Tautan-tautan Akses

Pasar Saham AS Berfluktuasi, Menguat Saat Penutupan


Para pialang mengamati pergerakan saham di New York Stock Exchange, Senin 5/2 (foto: ilustrasi).

Pasar-pasar saham Amerika ditutup menguat setelah berfluktuasi sepanjang perdagangan Selasa (6/2).

Indeks Dow Jones menguat 2,3 persen atau 567 point, hampir separuh dari penurunan drastis 1.175 point pada hari Senin (5/2). Indeks Standard & Poor 500 juga menguat 1,5 persen atau 39 point.

Nilai saham berfluktuasi tajam setelah penurunan di beberapa pasar saham Asia dan Eropa. Kerentanan ini terjadi sehari setelah Dow Jones terjun bebas 4,6 persen atau penurunan paling drastis yang terjadi pada satu hari dalam sejarah 120 tahun.

Dow Jones sempat melemah 530 point pada pembukaan pasar, demikian pula Standard & Poor 500 yang melemah 1,3 persen.

Indeks pasar-pasar saham utama di Asia juga turun tajam pada perdagangan hari Selasa, ketika aksi jual secara besar-besaran di Wall Street bergulir ke seluruh dunia. Indeks Nikkei Jepang sempat terkoreksi negatif tujuh persen dalam salah satu sessi perdagangannya, sebelum ditutup di posisi 21.610 point, atau berarti turun hampir lima persen. Disusul Hang Seng Hong Kong yang juga turun lebih dari lima persen, menjadikan perdagangan hari Selasa sebagai yang terburuk sejak Agustus 2015.

Di Eropa, Indeks FTSE 100 London melemah 2,64 persen; DAX Jerman melemah 2,3 persen; sementara CAC-40 Perancis melemah 2,35 persen.

Perdagangan di pasar-pasar saham di Asia hari Selasa terkena dampak penurunan di penutupan Dow Jones hari Senin, yang terjun bebas 1.175 point atau penurunan terbesar dalam sejarah Amerika. Standard & Poor 500 juga mengalami hari buruk dengan anjlok lebih dari empat persen di posisi 2.648 point.

Pasar saham kehilangan sekitar satu triliun dolar Amerika sejak Jumat (2/2) ketika Dow Jones kehilangan 666 point. Penurunan itu terjadi pasca laporan lapangan kerja yang solid, yang menunjukkan bahwa perekonomian Amerika menambah 200 ribu lapangan kerja baru dan kenaikan upah paling cepat dalam sepuluh tahun. Pasar tenaga kerja yang kian sengit dan kenaikan upah mendorong kekhawatiran investor akan potensi inflasi yang lebih tinggi dan kemungkinan Bank Sentral Amerika menaikkan suku bunga lebih cepat dan lebih tinggi dibanding beberapa tahun terakhir ini. [em/jm]

XS
SM
MD
LG