Sejumlah kelompok pendukung kebebasan pers, Jumat (28/8), menyerukan pembebasan seorang kartunis yang ditangkap di Yordania karena mengecam kesepakatan antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menormalisasi hubungan.
Emad Hajjaj ditangkap, Rabu (26/8), setelah mempublikasikan kartun yang menggambarkan pemimpin UEA sedang memegang seekor burung merpati berbendera Israel yang sedang meludahi wajahnya. Ludah itu diberi label F-35, merujuk pada pesawat canggih AS yang dijual ke UEA menyusul pemulihan hubungan UEA-Israel, namun mendapat tentangan Israel.
Nidal Mansour, pendiri organisasi Pusat Pembela Kebebasan Jurnalis di Yordania, termasuk salah satu aktivis pers yang menyerukan pembebasan kartunis Yordania keturunan Palestina itu. Ia mengatakan, Hajjaj ditangkap karena dianggap pihak berwenang membahayakan hubungan Yordania dengan negara bersahabat.
Pihak berwenang Yordania belum mengeluarkan pernyataan terkait penangkapan kartunis tersebut. Yordania adalah sekutu Barat dan satu di antara dua negara Arab yang telah menandatangani kesepakatan perdamaian dengan Israel. UEA, yang wilayahnya tidak berbatasan dengan Israel dan belum pernah berperang dengan Israel, akan menjadi negara Arab ketiga yang menormalisasi hubungan.
“Penahanan berlanjut terhadap kartunis terhormat, dan persoalan hukum yang menyertainya, mencerminkan posisi sulit Yordania dalam menyeimbangkan hubungan dengan UEA dengan hak warganya untuk mengeluarkan pendapat, “ kata Daoud Kuttab, jurnalis dan anggota dewan eksekutif Lembaga Pers Internasional. Ia, seperti halnya Mansour, menyerukan pembebasan segera Hajjaj.
“Para jurnalis dan kartunis seperti Emad Hajjaj berhak mengungkapkan pendapat mereka secara bebas mengenai kesepakatan Israel-UEA yang mempengaruhi kehidupan jutaan orang di Timur Tengah,” Ignacio Miguel Delgado dari Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) cabang Timur Tengah dan Afrika Utara. “Pihak berwenang Yordania harus segera membebaskan Hajjaj, membatalkan semua dakwaan terhadap dirinya, dan memberinya kesempatan untuk menyampaikan pandangan politiknya tanpa khawatir dipenjarakan.”
Kesepakatan UEA-Israel mendapat kecaman tajam dari Palestina dan para pendukungnya karena melanggar konsensus Arab yang sudah lama bertahan bahwa pengakuan terhadap Israel hanya mungkin diberikan bila Israel memberi konsesi terhadap proses perdamaian di Timur Tengah.
UEA menyatakan, kesepakatan itu menghentikan rencana Israel untuk menganeksasi secara sepihak sepertiga wilayah Tepi Barat, yang diinginkan Palestina sebagai bagian dari negara masa depan mereka. Israel sendiri mengatakan, rencana aneksasi itu tidak dibatalkan namun hanya dihentikan untuk sementara waktu saja. [ab/uh]