Tautan-tautan Akses

Mobil Nasional: Riset Kampus Melesat, Produksi Mobil Esemka Tersendat


Mobil riset kampus UNS (Foto: VOA/Yudha)

Sebuah perguruan tinggi mengucurkan anggaran miliaran rupiah untuk riset mobil buatannya.

Dua mobil prototipe karya mahasiswa Universitas Sebelas Maret UNS Solo yang tergabung dalam Tim Bengawan akan bersaing di kompetisi mobil tingkat Asia di Singapura, awal bulan depan. Dua mobil ini dikemudikan dua mahasiswa fakultas Teknik, mengelilingi kompleks gedung Rektorat kampus milik pemerintah ini, awal pekan ini. Mereka akan berkompetisi dengan para mahasiswa dari berbagai negara di dunia untuk kategori mobil paling hemat bahan bakar.

Salah seorang anggota tim perancang mobil tersebut, Aulia Madjid, mengatakan mobil rancangan timnya ini membutuhkan 1 liter Bahan Bakar untuk jarak tempuh 300 kilometer.

Mobil rakitan ESEMKA produksi siswa SMK Solo, Jawa Tengah (Foto: dok).
Mobil rakitan ESEMKA produksi siswa SMK Solo, Jawa Tengah (Foto: dok).

“Mobil prototipe kami ini dengan bahan bakar setara satu liter bisa mencapai jarak sejauh 250-300 kilometer. Nanti di kejuaraan Asia di Singapura, Maret mendatang, ada 21 negara dengan tim mencapai 30-an. Jika dapat juara 1,2, atau 3 di kompetisi itu, akan memiliki tiket menuju kejuaraan dunia mobil irit bahan bakar di London, pertengahan tahun ini,” kata Aulia Madjid.

Perguruan tinggi di Indonesia terus mengembangkan teknologi mobil listrik, mobil irit BBM, dan berbagai inovasi lainnya. Rektor Universitas Sebelas Maret UNS Solo, Profesor Ravik Karsidi mengungkapkan anggaran pengembangan mobil buatan kampus ini sekitar 3 hingga 4 Miliar rupiah per tahun.

Baca juga: Dukung Industri Mobil Nasional, Pemerintah Targetkan Kurangi Pengangguran Terdidik

Menurut Ravik yang pernah menjadi ketua Forum Rektor Indonesia, kampus sebagai pusat riset teknologi tak menampik kemungkinan perguruan tinggi mengembangkan sistem teaching factory atau pabrik produksi mobil.

“ini namanya dana riset mahasiswa, didampingi para dosen ahli, mereka akan berkompetisi ke luar negeri, besok Singapura maupun London, kita siapkan dana Global Challenge Youth sekitar tiga miliar rupiah lebih. Ini kan juga sesuai arahan Kementerian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi yang mendukung Universitas atau perguruan tinggi melakukan riset dan pengembangan teknologi mobil inovatif, rekayasa teknologi seperti ini. Ke depan memang harus dikaitkan antara Universitas dengan dunia usaha. Tugas perguruan tinggi kan riset teknologi, kalau memang layak diterapkan ya kerjasama dengan pengusaha untuk pengadaan kebutuhannya. Kami berharap UNS Solo ini memiliki teaching factory, kita punya pabrik sendiri produksi mobil rancangan tim ini. Kita gunakan dulu untuk kebutuhan transportasi kampus,” kata mantan ketua forum rektor UNS, Prof.Ravik.

Data Korlantas Mabes Polri pada tahun 2016 menunjukkan jumlah kendaraan di Tanah Air mencapai 128,3 juta unit. Angka itu mencakup mobil penumpang, bus, mobil barang, kendaraan khusus, dan sepeda motor. Produk Eropa, Amerika, Jepang, Korea dan China membanjiri pasar otomotif di Indonesia.

Baca juga: Kantongi Ijin Pemerintah, Mobil Rakitan ESEMKA Mulai Dipasarkan di Solo

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) menargetkan Indonesia dapat memproduksi mobil listrik sendiri pada 2020 mendatang. UNS Solo menjadi salah satu kampus yang menjadi proyek contoh pengembangan mobil listrik, selain Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya.

Anggaran besar terus dikucurkan untuk pengembangan mobil buatan kampus, namun kondisi sebaliknya terjadi disekolah menengah kejuruan. Salah satu SMK perakit mobil esemka di Solo berharap bisa dilibatkan kembali dalam produksi mobil esemka yang terhenti sejak tahun 2013 lalu. Juru bicara SMK, warga di Solo, Heru Raharjo, beberapa pekan lalu mengatakan produksi mobil esemka tipe Rajawali yang lolos uji produksi sebetulnya sempat diminati dan dibeli.

Mobil Nasional: Riset Kampus Melesat, Produksi Mobil Esemka Tersendat
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:04:37 0:00

“Produksi mobil esemka kami terhenti sejak tahun 2012-2013. Tidak ada dana untuk produksi lagi. Mobil rakitan esemka produksi kami sempat terjual ada 38 unit, itu ter-STNK, artinya resmi lolos uji produksi dan emisi. Laik jalan. Ada yang kami pakai sendiri untuk operasional sekolah. Jenis rajawali R1 dan R2. Sudah menyebar di Pati, Solo, Wonogiri, Malang, dan sebagainya. Dulu harganya 160-170 juta rupiah per unit," jelas Heru.

Saat ini sudah ada empat mobil esemka yang dipakai di sekolah tersebut. Bahkan mobil rakitan esemka yang pertama diproduksi pernah dipakai mantan Walikota Solo, Joko Widodo, yang kini menjabat Presiden. Mobil berplat merah nomor AD 2 A terpajang di depan halaman SMK ini. [ys/ab]

XS
SM
MD
LG