Tautan-tautan Akses

AS

Para Senator AS Ajukan Pertanyaan Seputar Pemakzulan Trump


Sidang pemakzulan Trump di Gedung Capitol, Washington, D.C., 27 Januari 2020. (Foto: dok).

Seratus senator Amerika yang kini mempertimbangkan apakah Presiden Amerika Donald Trump harus dipecat dari jabatannya akhirnya mendapat kesempatan untuk mengajukan pertanyaan mereka sendiri pada hari Rabu (29/1).

Dalam dua hari pertama fase baru sidang pemakzulan di Senat, para senator mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada para manajer pemakzulan dari DPR dan tim pembela presiden tentang sejumlah isu hukum terkait dengan hubungan Trump dengan Ukraina.

Di luar gedung Kongres, pengunjuk rasa menuntut lebih banyak informasi. Mereka adalah bagian dari mayoritas publik Amerika yang mengatakan bahwa mereka ingin melihat bukti dan kesaksian baru dalam sidang pemakzulan di Senat, dimulai dengan mantan Penasihat Keamanan Nasional John Bolton. Tuntutan para pengunjuk rasa itu didukung oleh beberapa senator Partai Republik, termasuk Senator Mitt Romney.

“John Bolton, misalnya, mungkin dapat memberi tahu kami dengan pasti tentang kapan keputusan untuk memberikan bantuan segera ke Ukraina itu dibuat, dan apa alasan presiden pada saat itu. Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang belum pernah kita lihat buktinya pada saat ini dan saya ingin agar pertanyaan-pertanyaan itu dijawab,” jelas Senator Mitt Romney.

Tetapi masih belum jelas apakah akan ada cukup dukungan dari senator Republik untuk memanggil para saksi ketika diadakan pemungutan suara yang kemungkinan berlangsung hari Jumat ini, seperti diungkapkan oleh Senator Susan Collins dari Partai Republik, “Saya tidak tahu ke mana suara akan diberikan.”

Keputusan mengenai pemanggilan saksi-saksi baru itu oleh Partai Demokrat dianggap akan menentukan keadilan dalam sidang, seperti diutarakan oleh Senator Tim Kaine dari Virginia.

“Sebelum ada pemungutan suara untuk menentukan putusan bersalah atau bebas, nanti akan ada pemungutan suara apakah ini pengadilan atau akal-akalan,” jelasnya.

Fase tanya-jawab dalam sidang pemakzulan ini berubah menjadi perdebatan tentang perlu tidaknya pemanggilan para saksi baru. Hakim Ketua Mahkamah Agung John Roberts membacakan pertanyaan seorang senator.

"Apakah ada cara bagi Senat untuk mejatuhkan putusan yang sepenuhnya berdasarkan informasi yang lengkap dalam kasus ini, tanpa mendengarkan kesaksian Bolton, Mulvaney dan saksi mata penting lainnya atau tanpa melihat bukti-bukti yang relevan?,” ungkapnya.

(John Bolton adalah mantan Kepala Staf Gedung Putih, dan Mick Mulvaney adalah penjabat Kepala Staf Gedung Putih.)

Pertanyaan yang dibacakan oleh Hakim Ketua Mahkamah Agung tersebut segera dijawab oleh Adam Schiff, manajer pemakzulan dari DPR. “Jawaban singkat untuk pertanyaan itu adalah tidak, tidak mungkin ada pengadilan yang adil tanpa saksi-saksi.”

Tetapi masing-masing pihak juga mendapat kesempatan untuk menyampaikan argumen mengenai pemakzulan Trump. Alan Dershowitz, guru besar emeritus Universitas Harvard, yang bertindak sebagai salah seroang pengacara dalam tim pembela Trump menyampaikan pendapatnya.

“Jika seorang presiden melakukan sesuatu, yang dia percaya akan membantu dirinya terpilih, demi kepentingan publik, itu tidak bisa dikatakan semacam transaksi timbal balik yang mengakibatkan pemakzulan,” katanya.

Pernyataan Profesor Dershowitz itu segera ditanggapi oleh manajer pemakzulan Adam Schiff. “Jika kita melihat pola perilaku presiden dan kata-katanya, yang kita lihat adalah seorang presiden yang mengidentifikasi negara sebagai dirinya sendiri,” komentarnya.

Para senator akan diberi waktu delapan jam lagi untuk mengajukan pertanyaan pada hari Kamis ini waktu Amerika, diikuti dengan keputusan yang sangat penting pada akhir minggu ini tentang perlu tidaknya menghadirkan saksi-saksi baru. [lt/uh]

XS
SM
MD
LG