Tautan-tautan Akses

'One Product One Pesantren' Berupaya Dorong Ekonomi Santri


Seorang siswi SMK tengah magang di workshop lampu limar pesantren Darul Hidayah, Kota Bandung. (VOA/Rio Tuasikal)

Dalam bulan Ramadan ini, VOA Siaran Indonesia menghadirkan laporan khusus tentang kebangkitan pesantren-pesantren di Indonesia. Kali ini kami ajak Anda ke pesantren Darul Hidayah di Kota Bandung, yang lewat program “One Product One Pesantren” berhasil memproduksi lampu LED ekonomis dan meningkatkan kesejahteraan para santrinya.

Pesantren Darul Hidayah nampak seperti pesantren pada umumnya. Namun jika kita masuk ke dalam, kita akan menemukan workshop mungil yang memproduksi lampu LED.

Dalam ruang berukuran sekitar 4 x 4 meter itu, para santri memproduksi lampu limar, singkatan dari listrik mandiri rakyat.

“One Product One Pesantren” Berupaya Dorong Ekonomi Santri
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:36 0:00

Ditemui VOA di workshop-nya, Ketua Yayasan Darul Hidayah, Asep Hermawan, menjelaskan keunggulan lampu ini. “Lampu LED ini wattnya 1 watt tapi terangnya sama dengan 10 watt. Kemudian power-nya itu pakai accu mobil yang 30 ampere,” ujarnya.

Lampu Limar diciptakan dan dikembangkan oleh Ujang Koswara, warga Garut, Jawa Barat, sejak 2008. Inovasi ini menjadi alternatif penerangan di daerah-daerah yang belum teraliri listrik PLN.

Yayasan Pilar Peradaban yang Ujang dirikan memproduksi lampu limar dengan sejumlah komunitas lokal di Kota Bandung. Pada 2014, Yayasan tersebut turut menggaet Pesantren Darul Hidayah. Asep mengatakan, produksi lampu limar mebuat santri lebih produktif.

“Setelah sholat dhuha, karena mereka nggak punya kerjaan, ya akhirnya tidur lagi. Dari pada kondisinya seperti itu ya kami berdayakan lah santri-santri ini untuk membuat lampu-lampu ini,” terangnya.

Pesantren ini memang tidak mengajarkan teknik elektro. Karena itu pesantren mendatangkan pelatih untuk membekali keterampilan para santri.

Santri Merasa Keterampilan Bertambah

Salah seorang santri yang pertama bergabung adalah Ridwan Hidayat. Dia mengatakan pembuatan lampu limar mudah dipelajari.

Selain itu, dia tertarik memproduksi lampu karena misi sosial yang diembannya.

“Tujuannya gitu kan untuk menerangi daerah-daerah yang belum teraliri listrik. Dari sinilah saya tertarik. Karena kan salah satu hadist nabi bahwasanya orang terbaik itu orang yang bermanfaat bagi sesamanya,” ujarnya di pesantren.

Kiri ke kanan: Alumni Darul Hidayah Asep Saepul, Ketua Yayasan Darul Hidayah Asep Hermawan, dan Alumni Darul Hidayah Ridwan Hidayat menunjukkan lampu limar yang diproduksi di pesantren tersebut ketika dikunjungi Februari lalu. (VOA/Rio Tuasikal)
Kiri ke kanan: Alumni Darul Hidayah Asep Saepul, Ketua Yayasan Darul Hidayah Asep Hermawan, dan Alumni Darul Hidayah Ridwan Hidayat menunjukkan lampu limar yang diproduksi di pesantren tersebut ketika dikunjungi Februari lalu. (VOA/Rio Tuasikal)

Ridwan telah lulus dari pesantren pada 2010. Setelah menamatkan studi sarjana ekonomi, ia kembali ke pesantren. Kini ia memimpin produksi lampu limar. Workshop lampu limar telah membekalinya dengan keterampilan.

“Dari yang awalnya kita cuma bisa ngaji aja, sekarang nambah bisa solder-solder sedikit. Ada nambah penghasilan juga buat kita,” terangnya di pesantren.

Hal serupa dikatakan santri lainnya, Asep Saepul. “Manfaatnya ya alhamdulillah saya bisa tahu elektronik kayak gitu. Sampai-sampai saya belajar dari limar menyolder atau apapun. Jadi kalau ada kerusakan (barang elektronik) saya bisa coba-coba (membetulkan),”

Usai lulus dari pesantren dan berkuliah, dia masih ikut memproduksi lampu limar di Darul Hidayah. Dia berharap produksi lampu limar memberikan nilai tambah kepada para santri.

“Bisa meninggikan juga Ponpes Darul Hidayah ini, biar merasakan apa sih senangnya waktu kita memberi pada orang yang belum merasakan cahaya,” ujarnya.

Saat ini, ada 50 santri dari total 300 santri di pesantren, yang ikut memproduksi lampu limar.

Tidak ada target produksi yang dibebankan kepada santri, ujar Asep. Namun rata-rata santri memproduksi satu boks, terdiri atas lima lampu dan satu switch box setiap harinya. Satu boks lampu limar dijual 1,2 juta rupiah. Jika dengan accumulator, harganya jadi 1,8 juta Rupiah. Para santri diberi upah 70 ribu rupiah per boks.

Satu boks berisi 5 lampu limar dan 1 switch box dijual dengan harga 1,2 juta Rupiah. Sementara santri yang membuatnya dapat upah 70 ribu Rupiah per boks. (VOA/Rio Tuasikal)
Satu boks berisi 5 lampu limar dan 1 switch box dijual dengan harga 1,2 juta Rupiah. Sementara santri yang membuatnya dapat upah 70 ribu Rupiah per boks. (VOA/Rio Tuasikal)

'One Pesantren One Product' Dorong Kemandirian Pesantren

Lampu limar Darul Hidayah menjadi 1 dari 10 pesantren dalam "One Pesantren One Product" (OPOP) angkatan pertama. Program ini diluncurkan Pemprov Jawa Barat sejak 2018 untuk mendorong perekonomian santri.

Sepuluh pesantren ini memiliki produk yang siap dipasarkan, antara lain Pesantren Nurul Huda, Ciamis (susu kambing etawa), Pesantren Al Ittifaq, Ciwidey (sayur dan buah), serta Pesantren Al Umanaa, kab Sukabumi (lele asap balado). Pesantren ini diberikan pelatihan/bimbingan teknis serta pendampingan bisnis. Program ini kini memasuki angkatan kedua.

Data Kementerian Agama menunjukkan, ada 26 ribuan pesantren se-Indonesia. Sebanyak 8.343 unit ada di Jawa Barat, disusul 4.574 di Banten dan 4.450 di Jawa Timur.

Dalam program OPOP angkatan pertama, Darul Hidayah berhasil menjadi juara ketiga. Hadiah uang yang diterima langsung dibelikan peralatan produksi yang lebih mutakhir.

“Yang tadinya peralatannya agak konvensional, agak jadul, kita bisa beli peralatan yang agak bagus. Kami juga bisa membenahi workshop,” ujarnya lagi.

Namun, kata Asep, pihaknya masih butuh dukungan pemerintah, terutama terkait modal. Dia mengatakan, untuk membuat lampu limar untuk 200 rumah, perlu modal 60 juta untuk komponen dan upah santri.

“Yayasan kan duitnya sangat terbatas, nah kami harapkan modal untuk pembelian komponen bahan baku,” harapnya. [rt/em]

XS
SM
MD
LG