Tautan-tautan Akses

Pakar Teliti Pengaruh Perubahan Iklim pada Gempa dan Longsor di Selandia Baru


Pasukan keamanan Selandia Baru dikerahkan untuk melakukan evakuasi keluarga yang terjebak banjir di Canterbury (foto: dok).
Pasukan keamanan Selandia Baru dikerahkan untuk melakukan evakuasi keluarga yang terjebak banjir di Canterbury (foto: dok).

Para peneliti dari Selandia Baru akan melakukan investigasi terkait bagaimana iklim dapat meningkatkan resiko kerusakan yang dipicu oleh gempa bumi dan tanah longsor, dua jenis bencana alam yang paling mematikan dan menimbulkan kerugian bagi negara itu.

Tim peneliti dari Universitas Canterbury di Selandia Baru mengatakan bahwa ini adalah wilayah penelitian dengan prioritas tinggi, karena iklim yang menghangat dan badai yang lebih sering datang, akan menimbulkan dampak besar bagi kehidupan manusia dan harta bendanya.

Studi ini akan menginvestigasi dampak dari perubahan iklim terhadap bencana alam, seperti tanah longsor, tebing runtuh dan banjir yang dipicu peristiwa gempa bumi.

Peneliti melaporkan bahwa tanah longsor telah menimbulkan lebih banyak kematian di Selandia Baru, dibanding jenis bencana alam yang lain, dan menimbulkan klaim asuransi hingga $178 juta AS setiap tahunnya.

Timothy Stahl adalah peneliti senior di Departemen Kebumian dan Lingkungan, Universitas Canterbury. Dia mengatakan kepada VOA, bahwa pemanasan global dan gempa bumi bisa menjadi kombinasi yang menghadirkan kerusakan signifikan.

"Semakin jenuh lereng bukit (dengan air), semakin besar kemungkinannya akan menjadi tanah longsor, dan jika gempa bumi juga terjadi saat itu, mengguncang lereng bukit yang jenuh air itu, maka akan lebih mudah menyebabkan terjadinya tanah longsor yang disebabkan oleh gempa. Dan contoh yang tepat untuk ini adalah apa yang terjadi di Hokkaido di Jepang pada 2018, di mana mereka mengalami topan di kawasan lereng perbukitan dan membuatnya menjadi jenuh air, dan kemudian gempa berkekuatan lebih dari enam skala richter terjadi sehari sesudahnya, yang menyebabkan begitu banyak titik tanah longsor di lereng perbukitan, menyebabkan berbagai macam kekacauan."

Baik Jepang maupun Selandia Baru membentang pada apa yang disebut jalur api, jalur seismik aktif berbentuk tapal kuda membentang di cekungan Pasifik.

Stahl mengatakan, studi ini bertujuan untuk membantu negara-negara yang rawan bencana gempa bumi, untuk memiliki persiapan ketangguhan yang lebih baik, dan juga termasuk panduan bangunan yang disempurnakan di dekat jalur patahan yang aktif.

“Tidak peduli dimana Anda, jika itu secara tektonik aktif, maka Anda akan memiliki persinggungan antara gempa bumi dan perubahan iklim, dan menjadi sangat penting untuk memiliki gambaran lebih akurat bagaimana persinggungan itu akan terjadi.”

Pada Februari, Selandia Baru diterjang siklon Gabrielle, yang sejauh ini merupakan badai terburuk abad ini. Negara di Pasifik Selatan dengan sekitar 5 juta penduduk yang rawan gempa bumi ini dikenal sebagai Gugusan yang Bergoyang. Sekitar 14 ribu gempa bumi terjadi di Selandia Baru setiap tahunnya. Kebanyakan terlalu kecil untuk dirasakan, tetapi sekitar 150 hingga 200 gempa cukup bisa dirasakan.

Pekan lalu, gempa dengan magnitude 6,2 melanda Pulau South di negara itu. Pusat gempa sekitar 120 kilometer sebelah barat Christchurch dan merupakan gempa paling besar yang terjadi Selandia Baru tahun ini.’

Riset bencana alam dari Universitas Canterbury ini akan selesai pada 2027. [ns]

Forum

Recommended

XS
SM
MD
LG