Tautan-tautan Akses

Menkes: Transmisi Omicron Diprediksi Lebih Tinggi dari Delta


Orang-orang yang memakai masker berjalan di peron stasiun kereta api di tengah merebaknya varian Omicron COVID-19 di Jakarta, 3 Januari 2022. (REUTERS/Willy Kurniawan)

Pemerintah mengklaim lebih siap menghadapi gelombang ketiga akibat perebakan varian omicron yang lebih mudah menular.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan perebakan varian COVID-19 Omicron diprediksi akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan varian Delta. Meski begitu, setelah dilakukan penelitian, gejala yang dialami oleh mayoritas pasien omicron cenderung ringan hingga sedang, sehingga diyakini tidak akan menambah beban pada fasilitas pelayanan kesehatan.

“Memang kenaikan transmisi omicron akan jauh lebih tinggi dibanding delta, tetapi yang dirawat jauh lebih sedikit. Kemenkes sudah melakukan penelitian untuk ke 414 pasien omicron ini, apa gejalanya, gejala apa yang hanya perlu dirawat di rumah, which is sebagian besar akan begitu. Gejala seperti apa yang dirawat atau diisolasi terpusat seperti Wisma Atlet, gejala apa yang masuk RS, mana yang sedang dan yang mana berat,” ungkapnya dalam telekonferensi pers, usai rapat terbatas di Istana Negara, Jakarta, Senin (10/1).

Kemenkes, ujar Budi, telah bekerja sama dengan 17 platform telemedicine untuk memastikan agar pasien omicron yang sedang menjalani karantina di rumah tetap bisa berkonsultasi dengan dokter, dan mendapatkan layanan antar obat-obatan.

Sampai saat ini, kata Budi, dari 414 kasus Omicron yang sudah terdeteksi di dalam negeri, sebagian besar berasal dari pelaku perjalanan luar negeri (PPLN) yang memiliki positivity rate sebesar 13 persen. Sedangkan untuk kasus omicron dari transmisi lokal mencapai 0,2 persen.

“Kami juga sudah melakukan penilitian dari 414 ini, yang masuk kategori sedang artinya membutuhkan perawatan dengan oksigen hanya dua orang, satu usia 58 tahun, dan 47 tahun dan keduanya memiliki komorbid. Dari 414 orang yang dirawat karena omicron, 114 orang atau sekitar 26 persen sudah sembuh termasuk yang dua orang yang masuk kategori sedang dan membutuhkan oksigen sehingga mereka bisa kembali ke rumah,” jelasnya.

Adapun negara-negara yang saat ini memiliki kasus tertinggi varian omicron adalah Arab Saudi, Turki, Amerika serikat dan Uni Emirat Arab.

Strategi Hadapi Omicron

Lebih jauh Budi mengatakan ia cukup yakin pemerintah kali ini akan lebih siap menghadapi gelombang ketiga pandemi COVID-19. Strategi yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mempercepat vaksinasi dosis pertama dan kedua.

Menkes: Transmisi Omicron Diprediksi Lebih Tinggi dari Delta
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:27 0:00

Sampai saat ini, setidaknya sebanyak 169 juta rakyat Indonesia yang memenuhi syarat vaksinasi atau lebih dari 81 persen sudah divaksinasi dosis pertama. Hal ini membuat Indonesia menempati peringkat ke-4 di dunia dari sisi jumlah penduduk yang telah divaksinasi.

“Status per kemarin, jumlah vaksinasi yang sudah diberikan ada 288 juta dosis untuk sekitar 170 juta dosis pertama, 116 juta dosis kedua,” tuturnya.

Budi menambahkan hampir seluruh provinsi sudah mencapai 70 persen vaksinasi dosis pertama. Tersisa lima provinsi yakni Sumatera Barat, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua yang belum mencapai level tersebut.

Pil eksperimental COVID-19, Molnupiravir. (Foto: ilustrasi).
Pil eksperimental COVID-19, Molnupiravir. (Foto: ilustrasi).

Selain vaksinasi, pihak Kemenkes juga sudah mendatangkan 400 ribu tablet obat anti virus dari Merck yakni Molnupiravir yang siap untuk digunakan.

“Kita akan menghadapi gelombang dari omicron ini, tidak usah panik, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik, dan pengalaman menunjukkan bahwa walaupun naiknya cepat gelombang omicron ini juga turunnya cepat sehingga yang penting jangan lupa jaga prokes, disiplin surveliance, percepat vaksinasi bagi yang belum mendapatkan vaksinasi,” kata Budi.

Luhut Yakin Sistem Pelayanan Kesehatan Siap Hadapi Omicron

Dalam kesempatan yang sama Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan, sistem pelayanan kesehatan di tanah air, cukup siap dalam menghadapi varian omicron. Ia telah meminta kepada seluruh pemerintah daerah untuk mempersiapkan fasilitas rumah sakit dan isolasi karantina sedini mungkin. Selain itu, pemda juga diminta untuk kembali memperkuat strategi 3T (testing, tracing, dan treatment) untuk menemukan kasus secepat mungkin.

Luhut menekankan, 178 hari sejak puncak kasus delta situasi dan kondisi pendemi di Indonesia sampai saat ini masih sangat terkendali, di mana hingga Januari 2022 tercatat satu kematian di DKI Jakarta.

“Namun, langkah preventif merupakan kunci utama agar kita bisa terhindar dari ancaman, dan kita harus kompak. Tidak perlu mencari kekurangan di sana-sini, tapi kita harus saling mengingatkan dengan baik. Pencegahan omicron tidak hanya bisa dilakukan oleh pemerintah saja, namun juga harus melibatkan peran masyarakat mulai dari penegakan prokes, yang tidak boleh jenuh hingga penggunaan PeduliLindungi dengan baik,” ungkap Luhut.

Pakar: Gelombang Tiga Pandemi di Indonesia Diprediksi Februari-Maret

Ahli epidemiologi di Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman memprediksi gelombang omicron di tanah air, akan terjadi pada Februari-Maret mendatang. Dari hasil pengamatannya, memang puncak atau ledakan kasus di Indonesia seringkali lebih telat dua hingga tiga bulan dibandingkan dengan negara lain.

Hal ini, katanya dikarenakan deteksi kasus di Indonesia jauh lebih lemah dibandingkan dengan negara lain.

“Kita tidak semasif mereka dalam melakukan testing, keterbatasan 3T kita sudah terlihat jelas di dua gelombang sebelumnya,” ungkap Dicky kepada VOA.

Dicky menjelaskan hal ini juga disebabkan oleh karakter masyarakat Indonesia yang lebih sering mengobati diri sendiri ketika sedang sakit, dibandingkan berobat ke fasilitas kesehatan. Sehingga semakin banyak kalangan rentan yang terpapar COVID-19. Penurunan kadar antibodi masyarakat baik yang diperoleh dari infeksi alamiah maupun dari vaksinasi dosis pertama dan kedua, juga sudah menurun drastis.

Grafik situasi COVID-19 di Indonesia. (BNPB)
Grafik situasi COVID-19 di Indonesia. (BNPB)

Oleh karena itu, tambahnya, tidak ada jaminan bahwa kasus rawatan di rumah sakit akan jauh lebih berkurang dibandingkan dengan varian delta. Menurutnya, keberhasilan pemerintah dalam menangkal gelombang ketiga ini tergantung pada beberapa hal yakni : seberapa lama percepatan vaksinasi dosis pertama dan kedua, serta booster dilakukan pada kelompok rawan, kemudian bagaimana upaya mitigasi yang dilakukan oleh pemerintah, karena strategi 3T dan penegakan prokes 5M tetap akan berpengaruh signifikan terhadap upaya meredam kombinasi varian delta dan Omicron terhadap kelompok rentan.

“Apapun varian yang menyebabkan COVID-19, bahkan varian awal di Wuhan sana, itu siginifkan berdampak pada beban di fasilitas kesehatan, apalagi Omicron yang setidaknya dua kali lebih ganas dari varian pertama yang ditemukan di Wuhan. Kita tidak bisa mengambil risiko dengan mengentengkan atau terlalu optimis,” tambahnya.

“Mitigasi harus dilakukan, kita belajar dari kasus di Eropa, AS, dan bahkan di Australia yang sudah mulai terjadi beban di faskes, meskipun vaksinasinya sudah jauh lebih tinggi dari Indonesia dalam kaitan dua dosis, atau booster sekalipun,” pungkasnya. [gi/em]

Lihat komentar

Recommended

XS
SM
MD
LG