Tautan-tautan Akses

Presiden Donald Trump tidak mengatakan secara terbuka tentang rencananya terkait pasukan Amerika di Afghanistan, tetapi pekan lalu Taliban mencoba menghubunginya.

Dalam surat terbuka kelompok itu yang dirilis ke media berita, juru bicara Taliban meminta Trump meninggalkan apa yang disebutnya perang yang "sia-sia" dan "tidak bisa dimenangkan."

Trump tidak banyak berbicara tentang Afghanistan dan Pakistan dalam kampanye pemilihan presiden, meskipun kedua negara sudah lama menjadi prioritas kebijakan luar negeri Amerika dan mendapat bantuan miliaran dolar.

Pada saat keprihatinan bertambah karena meningkatnya pengaruh Taliban di Afghanistan, dan pertumbuhan kelompok militan lain, termasuk ISIS, pendapat pakar-pakar kebijakan luar negeri terpecah atas apa yang harus dilakukan pemerintahan baru terhadap konflik yang kini menjadi tanggung jawab presiden Amerika ketiga.

Pada akhir masa jabatannya Presiden Barack Obama mengatakan penggantinya akan menentukan langkah Amerika selanjutnya. Obama menyebut "situasi genting" di Afghanistan dan "ancaman Taliban" sebagai alasan di balik keputusannya. Tetapi, prediksi para pakar kebijakan luar negeri berbeda-beda tentang keputusan yang mungkin akan diambil pemerintahan Trump. [ka/ds]

XS
SM
MD
LG