Tautan-tautan Akses

Museum di Washington DC Tampilkan Sejarah Islam di AS


Pada akhir dasawarsa 1930-an dan 1940-an komunitas imigran Muslim mulai membangun masjid di berbagai kota Amerika.
Pada akhir dasawarsa 1930-an dan 1940-an komunitas imigran Muslim mulai membangun masjid di berbagai kota Amerika.

Untuk meningkatkan pengertian akan Islam dan Muslim di Amerika, sebuah organisasi nirlaba mendirikan Islamic Heritage Museum and Cultural Center atau Museum Warisan dan Pusat Budaya Islam pertama di Amerika.

Museum Islam yang baru diresmikan di Washington DC bulan April lalu menampilkan sejarah Islam di Amerika. Informasi tersebut ditampilkan secara visual lewat pameran foto, dokumen, narasi dan objek lainnya, yang mencerminkan kebudayaan Islam yang kaya. Lewat lima galeri di museum ini para pengunjung diajak menjelajahi asal-usul dan perkembangan Islam di Amerika abad demi abad.

Salah satu Muslim pertama yang tiba di Amerika adalah Estevanico, pengembara dari Spanyol, pada tahun 1500-an. Pameran tersebut juga menampilkan sejumlah tokoh Muslim pada tahun 1700-an, seperti Job Ibn Dijallo, Muslim pertama di Amerika yang khatam Al-Quran.

Pada akhir dasawarsa 1930-an dan 1940-an komunitas imigran Muslim membangun mesjid di berbagai kota di seluruh Amerika. Sejak akhir tahun 1900-an hingga kini komunitas Muslim terintegrasi ke dalam masyarakat Amerika dengan beragam profesinya, seperti aktivis Malcolm X dan petinju Muhammad Ali.

Museum ini didirikan oleh “Collections and Stories of American Muslims” , organisasi nirlaba yang mengumpulkan berbagai artefak yang menunjukkan sejarah Muslim di Amerika. Kurator Museum tersebut, Amir N. Muhammad, menjelaskan, “Kami mulai mengumpulkan koleksi sejak tahun 1996. Kami keliling Amerika untuk mengumpulkan informasi tentang sejarah Muslim di Amerika. Kami mengunjungi berbagai institusi sejarah, makam-makam, dan lain-lain untuk melakukan riset tentang sejarah Muslim di Amerika.”

Muhammad menambahkan, selain untuk memberikan informasi sejarah, Museum ini juga bertujuan untuk mengikis Islamofobia, atau ketakutan akan Islam dan Muslim di kalangan warga Amerika.

“Museum ini ditujukan bagi warga Amerika untuk mempelajari tentang Islam dan Muslim, karena ada begitu banyak kesalahpahaman yang mereka miliki tentang Muslim. Untuk menunjukkan bahwa kami adalah bagian dari Amerika. Museum ini juga ditujukan bagi Muslim, karena banyak yang belum paham tentang sejarah dan karakter mereka sendiri. Jadi, supaya mereka merasa erat dengan Amerika,” ujar Muhammad.

Gene Hummel, warga Amerika non-Muslim, menyambut baik didirikannya Museum tersebut.

Ia mengatakan, “Bagus sekali. Museum ini menunjukkan bagaimana Muslim turut membangun dan menciptakan sejarah Amerika. Menceritakan sejarah yang tidak diketahui banyak orang.”

Pada masa mendatang pameran ini akan dikembangkan dengan menampilkan sejarah dan kontribusi perempuan Muslim di Amerika, sejarah Muslim hispanik di Amerika, dan beragam budaya Islam dari berbagai negara.

Islamic Heritage Museum and Cultural Center berlokasi di 2315 Martin Luther King Ave. SE, Washington, DC.

XS
SM
MD
LG