Tautan-tautan Akses

Microlibrary Warak Kayu Curi Perhatian Dunia


Microlibrary Warak Kayu di Semarang menggabungkan konsep rumah panggung tradisional Indonesia dan sistem konstruksi Zollinger Bauweise Jerman. (courtesy to : Kei/fotografer SHAU Indonesia).

Sebuah perpustakaan kecil di Semarang mencuri perhatian dunia. Microlibrary Warak Kayu, yang terletak di samping Taman Kasmaran, tidak jauh dari Kampung Pelangi, menjadi salah satu finalis "Architizer A+ Awards" untuk arsitektur perpustakaan terbaik di dunia.

Microlibrary Warak Kayu bersaing ketat dengan Capsule Hotel in Rural Library di Zhejiang, China, Architecture Library di Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand, Hunters Point Library di Queens, New York dan Billie Jean King Main Library di Long Beach, California.

Berbeda dengan keempat perpustakaan itu, Microlibrary Warak Kayu yang memiliki misi utama menciptakan ruang multi-fungsi dengan desain dan bahan ramah lingkungan guna mendorong minat baca warga, terutama anak-anak, di lingkungan berpenghasilan rendah, dibangun dengan melibatkan banyak unsur.

SHAU (Suryawinata Haizelman Architecture Urbanism) Indonesia merancang arsitektur bangunan, PT Kayu Lapis Indonesia memasok kayu-kau prefabrikasi hasil olahan kayu limbah pabrik yang sudah tidak terpakai, sementara pemerintah daerah Semarang menyediakan lahan dan ijin pembangunan, dan sebuah perusahaan swasta menanggung biaya pembangunannya. Ada pula Harvey Center, sebuah kelompok derma yang mengelola perpustakaan ini agar dapat dipergunakan warga tanpa biaya sama sekali.

Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann, bangga Microlibrary Warak Kayu jadi finalis Architizer A+ Awards 2020. (Courtesy: Pribadi.)
Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann, bangga Microlibrary Warak Kayu jadi finalis Architizer A+ Awards 2020. (Courtesy: Pribadi.)

Diwawancarai VOA Sabtu malam (25/7), pendiri SHAU Indonesia, Daliana Suryawinata dan Florian Heinzelmann mengatakan sangat haru dan bangga dapat terpilih menjadi salah satu finalis arsitektur perpustakaan terbaik di "The Architizer A+ Awards", kompetisi yang memusatkan perhatian pada arsitektur dan produk arsitektur terbaik.

Architizer A+ Awards ini banyak kategorinya dan kami memberanikan diri masuk ke kategori utama, yaitu perpustakaan. Begitu kami masuk dan melihat saingannya, wah hebat-hebat, arsitek kelas dunia. Ada dua arsitek yang memang kami kagumi, ada arsitek Thailand dan China yang juga bagus sekali. Yah semoga votingnya banyak dan kami bisa menang,” ujar Daliana.

Paduan Konstruksi Indonesia dan Jerman

Microlibrary Warak Kayu seluas 90 meter per segi dengan tinggi 6,65 meter ini menggabungkan desain rumah panggung tradisional Indonesia yang terbuka, dengan sistem konstruksi fasad dari Jerman yaitu Zollinger Bauweise yang dikembangkan pada tahun 1920an. Teknik ini mengatur alur ventilasi udara, pencahayaan dan multi-fungsi suatu ruangan.

“Saya sangat terpesona dengan sistem konstruksi Zollinger Bauweise ini karena menggabungkan keanggunan dan kesederhanaan tertentu dalam suatu logika yang menarik, bahwa ada tiga papan yang disatukan dengan satu atau dua sekrup,” ujar Florian yang memang berasal dari Jerman.

Desain Microlibrary Warak Kayu di Semarang. (Foto courtesy: Kei/fotografer SHAU Indonesia)
Desain Microlibrary Warak Kayu di Semarang. (Foto courtesy: Kei/fotografer SHAU Indonesia)

Istrinya, Daliana, menambahkan bahwa setelah merefleksikan bentuk bangunan dari luar yang seperti bersisik, tampak seperti mahkluk mistis “Warak Ngendog” yang dalam mitologi Semarang. “Warak Ngendog” merupakan makhluk rekaan pemersatu beragam unsur etnis yaitu China, Arab, Jawa dan lainnya, “yang sering ditampilkan dalam beragam pertunjukkan budaya di Semarang dan kami kagumi. Dan kini ada kesesuaian dengan bangunan yang kami buat.”

Mendorong Budaya Literasi Tak Mudah

Belajar dari pembangunan Microlibrary Bima di Bandung, Jawa Barat, yang juga berbentuk rumah panggung tetapi menggunakan ribuan ember plastik sebagai dinding bangunan dan bagian bawahnya digunakan untuk beragam aktivitas, Florian Heinzelmann juga terinspirasi untuk melakukan hal serupa di Semarang.

“Kami pernah membangun Taman Bima yang juga menggunakan desain rumah panggung. Ketika itu kami membangun rumah panggung karena tidak banyak lahan yang tersisa di kawasan itu, sudah ada panggung dan sebuah lapangan bola berukuran kecil. Jika kami memaksakan membangun perpustakaan konvensional maka panggung atau lapangan sepakbola harus ditutup, ini mengurangi keinginan orang untuk datang ke kawasan itu karena ada salah satu bangunan yang hilang," jelasnya.

"Lalu kami merefleksikan bentuk bangunan itu dengan rumah panggung yang memang benar-benar memberi beragam manfaat karena ada ruangan di bagian atas di mana kita bias duduk-duduk, tetapi juga ada ruang-ruang di bagian bawah yang lebih fleksibel di mana bisa menjadi tempat bermain karena ada ayunan kayu, menjadi bengkel prakarya, tempat pameran, tempat untuk nonton film atau kelas-kelas diskusi. Sementara bagian perpustakaannya tetap tidak terganggu karena ada di bagian atas,” imbuh Daliana.

Menurut Daliana, konsep rumah panggung sebagai microlibrary ini terbukti menarik perhatian warga, khususnya anak-anak, untuk datang dan memanfaatkan bangunan itu tidak saja sebagai perpustakaan.

“Di Indonesia, membaca khan belum menjadi suatu hal yang populer dilakukan. Jadi bagaimana kita bisa membuat anak-anak tertarik datang ke perpustakaan dan membaca. Mungkin awalnya dengan memberikan ruang-ruang bermain yang memang kurang di Indonesia, sehingga anak-anak mau datang. Jadi kita disainkan suatu ruang di mana mereka bisa tidur-tiduran di atas jaring di bagian atas, ada ayunan besar untuk bermain di bagian bawah," tuturnya.

Microlibrary Warak Kayu berupaya menarik minat warga, khususnya anak-anak, untuk datang ke perpustakaan, tidak saja untuk membaca, tetapi juga melakukan aktivitas lain seperti diskusi, nonton film, bengkel prakarya dll. (Courtesy photo: Kei / SHAU Indonesia photographer)
Microlibrary Warak Kayu berupaya menarik minat warga, khususnya anak-anak, untuk datang ke perpustakaan, tidak saja untuk membaca, tetapi juga melakukan aktivitas lain seperti diskusi, nonton film, bengkel prakarya dll. (Courtesy photo: Kei / SHAU Indonesia photographer)

"Ketika mereka tertarik pada bentuk dan fungsi bangunannya, mereka akan naik ke atas, dan menemukan buku-buku yang mereka suka. Mereka pun jadi suka membaca. Ini salah satu ide awalnya, bagaimana membuat anak-anak jadi suka membaca, tapi tanpa merasa terpaksa. Tetap ada unsur bermain bagi mereka, tapi bangunannya sendiri indah,” imbuh Daliana.

Nilai tambah lain bagi Microlibrary Warak Kayu ini adalah letaknya yang sangat strategis di tengah kota. “Walikota Hendrar Prihadi sangat suportif dengan memberikan lokasi yang bagus di tengah kota, di samping Taman Kasmaran yang dekat dengan Kampung Pelangi. Dengan demikian niat awal PT. Kayu Lapis Indonesia membuat perpustakan kayu bagi warga kebanyakan pun tercapai," jelasnya.

Desain Microlibrary Warak Kayu disinergikan dengan bangunan lain yang sudah ada di kawasan Kampung Pelangi. (Foto: Kei/fotografer SHAU Indonesia)
Desain Microlibrary Warak Kayu disinergikan dengan bangunan lain yang sudah ada di kawasan Kampung Pelangi. (Foto: Kei/fotografer SHAU Indonesia)

"Ada pula bis wisata yang diarahkan berhenti di kawasan itu dan membawa banyak wisatawan lokal. Ini bagian terintegrasi dari kota itu, karena perpustakaan ini tidak saja untuk komunitas lokal di Kampung Pelangi, tetapi juga seluruh warga kota Semarang. Ini sekaligus menjadi tambahan bangunan ikon di kota ini,” tutur Daliana.

KJRI New York Berupaya Keras Galang Suara

Setelah nama Microlibrary Warak Kayu di Semarang ini diumumkan sebagai salah satu finalis Architizer A+ Awards, KJRI New York menggalakkan kampanye lewat media sosial dan forum terbuka lainnya mendorong kemenangannya.

Kepala KJRI New York Arifi Saiman menegaskan hal ini saat diwawancarai VOA melalui telpon, “kami berjuang keras membantu mendukung perolehan suara untuk kemenangan Microlibrary Warak Kayu/MWK. Secara kualitas MWK memiliki keunggulan sustainability kuat sekali karena ramah lingkungan, tanpa dukungan energi seperti AC. Secara proses pembuatan juga mematuhi kriteria sertifikasi SVLK (Indonesian Legal Wood) dan FSC (Forest Stewardship Council).”

Ditambahkannya, “KJRI New York melakukan komunikasi intensif dengan simpul-simpul masyarakat Indonesia di wilayah kerja kami untuk menggalang dukungan hingga batas akhir voting 31 Juli ini. Acaranya memang di New York, tetapi ini tanggungjawab semua anak bangsa untuk mengupayakan kemenangan MWK.”

Salah seorang pendiri SHAU Indonesia, Florian Heinzelmann, mengatakan pada VOA, “pastinya tim juri sudah tahu siapa yang akan memenangkan kompetisi ini. Tetapi dukungan suara semua pihak akan memastikan hal itu, dan dengan memenangkan kompetisi bergengsi ini, kami jadi semakin dapat menunjukkan pada dunia, desain yang dapat ditawarkan di Indonesia.” [em/jm]

Lihat komentar (2)

Recommended

XS
SM
MD
LG