Tautan-tautan Akses

Misi Pekerja Seni Mengubah Arti Kata “Perempuan” dalam KBBI


Ika Vantianti, seorang seniman, menunjukkan jurnal buatan tangan yang bertuliskan 'untuk perempuan', saat menjadi mentor lokakarya jurnal kreatif online untuk perempuan. (Foto: Reuters/Willy Kurniawan)

Perempuan nakal, istri simpanan, pelacur, perempuan jahat - ini hanya sebagian dari sembilan contoh kata majemuk yang secara mengejutkan ditemukan oleh seniman perempuan, Ika Vantiani, di bawah kata 'perempuan' dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Kesembilan kata-kata tersebut adalah istilah-istilah bernada seksual dan menghina. Sebaliknya, untuk kata 'laki-laki', hanya ada satu contoh, yaitu 'laki-laki jemputan' yang artinya 'laki-laki yang dipilih sebagai menantu'. Untuk kata 'pria' juga hanya mencantumkan satu istilah: 'pria idaman.’

Sejak menemukan hal ini pada 2016, Ika berkampanye melalui karya seninya untuk melakukan perubahan. Dan sebagai bagian dari upaya tersebut, ia dengan tekun mengumpulkan edisi KBBI, yang disusun oleh lembaga pemerintah dan merupakan kamus standar yang digunakan di sekolah dan oleh para guru.

"Perempuan jalang, yang ini sebenarnya berarti pelacur. Itulah satu kata yang terus muncul di setiap edisi," katanya kepada Reuters.

"Fokusnya adalah pada contoh-contoh yang menyertakan kata-kata seperti pelacur atau jalang - artinya pelacur, perempuan yang menjual dirinya sendiri, perempuan jahat, perempuan simpanan."

Ika Vantianti, seniman yang mengenakan kaos yang menyerukan perubahan kata 'perempuan' pada kamus, berpose di sebuah kafe di Jakarta, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)
Ika Vantianti, seniman yang mengenakan kaos yang menyerukan perubahan kata 'perempuan' pada kamus, berpose di sebuah kafe di Jakarta, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

November lalu, Oxford University Press mengatakan akan mengubah arti kata untuk 'perempuan' dalam kamusnya untuk memasukkan deskripsi yang lebih positif dan aktif. Ika mengharapkan hal yang sama akan diterapkan pada KBBI.

Kampanye tersebut telah menarik perhatian pada, apa yang disebut para kritikus, sebagai budaya patriarki di Indonesia, negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.

Ika juga mendapat dukungan dari Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) yang tahun ini juga menyerukan revisi terhadap arti kata ‘perempuan.'

Bahasa, kata Komnas Perempuan, "memainkan peran penting dalam membangun nilai-nilai kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan."

Ika dan rekan prianya, Yolando Zelkeos Siahaya, mengangkat isu tersebut dalam rangkaian lokakarya dan pameran, termasuk di Galeri Nasional Indonesia pada 2018.

Salah satu karya mereka menampilkan lembaran akrilik bening dengan entri kata 'perempuan' di KBBI yang tercetak di atasnya sehingga penonton bisa membayangkan dirujuk dengan cara itu.

Ika Vantianti berbincang dengan rekannya Yolando Zelkeos Siahaya di sebuah kafe di Jakarta, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan
Ika Vantianti berbincang dengan rekannya Yolando Zelkeos Siahaya di sebuah kafe di Jakarta, 4 Maret 2021. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan

“Kebanyakan orang ketika melihat karya saya ini, mereka kaget,” kata Ika. "Mereka berkata: 'Saya tidak akan pernah berpikir bahwa begitulah definisi kata ‘perempuan' dalam kamus kita.'"

Bulan lalu karyanya, termasuk kaus yang meminta perubahan pada entri kata dan dikenakan saat pawai Women’s March pada 2020, memicu tanggapan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Badan Bahasa mengatakan penggunaan istilah itu berdasarkan data yang menunjukkan bahwa kata-kata tersebut termasuk yang paling sering digunakan berpasangan dengan 'perempuan.’

“Adapun gambaran sosial yang tidak ideal yang muncul dari penyajian informasi di kamus, itu pembahasan lain,” kata Badan Bahasa dalam pernyataan yang diunggah di situs web Kemendikbud.

Tanggapan tersebut membingungkan Nazarudin, ahli bahasa di Universitas Indonesia Nazarudin. Dia mengatakan bahwa data bahasa Indonesia yang dikumpulkan oleh Universitas Leipzig sejak 2013 menunjukkan ungkapan lain, seperti pemberdayaan perempuan atau hak-hak perempuan, jauh lebih sering digunakan.

"Pertanyaannya adalah, jenis data apa yang mereka punya?" dia bertanya, "Bagaimana bisa begitu negatif?"

Pencarian Google menunjukkan adanya 98 juta entri untuk 'hak perempuan' dibandingkan dengan hanya 481 ribu entri untuk perempuan jalang, kata lain untuk 'pelacur.’

Badan Bahasa mengatakan kepada Reuters bahwa selain data Leipzig, itu juga merujuk pada Malay Concordance Project (MCP) atau kumpulan teks Melayu klasik.

Ika mengatakan dia berharap perubahan.

"Saya tidak mengatakan saya ingin semuanya diubah menjadi kata-kata positif," katanya, "Tidak. Tapi saya ingin objektivitas dan percakapan yang nyata." [ah/ft]

Recommended

XS
SM
MD
LG