari Kamis (30/11). Ia dikritik oleh para aktivis HAM karena tidak secara khusus menyebut orang-orang Rohingya selama ia berada di Myanmar.

Rohingya adalah kelompok etnis minoritas yang tidak diberi hak-hak dasar mereka selama puluhan tahun di Myanmar yang mayoritas penduduknya Buddhis. Myanmar menganggap mereka sebagai imigran dari Bangladesh, meskipun kenyataannya banyak keluarga yang telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi.

Situasi memburuk sejak Agustus lalu, sewaktu militer melancarkan kampanye bumi hangus terhadap desa-desa Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar Utara, sebagai tanggapan atas serangan-serangan terhadap pos-pos polisi Myanmar oleh militan Rohingya. Kampanye brutal itu, termasuk apa yang dilaporkan sebagai pemerkosaan massal dan pembunuhan membabi buta, memicu eksodus lebih dari 620 ribu Rohingya ke Bangladesh. Ini disebut PBB sebagai suatu contoh pembersihan etnis.

Paus Fransiskus mengecam perlakuan terhadap Rohingya dalam pernyataan-pernyataan terbuka sebelumnya, tetapi para penasihatnya menganjurkan agar tidak membicarakan isu tersebut sewaktu berada di Myanmar, karena khawatir ada tindakan balasan terhadap 650 ribu warga Katolik di negara tersebut.

Uskup Myanmar John Hsane Hgyi bahkan bertindak lebih jauh hari Rabu, dengan mengemukakan keraguan mengenai kekejaman yang dilaporkan terhadap Rohngya, dan mendesak para pengecam pemerintah Myanmar agar ke lokasi kejadian “untuk mempelajari realitas dan sejarah” isu tersebut dan mengetahui kebenarannya.

Juru bicara Vatikan Greg Burke Rabu mengatakan bahwa Paus Fransiskus tidak kehilangan “otoritas moralnya” mengenai isu tersebut, dan menyatakan ia mungkin telah bersikap lebih terus terang dalam pembicaraan pribadinya dengan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi dan panglima militer Min Aung Hlaing. [uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG