Tautan-tautan Akses

Nahid Ayoub, Bantu Tuna Wisma Peroleh Bantuan Pangan


Bantuan Pangan untuk Tuna Wisma di Detroit. (Foto: VOA/Videograb)

Biro Sensus AS menunjukkan lebih dari sepertiga penduduk Detroit di negara bagian Michigan hidup di bawah garis kemiskinan - dan lebih dari separuh anak di bawah usia 18 tahun tidak punya cukup uang untuk makan.

Wartawan VOA Anush Avetisyan memperkenalkan seorang perempuan yang berupaya membuat perbedaan, menggunakan uangnya sendiri dan mendirikan sebuah LSM untuk memberi makan orang-orang yang kelaparan.

Setiap minggu ratusan tuna wisma mengantri di Howard Street untuk mendapatkan makanan hangat yang baru dimasak. Salah seorang di antaranya adalah nenek bernama Genice.

“Setiap akhir pekan saya mengurus cucu, sehingga perlu memberi mereka makan. Kupon diskon untuk belanja makanan pokok tidak cukup. Apa yang saya dapat dari Project Dignity sangat membantu," kata Genice.

Nahid Ayoub, Bantu Tuna Wisma Peroleh Bantuan Pangan. (Foto: VOA/videograb)
Nahid Ayoub, Bantu Tuna Wisma Peroleh Bantuan Pangan. (Foto: VOA/videograb)

Selama enam tahun terakhir, Nahid Ayoub menjalankan misi sosial ini, seminggu sekali. Nahid tergugah untuk mendirikan LSM “project dignity outreach”, setelah bertemu seorang veteran tuna wisma.

“Saya lewat jalan yang sama setiap berangkat kerja. Tapi entah mengapa hari itu saya salah jalan. Di sebelah kiri saya duduk seorang tuna wisma di kursi roda. Bahkan jika lampunya merah, saya tidak akan berhenti. Saya akan langsung pergi. Suatu saat ia marah, dan saya balik mencerca. “Cari kerja dong!” Di pangkuannya ada selimut. Ia menyibak selimut itu sambil menjawab, “Kalau saya punya kaki, pasti saya cari kerja!” Saya sangat malu. Saya tidak bisa lupa dan selalu terpikir tentang dia,” jelasnya.

Nahid meninggalkan karir bergaji tinggi di bidang periklanan, di Detroit News and Free Press. Dia menggunakan uangnya sendiri untuk mulai memberi makan warga tuna wisma.

“Dari sinilah semua rasa kasih dan rencana datang. Dapur ini,” ungkap Nahid.

Nahid membelanjakan sekitar empat hingga enam juta rupiah per minggu untuk belanja bahan makanan. Awalnya ia menghabiskan tabungannya, lalu mulai menjual barang-barang berharga. Tapi tetap, Nahid tidak berhenti. Dia lalu mendirikan lembaga non-profit dan lusinan relawan membantunya di dapur. Lelah dan biaya seolah tergantikan, setelah melihat betapa bersyukurnya para penerima bantuan tersebut.

Seorang tuna wisma bernama Frederick George Webster mengaku sangat bersyukur. “Makanan adalah berkah. Santapan rohani dan penyembuh. Saya bersyukur bisa makan untuk bertahan hidup,” katanya.

Bantuan pangan untuk tuna wisma di Detriot. (Foto: videograb)
Bantuan pangan untuk tuna wisma di Detriot. (Foto: videograb)

Demikian pula Angelica Booker. “Siapapun bisa menjadi miskin. Kamu. Saya. Butuh bantuan bukanlah pilihan karena kita tidak pernah bisa tahu,” akunya.

Tidak hanya memberi makan warga tuna wisma. Nahid pun berkeinginan membangun penampungan, memulai pelatihan yang membantu orang mencari kerja, bahkan klinik untuk perempuan dan anak-anak tuna wisma.

“Saran saya kepada masyarakat: jika bertemu tuna wisma, jangan lewat saja. Berhenti dan ngobrollah dengan mereka. Mata kita akan terbuka, bahwa tidak ada perbedaan antara kita dan tuna wisma itu. Ia adalah istri seseorang, suami seseorang, anak seseorang,” kata Nahib.

Walaupun tidak bisa menyelesaikan masalah tuna wisma dan kelaparan sepenuhnya, setidaknya Nahid memberikan sedikit rasa lega, seminggu sekali, lewat makanan segar dan hangat. [vm]

XS
SM
MD
LG