Tautan-tautan Akses

Negara-negara Arab Tak Libatkan Politisi Lebanon dalam Pengiriman Bantuan


Warga Lebanon berkumpul untuk menghormati 150 korban tewas dalam ledakan dahsyat di Beirut, hari Jumat (11/8).

Negara-negara Arab menawarkan bantuan finansial dan natura kepada Lebanon, menyusul kehancuran pusat komersial di Beirut: bisnis, perkantoran, dan pelabuhan akibat ledakan dahsyat minggu lalu.

Para analis Timur Tengah mengatakan ada harapan bahwa bantuan kemanusiaan yang mereka tawarkan, yang tidak lewat pemerintah, akan ikut melemahkan elit penguasa yang telah mempertahankan sistem patronase dan salah urus keuangan selama beberapa dekade sejak akhir perang saudara 1975-1990.

Negara-negara Arab termasuk Yordania, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan lainnya telah mengirimkan berton-ton makanan dan obat-obatan, peralatan dan tim medis, serta rumah sakit lapangan untuk membantu warga Lebanon yang terkena dampak parah ledakan yang menewaskan banyak orang dan menyebabkan ratusan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal.

Irak telah mengirimkan 800.000 liter bensin ke Lebanon untuk membantu pengoperasian generator listrik. Qatar adalah negara donor tunggal terbesar yang menyumbang 50 juta dolar dari 297 juta yang dijanjikan dalam bantuan internasional.

Analis politik Yordania Labib Kamhawi mengatakan kepada VOA bahwa sebagian besar donor Arab Sunni sengaja menghindari para politisi korup Lebanon dan langsung menyampaikan bantuan kepada rakyat. “Jadi, mengabaikan pemerintah Lebanon berarti berkontribusi pada upaya melemahkan pemerintah ini lebih jauh dan menimbulkan keraguan atas legitimasi dan kredibilitasnya. Hal ini dapat digunakan sebagai awal untuk memperlemah negara Lebanon itu sendiri, dan membuka kemungkinan perang saudara atau perpecahan di Lebanon.”

Kabinet Lebanon telah mengundurkan diri karena ledakan dahsyat pekan lalu di pelabuhan Beirut, dan beberapa menteri mengundurkan diri atau menyatakan niat mereka untuk mundur.

Kolumnis Baria Alamuddin dan lainnya yang menulis di harian Saudi, Arab News, mengatakan tidak ada seorang pun di kawasan itu yang dapat dibodohi oleh milisi Syiah, Hizbullah, di Lebanon yang didukung Iran, yang memegang kendali kekuasaan di pemerintahan saat ini dan “mengontrol pelabuhan Lebanon, bandara dan perbatasan nasional, “dan memiliki” praktik standar untuk menyimpan senjatanya, di area yang ramai, sebagai perisai manusia terhadap serangan udara Israel yang tak terhindarkan.”

Alamuddin mengatakan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah ingin menyangkal keterlibatan dalam ledakan itu. Ia mengatakan, “Bahkan jika Hizbullah tidak berperan dalam menimbun bahan peledak itu, setidaknya Hizbullah gagal meningkatkan kewaspadaan, meskipun mereka berpura-pura untuk bertindak sebagai pelindung Lebanon.

Alamuddin memperingatkan, “Lebanon telah memburuk dengan kecepatan yang mengerikan sehingga sekarang jelas bagi semua orang bahwa hanya perubahan arah yang radikal yang dapat menyelamatkan bangsa ini,”

Kendati demikian, Kamhawi mengatakan pemerintah Lebanon sudah lepas dari benang kusut dengan pengunduran diri para menteri dan anggota parlemen serta ancaman yang dikeluarkan oleh Nasrallah kepada siapa pun yang mencoba menuduh Hizbullah bertanggung jawab atas ledakan itu, baik secara langsung maupun tidak langsung. Meskipun banyak yang tidak ingin melihat konflik meletus lagi, yang menjadi pertanyaan akankah orang Lebanon dapat bergandengan tangan dan melupakan garis sektarian demi persatuan?

“Mungkin tidak ada cukup polarisasi pada tataran bawah, tetapi pada tataran atas terdapat polarisasi yang sangat, sangat jelas. Jika, misalnya, orang Kristen atau Sunni merasa bahwa mereka tidak dapat menyingkirkan Hizbullah dan hegemoninya atas negara itu, saya pikir mereka akan menyatakan perang saudara,” tambah Labib.

Alamuddin memperingatkan bahwa, “Nasrallah berkepentingan untuk membaca tanda-tanda peringatan dan mengakui bahwa upaya untuk mendominasi Lebanon telah menjadi bumerang, karena hanya akan menyatukan warga melawan gerakan itu dan menyeret Lebanon ke ambang kehancuran. [lt/jm]

XS
SM
MD
LG