Tautan-tautan Akses

Minum Teh Panas Mungkin Kurangi Risiko Glukoma


Seorang perempuan berjalan di tengah lapangan yang penuh dengan daun teh yang sedang dikeringkan di perusahaan teh di Dening, Pronvisi Fujian, China, 2 April 2016. Para peneliti dari AS mengatakan orang-orang yang minum teh panas setiap hari lebih kecil berisiko terjangkit glukoma.

Orang-orang yang minum teh panas setiap hari lebih kecil berisiko terjangkit gejala glukoma, menurut para peneliti AS.

Dibandingkan peminum kopi, minuman bersoda dan es teh, peserta penelitian yang meminum secangkir atau lebih teh panas setiap harinya memiliki risiko terjangkit glukoma 74 persen lebih rendah, menurut laporan peneliti dalam British Journal of Ophthalmology.

"Glukoma bisa menyebabkan kebutaan, dan alangkah baiknya kalau bisa dicegah karena tidak bisa disembuhkan," kata peneliti utama, Dr. Anne Coleman, dari University of California, Los Angeles.

"Cara terbaik untuk menghindari glukoma adalah dengan memeriksa mata Anda," kata Coleman kepada Reuters dalam sebuah wawancara melalui telepon. "Tapi kami juga tertarik mempelajari kebiasaan sehari-hari dan apa yang bisa kita lakukan untuk menangani glukoma.

Glukoma adalah penyebab kebutaan tertinggi kedua di dunia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menjangkit 58 juta orang. Angka itu mencakup lebih dari tiga juta warga Amerika, dan hanya separuhnya yang mengetahui mereka menderita glukoma, menurut Yayasan Riset Glukoma. Kopi, atau kafein pada umumya telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko glukoma, walaupun penelitian terbaru tidak setuju dengan pendapat ini, menurut laporan Coleman dan koleganya.

Untuk mengkaji kaitan minuman tertentu yang mengandung kafein dengan glukoma, Coleman dan rekannya menganalisa data sampel dari lebih dari 10.000 orang di AS yang mewakili seluruh populasi.

Peserta Survey Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional sepanjang 2005-2006 menjawab pertanyaan tentang pola makan dan gaya hidup mereka, menjalani pemeriksaan medis, darah dan juga mata.

Menurut hasil survei, sekitar 1.700 peserta yang usianya lebih dari 40 tahun, diketahui tidak memiliki penyakit mata setelah menjalani pemeriksaan mata. Dalam kelompok ini, tim Coleman menemukan sekitar 5 persen, yaitu 82 orang, yang menderita glukoma.

Hampir separuh peserta melaporkan sering minum kopi, tapi kurang dari 10 persen minum teh panas setiap hari. Tim peneliti menemukan tidak ada hubungan antara konsumsi kopi, es teh, teh yang tidak mengandung kafein atau minuman bersoda dan kemungkinan menderita glukoma.

"Peminum teh disarankan terus minum teh dan tidak perlu berhenti karena takut terkena glukoma," kata Coleman. "Masuk akal, tapi kita lihat apakah fakta ini tetap bertahan pada penelitian-penelitian selanjutnya."

Penelitian di masa depan harus memperhatikan kebiasaan, aktivitas dan gizi yang mempengaruhi gaya hidup dan risiko glukoma, kata Idan Hecht dari Tel-Aviv University di Israel, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

"Dalam beberapa tahun terakhir, ketertarikan terhadap bagaimana perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi penyakit, meningkat tajam, yang kemudian diikuti oleh penelitian," kata Hecht pada Reuters melalui email.

Penelitian baru-baru ini menunjukkan vitamin C, E dan zinc bisa membantu penglihatan. Penelitian lain menunjukkan bahwa zat antioksidan yang terkandung dalam teh mungkin memberikan efek serupa, kata Hecht menambahkan.

"Pasien bisa dan sebaiknya terlibat aktif dalam penanganan penyakit mereka," kata Hecht. "Anda harus olah raga, makan makanan sehat dan mencoba cara-cara baru untuk memperbaiki kesehatan dan membahasnya dengan dokter Anda."

Faktor lingkungan juga berperan dalam risiko terjangkit glukoma, kata Dr. Ahmad Aref dari University of Illinois di Chicago.

"Seiring bertambahnya usia penduduk, kita harus memikirkan faktor-faktor lain yang bisa membantu, khususnya membantu kesehatan lewat kegiatan fisik," kata dia menjelaskan kepada Reuters melalui telepon.

Pendekatan medis dan non-medis adalah kunci untuk mengobati penyakit di masa depan, kata Aref menambahkan.

"Glukoma adalah penyakit yang sulit ditangani karena kita tidak bisa mengembalikan penglihatan yang sudah hilang," ujarnya. "Yang bisa kita lakukan adalah mencegahnya menjadi memburuk, dan kami ingin membantu pasien mencegah penyakit." [dw]

XS
SM
MD
LG