Tautan-tautan Akses

AS

Partai Republik di Senat Akan Kembali Langsungkan Voting untuk Batalkan Obamacare


Presiden Donald Trump berjalan ke pesawat Air Force One untuk melakukan perjalanan ke Polandia dan Jerman, Rabu, 5 Juli 2017, di Pangkalan Angkatan Udara Andrews, Md.

Lebih banyak protes menentang rencana layanan kesehatan Partai Republik pekan ini, bahkan setelah para senator partai itu diundang ke Gedung Putih untuk mendengarkan seruan baru Presiden Trump.

“Selama tujuh tahun kalian berjanji kepada rakyat Amerika untuk membatalkan Obamacare. Rakyat menderita. Tidak berbuat apa-apa bukanlah pilihan,” ujar Trump.

Trump sempat menyarankan untuk membiarkan Obamacare gagal begitu saja. Usaha Partai Republik berikutnya hanyalah membatalkan undang-undang itu tanpa menyediakan penggantinya – sesuatu yang ditentang para tokoh Partai Demokrat, termasuk Senator Chuck Schumer.

“Jangan membuat kekeliruan mengenai hal itu. Setuju untuk membatalkan tanpa menyediakan penggantinya bisa menimbulkan bencana,” kata Schumer.

Frustasi mengenai layanan kesehatan adalah kemunduran politik bagi presiden, menurut Molly Reynolds, seorang pengamat dari Brookings Institution.

“Khususnya, bagi presiden yang telah menjanjikan kemenangan selama masa kampanyenya dan pada masa awal jabatannya, ini merupakan kekalahan besar," kata Reynolds.

Partai Republik di Senat masih tidak sepakat mengenai bagaimana mengganti Obamacare.

Namun, menurut Mitch McConnel, pemimpin partai itu di Senat, kebanyakan dari mereka ingin memenuhi janji kampanye.

“Ada mayoritas besar di kubu kami yang ingin menunjukkan kepada rakyat Amerika bahwa mereka ingin memenuhi komitmen yang mereka buat dalam empat pemilu berturutan untuk membatalkan Obamacare," kata McConnel

Sejumlah konservatif mengatakan rencana layanan kesehatan Partai Republik tidak cukup kuat untuk membatalkan Obamacare. Beberapa tokoh Partai Republik yang moderat khawatir mengenai perkiraan bahwa rencana layanan kesehatan partai mereka akan membuat lebih dari 20 juta warga Amerika kehilangan asuransi kesehatan.

Kyle Kondik, pengamat dari Universitas Virginia, mengatakan, kegagalan terkait layanan kesehatan ini kemungkinan akan membuat Partai Republik kehilangan kontrol di Kongres tahun depan.

“Khususnya bila tingkat dukungan rakyat terhadap presiden bertahan di angka 40 persen atau lebih rendah. Berdasarkan sejarah, presiden-presiden dengan tingkat dukungan rendah mengalami kekalahan signifikan dalam pemilihan anggota DPR," kata Kondik.

Menurut pakar layanan kesehatan Matthew Fiedler dari Brookings Institution, jika para tokoh Partai Republik tidak bisa menyelesaikan ketidaksepakatan, mereka perlu mengajak kubu Demokrat untuk membuat rancangan undang-undang yang disetujui oleh kedua pihak.

Usaha merombak layanan kesehatan yang berkepanjangan ini telah menunda agenda domestik Trump lainnya, termasuk salah satu janji kampanye penting lainnya, yakni reformasi pajak. [ab/lt]

XS
SM
MD
LG