Tautan-tautan Akses

Nilai Barang Dagangan Turun, Pengecer Hadapi Krisis


Suasana di sebuah toko retail pakaian di Brooklyn, New York, 7 JUli 2020. (Foto: dok).

Terlepas dari kenyataan bahwa negara-negara bagian mulai mengurangi restriksi lockdown, toko-toko baju menghadapi tantangan serius, yaitu sulit untuk menjual produk-produk yang telah berada di rak-rak toko selama berbulan-bulan. Penjualan baju secara online dilakukan setiap saat, namun karena rendahnya daya beli, toko-toko baju mengalami kerugian.

Musim semi tahun 2020 telah terbukti merupakan bencana bagi ratusan toko fesyen karena penjualan menurun sebesar 90 persen, menurut Reuters. Hasil penjualan online tidak dapat menutupi kerugian tersebut, menurut para pakar.

Namun beberapa toko kecil menemukan cara yang kreatif untuk tetap unggul dalam bisnis mereka. Melalui aplikasi Zoom, Neil Barrett, dari toko Standard&Strange di California menjelaskan, "Toko fesyen kami sedikit berbeda. Kami menyimpan persediaan barang-barang kami lebih lama daripada toko-toko ritel yang besar, karena produk kami spesial dan eksklusif. Kadang kami membutuhkan waktu setahun atau lebih untuk menjual satu produk dalam persediaan kami."

Salah satu gerai fesyen Forever 21 di Beijing, 7 Mei 2019. (Foto: dok).
Salah satu gerai fesyen Forever 21 di Beijing, 7 Mei 2019. (Foto: dok).

Jeremy Smith, dari toko Standard&Strange, di California menambahkan, "Keberadaan kami tidak seperti toko fesyen yang Anda bayangkan. Ini bukanlah apa yang kami lakukan. Kami menjual pakaian jadi, baju-baju, kebanyakan apa yang kami jual dapat Anda kenakan 10, 20 tahun lalu…"

Hingga kini belum jelas apakah toko-toko fesyen dapat kembali beroperasi ke tingkat seperti sebelum adanya pandemi virus corona. Di negara bagian yang melonggarkan lockdown secara perlahan, toko-toko kembali dibuka setiap hari dengan kapasitas lebih kecil dan pelanggan harus diukur suhu tubuhnya. Di kebanyakan toko-toko baju itu, kamar-kamar pas masih harus ditutup.​

Salah satu gerai Timbuk2 di Manhattan, New York. (Foto: dok).
Salah satu gerai Timbuk2 di Manhattan, New York. (Foto: dok).

Michelle Nadeau, dari Timbuk2, toko yang menjual tas ransel dan berbasis di San Fransisco mengatakan, "Kami merasa optimis namun cemas. Kami mulai menjual produk di halaman depan toko kami. Kami tidak tahu apa artinya jika setiap orang mulai menelepon toko kami….namun kami merasa senang karena itu menunjukkan adanya kemajuan."

Para pakar mengatakan, saat dibuka kembali, kebanyakan ritel fesyen akan mengadakan diskon besar-besaran, tidak saja melalui online tapi juga di toko. [lj/jm]

Recommended

XS
SM
MD
LG