Tautan-tautan Akses

Mudik Tak Mudik di Masa Pandemi


Evia Nugrahani Koos dan keluarga. (Foto:Evia Nugrahani Koos)

Berpuasa dan berlebaran bersama keluarga di Tanah Air kerap menjadi impian para perantau karena mudik memang merupakan tradisi yang menyertai perayaan Lebaran di Indonesia. Namun, pandemi virus corona tahun ini menghadang rencana mudik para diaspora Indonesia. 

Bukan baru sebulan dua bulan ini Evia Nugrahani Koos merencanakan mudik ke Surabaya untuk berlebaran, sesuatu yang sudah belasan tahun tidak ia alami.

Mahasiswi dan pemilik bisnis pembuatan tas dari bahan-bahan daur ulang yang bermukim di Duluth, Minnesota ini, bahkan telah membeli tiket pulang ke Indonesia setahun silam. Ia berencana mudik pada Mei dan berlibur selama tiga bulan.

Ketika penyebaran virus corona di Amerika mulai tidak terkendali dan di Indonesia wabah virus tersebut mulai merebak, terbayang olehnya sang ibu yang berusia lanjut. Namun keluarganya punya saran untuk Evi.

“Mereka justru mendukung, menyarankan jangan mudik dulu. Karena ini pandemi dan demi kebaikan semua orang. Jangan pulang, kasihan orang di Indonesia," tutur Evia.

Evia Nugrahani Koos bersama keluarga. (Foto: Evia Nugrahani Koos)
Evia Nugrahani Koos bersama keluarga. (Foto: Evia Nugrahani Koos)

April lalu ia mendapat kabar bahwa penerbangannya ditiadakan. Meski kecewa, ia menenangkan diri karena sadar bahwa semua orang terkena dampak pandemi ini.

Dengan terisak, ia mengatakan gemas pada orang-orang yang tidak mematuhi protokol menjaga jarak aman di Indonesia. Ia berharap orang-orang lebih memikirkan orang lain, dengan keluar rumah apabila benar-benar perlu, dan tidak memikirkan tentang baju baru, makanan khas Lebaran yang menurutnya tidak penting sekarang ini.

Saat Lebaran, ia berencana melakukan video call dengan keluarganya.

“Selamat merayakan hari Lebaran, semoga kita semua diberi kesehatan, kesabaran dan semoga amal puasa tahun ini diterima oleh Allah SWT dan semoga kita bisa bertemu lagi bulan Ramadan tahun depan,” ujarnya.

Mimin Amas

Lain lagi kisah Mimin Amas. Sejak enam bulan silam ia sudah menyusun rencana pulang ke Karawang dengan tiga temannya yang sama -sama ingin bertemu keluarga pada hari raya. Pada Februari lalu, mereka membeli tiket untuk keberangkatan sekitar sepulih hari sebelum Lebaran dan berencana tinggal selama lima minggu minggu di Tanah Air.

Mimin Amas. (Foto: Mimin Amas)
Mimin Amas. (Foto: Mimin Amas)

Begitu wabah merebak dan restriksi seperti lockdown diberlakukan di berbagai tempat, warga Fairfax, Virginia, ini mulai mengkhawatirkan keadaan dirinya sendiri. Pada akhir Maret ia pun memutuskan untuk membatalkan kepulangannya.

“Ya saya jadi sedih, keluarga sangat menunggu kedatangan saya karena nggak ketemu sudah dua tahun. Terus dia (keluarga.red) sangat kecewa saya batalkan karena keadaan ini. Tapi saya jelaskan lama-lama dia menyadari karena tidak mau saya di perjalanan ada sesuatu,” ujarnya.

Mudik Tak Mudik di Masa Pandemi
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:59 0:00

Mimin sudah menyiapkan semua keperluan Lebaran di Tanah Air. Sebagian oleh-oleh untuk anak cucunya di Indonesia, juga pakaiannya selama di sana telah ia kirimkan sejak Januari lalu. Belum lagi oleh-oleh yang ia beli untuk dibawa bersamanya kala mudik.

Pandemi ini, telah menyebabkan anak-anaknya hanya tinggal di rumah mereka masing-masing di Bandung dan di Karawang. Ia berencana menyapa anak-anak dan keluarga yang ia rindukan melalui video call pada hari Lebaran.

“Jadi karena saya juga cancel, dia (keluarga.red) nggak bisa kumpul. Cuma saya ke semua keluarga ‘Minal Aidin wal Faizin’, mohon maaf lahir dan batin dari mama. Dari Amerika, mama sangat merindukan, mama kangen, kangen sekali ingin memeluk keluarga semua di Indonesia,” kata Mimin.

Kosimah Hazim

Kosimah Hazim. (Foto: Kosimah Hazim)
Kosimah Hazim. (Foto: Kosimah Hazim)

Diaspora lainnya adalah Kosimah Hazim. Ia berancang-ancang untuk mudik ke Cilacap pada Januari lalu dan membeli tiket kepulangannya pada Februari. Warga Fairfax, Virginia ini sengaja mudik karena ingin bertemu ibundanya yang sedang sakit dan berencana untuk tinggal selama enam minggu di tanah air. Harapan untuk bertemu ibundanya pada hari raya ini pupus, karena sang ibu meninggal dunia pada bulan Maret lalu.

Wabah virus corona dan berpulangnya ibunda, membuat perempuan yang berbisnis baju dan makanan ini pasrah saja ketika mendapat kabar tiket kepulangannya dibatalkan oleh maskapai penerbangannya. Anak-anaknya di Indonesia juga memintanya untuk tidak pulang, karena berbagai pembatasan yang diberlakukan di Indonesia.

Seraya menyatakan rencananya untuk bersilaturahmi bersama keluarga dengan video call pada hari Lebaran.

“Pesanku untuk keluarga, karena aku belum bisa mudik, pesannya cuma jaga kesehatan. Selamat Lebaran. Insyaa Allah nanti kalau (wabah.red) sudah reda, kita pulang bertemu lagi," kata Kosimah. [uh]

XS
SM
MD
LG