Tautan-tautan Akses

Paus Serukan Dunia Tangani Krisis di Myanmar Tanpa Sebut 'Rohingya'


Paus Fransiskus bersiap memimpin upacara Misa di Dhaka, Bangladesh, Jumat (1/12).

Paus Fransiskus berada di Bangladesh hingga Sabtu (2/12) setelah lawatan empat hari di Myanmar. Ia diperkirakan akan bertemu dengan para pengungsi Rohingya di Bangladesh, namun tidak akan pergi ke perbatasan di mana lebih dari 600 ribu pengungsi Rohingya berusaha menyelamatkan diri. Perjalanan diplomatik yang dijadwalkan sebelum kekerasan terhadap Rohingya terjadi Agustus lalu itu dipertanyakan karena Sri Paus menghindar penyebutan kata Rohingya dalam pernyataan-pernyataan publiknya.

Paus Fransiskus melakukan misi diplomatik yang sulit dalam lawatannya ke Myanmar dan Bangladesh. Ia berusaha menyorot apa yang dianggap oleh PBB dan AS sebagai pembersihan etnis Rohingya di Myanmar, namun tanpa menyebut kata Rohingya.

Paus pernah mengatakan, “Masyarakat internasional harus mengambil langkah-langkah penting untuk mengatasi krisis parah ini.”

Agustus lalu, sewaktu aksi kekerasan terhadap Rohingya mulai merebak, Sri Paus bahkan menyerukan solidaritas terhadap Rohingya.

Namun ketika berbicara di ibukota Mynamar, Selasa lalu (28/11), dia sama sekali tidak menyebutkan kata Rohingya. Ia lebih memilih penggunaan pernyataan-pernyataan terselubung yang mengisyaratkan agar Myanmar tidak mengesampingkan kelompok-kelompok minoritas etnis dan agama.

"Masa depan Myanmar harus damai. Perdamaian yang didasarkan pada penghormatan terhadap martabat dan hak-hak setiap anggota masyarakat, penghormatan terhadap setiap kelompok etnis dan identitasnya, penghormatan terhadap supremasi hukum, dan penghormatan terhadap tatanan demokrasi yang memungkinkan setiap individu dan setiap kelompok – tanpa pengecualian – memberikan kontribusi terhadap kepentingan bersama,” pesan Paus.

Sri Paus menerima saran dari para pemimpin Katolik Myamar yang mengkhawatirkan akan adanya aksi pembalasan terhadap umat Kristen Myanmar jika ia menyebut Rohingya atau secara langsung membicarakan krisis Rohingya. Sikap ini mendapat tanggapan beragam.

Greg Burke, juru bicara Vatikan, mengatakan, Paus Fransiskus melakukan lawatan itu untuk membangun hubungan. "Sungguh tidak masuk akal bila ada anggapan bahwa otoritas moral Paus menyusut,” katanya.

Namun, sejumlah orang di Bangladesh merasa Sri Paus menyia-nyiakan kesempatan.

Mostak Ahmed, seorang pegawai pemerintah di Bangladesh, mengatakan, “Paus tidak membicarakan masalah itu dalam lawatannya ke Myanmar. Ia bertindak benar jika membicarakan orang-orang Rohingya yang tertindas.”

Senator AS Dick Durbin berkunjung ke Myanmar dan Bangladesh sebelum kunjungan Sri Paus. Ia mengatakan kepada VOA, Paus menghadapi situasi sulit.

“Mungkin ia berusaha bersikap taktis dengan menghindari penggunaan kata yang kontroversial ini. Jika pada akhirnya, situasi yang dihadapi oleh orang-orang Rohingya itu membaik karena kunjungan Paus, saya tidak akan mengritik taktik yang ia gunakan,” ujar Durbin.

Durbin mengatakan, dalamnya kebencian terhadap Rohingya di Myanmar sulit dipahami oleh orang-orang Barat. Ia ingin pemimpin sipil de fakto Myanmar, Aung San Suu Kyi, meningkatkan usahanya.

Senator dari Partai Demokrat itu mengatakan, Suu Kyi – yang pernah menerima penghargaan Nobel Perdamaian – kemungkinan tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah keadaan. Namun, menurut Durbin, Suu Kyi seharusnya lebih banyak berbicara dan berbuat terkait krisis Rohingya. [ab/lt]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG