Tautan-tautan Akses

Nakes dan Pandemi: Mereka Menyelamatkan, Mereka Tak Terselamatkan


Para petugas medis sedang memeriksa sampel darah di laboratorium Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta, 1 September 2016. (Foto: Reuters)

Dokter spesialis bedah di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta berinisial NJ, meninggal dunia karena infeksi virus corona, Minggu (23/8) pukul 18.50. Dia tidak mampu bertahan setelah dirawat selama 10 hari di RSUP dr Sardjito, Yogyakarta. NJ menjadi dokter ke 89 yang meninggal karena dinyatakan positif Covid-19.

Ketua Tim Airborne Disease RSUP Dr Sardjito, Ika Trisnawati. (Foto: Humas Sardjito)
Ketua Tim Airborne Disease RSUP Dr Sardjito, Ika Trisnawati. (Foto: Humas Sardjito)

Dokter sekaligus Ketua Tim Airborne Disease RSUP Dr Sardjito, Ika Trisnawati memastikan, rumah sakit sudah memberikan upaya terbaik. Pasien masuk ke Sardjito pada 14 Agustus dan dua hari kemudian dipindahkan ke ruang perawatan khusus. Pemindahan dilakukan dengan pertimbangan, pasien memiliki penyakit penyerta meski ketika itu kondisinya masih cukup baik.

“Tidak menunggu kondisi memburuk. Dengan pemantauan ketat kemudian juga dengan pemberian terapi yang agresif. Artinya, pilihan yang terbaik untuk pasien Covid, treatment-nya ini tersedia di Sardjito, dan itu sudah kita berikan sejak awal,” papar Ika.

Sayang, upaya tersebut tidak menuai hasil seperti diharapkan. Dokter spesialis bedah itu akhirnya meninggal dunia.

Sektor Kesehatan Terdampak

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat hingga Minggu (23/8) sudah ada 90 dokter meninggal dunia karena infeksi virus corona. Terbanyak ada di Jawa Timur dengan 26 dokter meninggal, disusul Sumatera Utara 13 dokter, Jakarta 11 dokter, Jawa Tengah sembilan dokter dan Jawa Barat delapan dokter. Selain itu ada delapan dokter gigi, lebih dari 60 perawat dan sekitar 15 bidan yang juga gugur karena sebab sama.

Layanan khusus pasien Covid-19 di Rumah Sakit Akademik UGM, Yogyakarta. (Foto: Humas UGM)
Layanan khusus pasien Covid-19 di Rumah Sakit Akademik UGM, Yogyakarta. (Foto: Humas UGM)

Di Yogyakarta, Puskesmas silih berganti ditutup karena tenaga kesehatannya positif corona. Hari Selasa (25/8), giliran Gadjah Mada Medical Center yang harus melakukan dekontaminasi dan skrining ke seluruh pegawai. Langkah itu dilakukan setelah salah satu tenaga kesehatannya positif Covid-19.

Ketua Satgas Covid-19 UGM, Dr. dr. Rustamadji, M.Kes., mengatakan, pihaknya juga telah menyiapkan tempat isolasi mandiri bagi karyawan yang memerlukan.

Nakes dan Pandemi: Mereka Menyelamatkan, Mereka Tak Terselamatkan
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:29 0:00

“Harapannya setelah dekontaminasi, layanan akan kembali berjalan normal. Untuk Nakes (tenaga kesehatan, red) yang positif Covid-19 ini telah menjalani isolasi mandiri,” kata Rustamadji.

Pada Selasa (25/8), Gugus Tugas Covid 19 Yogyakarta mengumumkan tambahan 41 kasus baru positif corona. Dari jumlah itu, 22 orang adalah mereka yang bekerja di sektor kesehatan. Sedangkan Rabu (26/8) dari tambahan 16 kasus positif, 4 di antaranya dari hasil skrining karyawan kesehatan. Kelompok ini terdiri dari dokter, perawat, atau karyawan administrasi di pusat layanan kesehatan seperti rumah sakit, Puskesmas atau klinik. Setidaknya dalam satu bulan terakhir, jumlah pasien dari kelompok kesehatan meningkat drastis di Yogyakarta.

Tim TRC BPBD DIY berdoa usai memakamkan warga dengan standar COVID 19 di Yogyakarta, 26 Mei 2020. (Foto courtesy: TRC BPBD DIY)
Tim TRC BPBD DIY berdoa usai memakamkan warga dengan standar COVID 19 di Yogyakarta, 26 Mei 2020. (Foto courtesy: TRC BPBD DIY)

Juru Bicara Gugus Tugas Covid 19 Yogyakarta, Berty Murtiningsih menyebut, tracing di sektor kesehatan memang sedang giat dilakukan. “Skrining karyawan kesehatan sudah sekitar 8.000-an, yang positif sekitar dua persen. Untuk Puskesmas sudah selesai, sedangkan yang rumah sakit masih berlangsung,” kata Berty pada 24 Agustus.

Berdasarkan laporan harian yang disampaikan Gugus Tugas Covid 19 DIY, sejak 31 Juli hingga 24 Agustus, tercatat ada 170 pekerja sektor kesehatan yang positif. Tambahan 22 kasus pada Selasa dan 4 pada Rabu menjadikan total jumlah pasien positif corona dari sektor ini sekurangnya 196 orang.

Perketat Aturan Merawat

Upaya pencegahan sudah dilakukan untuk meminimalisir penularan virus corona ke kalangan medis. Di RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta misalnya, diberlakukan aturan ketat terkait siapa yang merawat pasien corona disana, seperti disampaikan direktur rumah sakit ini, Rukmono Siswishanto.

Direktur RSUP dr Sardjito, Rukmono Siswishanto. (Foto: Humas Sardjito)
Direktur RSUP dr Sardjito, Rukmono Siswishanto. (Foto: Humas Sardjito)

“Untuk menyelamatkan dokter-dokter kita supaya tidak tertular Covid, kita sudah membuat aturan untuk dokter-dokter yang usianya sudah di atas 60, itu tidak boleh merawat pasien Covid. Atau di bawah usia itu, tetapi memiliki komorbid, itu juga tidak boleh. Atau orang hamil, itu juga tidak kami perkenankan merawat pasien secara langsung,” kata Rukmono.

Pencegahan juga dilakukan dengan kewajiban pemakaian alat pelindung diri (APD) dengan standar yang sama untuk setiap petugas kesehatan. Bagi mereka yang merawat pasien positif corona, baik itu perawat maupun dokter, APD level 3 atau yang memiliki standar keamanan tertinggi wajib dikenakan.

Namun, karena tenaga kesehatan juga berinteraksi di luar lingkungan rumah sakit, upaya pencegahan juga dilakukan dengan sistem peringatan.“Kalau petugas itu ada gejala-gejala, influenza, batuk, pilek dan sebagainya, di Sardjito ada sistem dia harus melaporkan untuk nanti di-surveilanced. Akan dicek apakah dia perlu di-swab atau tidak. Sehingga kalau ada kecurigaan, dia harus segera melaporkan secara langsung,” tambah Rukmono.

Muhammadiyah Beri Catatan

Hingga hari ini, Muhammadiyah mencatat telah kehilangan tujuh tenaga kesehatan di rumah sakit yang mereka kelola dan juga milik Aisyiah. Ketua Muhammadiyah Covid-19 Command Center (MCCC) Agus Syamsudin meminta pemerintah memberi perhatian lebih besar.

Untuk menekan angka korban, Agus meminta setiap individu mematuhi protokol kesehatan yang sudah ditetapkan. MCCC juga mencatat, dari hasil tracing yang dilakukan, penularan di kerumunan relatif menonjol dan karena itu pemakaian masker harus lebih digiatkan.

Ketua Muhammadiyah Covid-19, Command Center (MCCC) Agus Syamsudin. (Foto: screenshot)
Ketua Muhammadiyah Covid-19, Command Center (MCCC) Agus Syamsudin. (Foto: screenshot)

Kepada direksi rumah sakit, MCCC berharap kedisiplinan protokol diperhatikan. Rumah sakit juga harus segera mengambil tindakan yang diperlukan, jika terjadi penularan di lingkungannya. Sedang kepada pemerintah, MCCC merekomendasikan kajian lebih mendalam terhadap tingginya kasus kematian di kalangan tenaga kesehatan.

“Saya menghimbau pemerintah membuat kajian khusus serta prosedur tambahan jika diperlukan, untuk mencegah penularan pada tenaga kesehatan. Mendidik tenaga kesehatan memerlukan waktu, keahlian tertentu dan biaya, juga tidak bisa dipercepat. Oleh karena itu, perlindungan kepada tenaga kesehatan menjadi keniscayaan yang harus dipenuhi oleh kita semuanya,” kata Agus dalam konferensi pers hari Rabu (26/8).

Jam Kerja Dibatasi

Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito menyatakan, pemerintah ikut berbela sungkawa atas meninggalnya tenaga kesehatan. Upaya perlindungan kepada Nakes selalu ditingkatkan oleh pemerintah, kata Wiku, antara lain dengan memastikan jam kerja mereka dibatasi.

Juru Bicara Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2020. (Foto: Setpres RI)
Juru Bicara Satgas Covid-19 Prof Wiku Adisasmito dalam telekonferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2020. (Foto: Setpres RI)

“Dan apabila ada kekurangan tenaga kesehatan, maka akan dilakukan pergerakan tenaga kesehatan dari fasilitas kesehatan yang lainnya. Begitu juga dengan kapasitas dari fasilitas kesehatan, dalam hal ini rumah sakit, juga kita upayakan untuk tidak terkonsentrasi di tempat-tempat tertentu,” kata Wiku dalam keterangan resmi harian, Selasa (25/8).

Pemerintah juga terus mengadakan pelatihan bagi dokter dan tenaga kesehatan untuk memastikan mereka menjalankan protokol kesehatan dengan baik. “Kami tetap memberikan perhatian penuh kepada tenaga kesehatan agar betul-betul dapat menjalankan tugas dengan aman dan tidak terbebani dengan beban pekerjaan yang tinggi,” tambah Wiku.

Pengurangan jam kerja menjadi solusi yang ditawarkan pemerintah, karena sejumlah analisa menyebut kelelahan menjadi faktor meninggalnya nakes selama pandemi. Namun, catatan dari Muhammadiyah juga perlu diperhatikan, karena kesadaran masyarakat juga penting untuk menyelamatkan nasib para pekerja di rumah sakit. Tentu menjadi ironi tersendiri, jika mereka yang berjibaku menyelamatkan ribuan pasien menuju kesembuhan, akhirnya justru gugur satu persatu tak terselamatkan dari serangan virus ini. [ns/ab]

Lihat komentar (1)

Forum ini telah ditutup.

Recommended

XS
SM
MD
LG