Tautan-tautan Akses

Media Reformis Iran: Sanksi AS terhadap Teheran Langgar Piagam PBB


Presiden Iran Hassan Rouhani berusaha mengecilkan sanksi Amerika yang akan segera diberlakukan.

Beberapa surat kabar reformis Iran hari Senin (15/10) memuat tajuk-bersama yang jarang terjadi mengkritik sanksi yang dikenakan Amerika terhadap negara itu dan meminta ‘wartawan dunia’ membela hak asasi bangsa Iran.

Tajuk rencana itu diterbitkan dalam bahasa Farsi dan Inggris hari Senin pada setidaknya delapan harian pemerintah dan pro reformasi. Di situ dikatakan Amerika telah ‘berbohong’ mengenai tujuan sanksi yang menyasar kebutuhan orang awam dan menutup akses kepada persediaan obat-obatan dan perlengkapan medis.

Tajuk bersama itu menyatakan ‘larangan berdagang, blokade, embargo, membekukan aset dan sanksi ekonomi lain tidak sesuai dengan Piagam PBB.

Tajuk menyebut tindakan Amerika keluar dari Perjanjian Nuklir Iran kebijakan ‘yang tidak diplomatis dan amoral’. Perjanjian dengan negara dikuasa itu berisi pasal-pasal membatasi program nuklir Iran dengan imbalan sanksi terhadap Iran dilonggarkan.

Iran sekarang sedang berunding dengan negara-negara Eropa mitra dagangnya mencari jalan untuk mengelakkan sanksi Amerika dan tetap dalam Perjanjian Nuklir itu. Tajuk itu dipandang sebagai bagian dari upaya kalangan reformis di Iran menggapai opini masyarakat internasional sebelum Amerika memberlakukan putaran baru sanksi menyasar minyak Iran awal November nanti.

Golongan garis keras di Iran menentang pendekatan dengan Barat, senantiasa curiga terhadap Perjanjian Nuklir itu dan memandang penarikan diri Amerika dari Perjanjian sebagai bukti pandangan mereka yang sudah lama bahwa Amerika tidak dapat dipercaya.

Hari Minggu presiden Iran Hassan Rouhani yang relatif moderat, berusaha mengecilkan arti sanksi Amerika mendatang yang menyasar sektor minyak dan gas Iran.

Juga hari Senin juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Bahram Ghasemi mengatakan pemerintahnya telah menerima nota mengukuhkan penarikan Amerika dari perjanjian persahabatan yang sudah puluhan tahun antara kedua negara.

Pemerintahan Trump menyatakan awal bulan ini akan membatalkan perjanjian tahun 1955 itu sebagai jawaban atas keputusan Makamah Hukum Internasional bahwa Amerika harus mencabut sanksi terhadap Iran.

Menteri luar negeri Amerika Mike Pompeo mengatakan menarik diri dari perjanjian itu seharusnya sudah lama dilakukan. Dan akhirnya keputusan diambil setelah Iran tanpa dasar mengadu kepada Mahkamah Hukum Internasional menggugat sanksi Amerika atas dasar sanksi itu melanggar Perjanjian Persahabatan tersebut.

Isyarat yang umumnuya simbolis itu menggaris bawahi hubungan yang memburuk antara Washington dan Teheran. (al)

Lihat komentar (2)

Forum ini telah ditutup.
XS
SM
MD
LG