Tautan-tautan Akses

Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia tampaknya akan melanjutkan kebijakan pengurangan produksi untuk sepanjang 2018, tetapi dengan opsi untuk meninjau kesepakatan itu pada Juni, menurut sumber-sumber OPEC, Selasa (28/11), setelah Moskow menyatakan kekhawatirannya bahwa pasar minyak bisa memanas.

Rekomendasi itu dibuat komisi gabungan delegasi OPEC dan non-OPEC, termasuk Rusia, tetapi masih harus mendapat persetujuan menteri perminyakan negara-negara itu pada Rabu (29/11) dan oleh sidang OPEC pada Kamis (30/11), menurut dua sumber OPEC.

OPEC, Rusia dan sembilan produsen minyak lainnya memangkas produksi minyak sebanyak 1,8 miliar barel per day hingga Maret 2018. Menteri perminyakan dari negara-negara tersebut akan membahas perpanjangan kebijakan ini pada Kamis.

“Ini bukan pertemuan yang mudah dan kami akan selalu melihat berbagai skenaro,” kata Menteri Energi Uni Emirat Arab, Suhail bin Mohammed al-Mazroui, di Dubai, Selasa. Dia mengatakan memangkas produksi untuk sepanjang 2018 masih skenario utama, tapi bukan satu-satunya.

Harga minyak turun oleh pemberitaan ini, karena pasar beranggapan pengurangan produksi hanya berlangsung sampai Juni, dan tidak sampai akhir 2018.

Pasar pada umumnya memperkirakan OPEC akan memperpanjang pengurangan produksi sampai akhir 2018 untuk menaikkan harga dan menghabiskan kelebihan cadangan minyak dunia, namun dalam beberapa hari terakhir timbul keraguan.

Arab Saudi mengisyaratkan ingin harga minyak berada pada sekitar 60 dolar per barel, seiring dengan persiapan negara itu untuk menjual saham perusahaan minyak nasional Aramco ke publik, dan berusaha mengatasi defisit besar anggaran nasionalnya.

Rusia juga ingin harga minyak naik menjelang pemilihan presiden pada Maret tahun depan. Tetapi para pejabat di Moskow telah menyatakan kekhawatiran mengenai kemungkinan naiknya harga minyak akan menaikkan nilai tukar mata uang rubel yang dapat merugikan daya saing perekonomian Rusia. [ds/fw]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG