Tautan-tautan Akses

Oxford: Vaksin AstraZeneca Dapat Kurangi Penularan Virus Corona


Studi: Vaksin COVID-19 AstraZeneda dan Universitas Oxford, mengurangi penularan virus sebanyak dua pertiga. (Foto: ilustrasi)

Vaksin virus corona yang dikembangkan AstraZeneda dan Universitas Oxford mengurangi penularan virus corona sebanyak dua pertiga, menurut sebuah studi yang dirilis universitas tersebut, Rabu (3/2).

Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock. (Foto: dok).
Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock. (Foto: dok).

Belum ada penelaahan sejawat terhadap studi itu, namun Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock, mengatakan kepada BBC bahwa temuan-temuan itu merupakan “berita baik.”

“Itu memperlihatkan kepada dunia bahwa vaksin Oxford ampuh, bekerja dengan baik,” kata Hancock.

Vaksin itu mendapat kecaman dari negara-negara lain di Eropa dalam beberapa hari terakhir. Para pejabat menyatakan keprihatinan terhadap kurangnya data mengenai efektivitas vaksin pada orang lanjut usia.

Badan penasihat kesehatan utama Perancis menyarankan vaksin itu hanya diberikan kepada mereka yang berusia di bawah 65 tahun.

Di Belgia, pemerintah hanya memberikan vaksin tersebut kepada mereka yang berusia di bawah 55 tahun.

“Kami tidak memiliki informasi yang cukup untuk memastikan bahwa vaksin ini aman diberikan kepada warga lansia,” kata Menteri Kesehatan Belgia Frank Vandenbroucke.

Kepala pengujian vaksin Universitas Oxford Andrew Pollard mengatakan kepada BBC, Rabu (3/2), bahwa terlepas dari kurangnya data terkait kepastian efektivitasnya, vaksin itu memberikan respon kekebalan yang baik kepada warga lansia.

Di Selandia Baru, regulator kesehatan menyetujui penggunaan sementara vaksin buatan Pfizer dan BioNTech, vaksinasi pertama diperkirakan akan mulai dilakukan pada akhir kuartal pertama tahun 2021, dengan memprioritaskan pekerja perbatasan di negara yang memberlakukan kebijakan karantina ketat bagi mereka yang datang dari luar negeri.

Pakistan juga mulai melakukan kampanye vaksinasi Rabu (3/2) yang menggunakan vaksin buatan China, Sinopharm.

Vial vaksin untuk COVID-19 produksi perusahaan farmasi China, Sinopharm, 19 Januari 2021.
Vial vaksin untuk COVID-19 produksi perusahaan farmasi China, Sinopharm, 19 Januari 2021.

Seperti kebanyakan negara lainnya, kelompok pertama yang mendapat vaksin adalah para pekerja kesehatan di garis depan. Menteri Perencanaan dan Pembangunan Pakistan mengatakan pada sebuah upacara di Islamabad bahwa para pekerja itu adalah “pahlawan yang sesungguhnya” karena mereka mempertaruhkan kesehatan mereka sendiri untuk menolong pasien yang terinfeksi Covid-19.

Pakistan telah menerima 500.000 dosis vaksin dan berencana untuk memvaksinasi 70 persen warganya yang berisiko tinggi hingga akhir tahun.

Di Korea Selatan, para pejabat membatasi perjalanan dan pertemuan selama liburan Tahun Baru Imlek pekan depan dan menyarankan warganya untuk tetap tinggal di rumah guna mengatasi lonjakan kasus virus corona.

Para pejabat kesehatan negara itu juga mengatakan pada hari Rabu, mereka mendeteksi penularan lokal pertama varian virus yang pertama kali diidentifikasi di Inggris dan Afrika Selatan. [lj/uh]

XS
SM
MD
LG