Tautan-tautan Akses

Masyarakat Bali Hadapi Beban Vulkanologi dan Ekonomi

  • Made Yoni

Warga mengamati Gunung Agung mengepulkan asap dan abu vulkanik dari pos pengamatan di Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali (foto: dok).

Aktivitas Gunung Agung di Pulau Bali, Indonesia - salah satu tujuan wisata favorit dunia - hari Kamis siang (15/12) menurun dibandingkan periode 25-29 November lalu. Gunung berapi ini tampak dalam tahap relaksasi.

Meski aktivitas Gunung Agung mereda tapi kecemasan dan beban yang dipikul penduduk Bali meningkat di tengah-tengah ketidakpastian alam. Warga yang berada pada radius 10 kilometer dari Gunung Agung sebagian besar mengungsi, sementara sejumlah kecil lainnya secara swadaya mengamankan desa-desa mereka.

Gunung Agung terletak di Kabupaten Karangasem, satu dari 8 kabupaten di Bali.

Dua puluh delapan desa di kabupaten itu yang masuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) secara suka rela membentuk komunitas yang diberi nama "Pasebaya", untuk mengamankan, mendata warga dan memberi tanda-tanda dini bencana.

Gede Pawana, ketua Pasebaya, Rabu 12/14/2017 mengatakan dari 187 ribu warga KRB yang harus mengungsi, 120 ribu warga masih bolak-balik dari desa KRB ke tempat pengungsian, sementara sisanya tetap bertahan. “Karena menganggap berdasarkan pengalaman letusan Gunung Agung tahun 1963, mereka aman dan selamat,” ujarnya.

Pengungsi asal Besakih, Banjar Kawan di Posko Pengungsi Rendang. (Foto: Wayan Putra)
Pengungsi asal Besakih, Banjar Kawan di Posko Pengungsi Rendang. (Foto: Wayan Putra)

700 relawan Pasebaya disebar di 28 desa KRB dengan peralatan komunikasi radio amatir pinjaman yang jumlahnya terbatas “padahal pada saat mereka berpencar ketika mengadakan edukasi, pembelajaran dan lain sebagainya atau pada saat evakuasi bisa putus komunikasi itu yang menyebabkan kami butuh HT lagi,” tambah Gede Pawana.

Mangku Tinggal kepala desa Subudi yang berada di KRB 3 - kawasan yang terdekat dari puncak Gunung Agung pada radius 6 kilometer - mengungsi di Klungkung bersama istri dan kedua anaknya.

Ia mengatakan kondisi terakhir desanya, "Sejak hujan abu kemarin, semua pepohonan sudah mati semua tidak ada yang hidup daun-daun berguguran semua setiap hujan banjir lumpur sangat besar. Sudah sangat parah bau belerang sudah sangat menyengat."

Kerugian ekonomi warga desa Subudi sangat besar.

"Di Subudi itu adalah lokasi galian C (lokasi penambangan bahan bangunan pasir dan infrastruktur lain, red.). Peredaran uangnya miliaran lebih setiap hari di desa kami, (tapi) sekarang dihentikan oleh pemerintah," imbuhnya.

Tantangan yang dihadapinya meski dilarang beberapa warga diam-diam terpaksa melakukan kegiatan galian, karena tidak lagi punya bekal mengungsi.

Wayan Putra warga desa Duda yang jaraknya 8 kilometer dari Gunung Agung mengungsi ke desa tetangga Sidemen. Ia mengatakan kegiatan berkebun salak dan mencari tuak masih dilakukan warga desanya sesekali secara diam-diam tapi menghentikan kegiatan beternak.

“Ternak sudah saya jual semua karena sulit, pada saat mengungsi status awas pertama (22 September 2017), karena sudah erupsi,” tutur Putra.

Jauh di selatan, sekitar 61 kilometer dari Gunung Agung, kegiatan warga di kabupaten Badung di mana ibukota pulau dan provinsi Bali dan hotel-hotel kelas dunia berlokasi, kegiatan ekonomi muram.

Seorang petani menggiring ternak itiknya sementara di latar belakang Gunung Agung memuntahkan asap di kawasan evakuasi di Kabupaten Karangasem, Bali (foto: dok).
Seorang petani menggiring ternak itiknya sementara di latar belakang Gunung Agung memuntahkan asap di kawasan evakuasi di Kabupaten Karangasem, Bali (foto: dok).

Dewa Made Regawa, pengemudi sekaligus pemandu wisata independen yang mempromosikan usahanya Bintang Bali Tour melalui internet mengatakan ia bersama rekan-rekan seprofesinya sudah dua minggu menganggur. Dewa Made Regawa mengatakan dampak tidak adanya wisatawan berimbas pada ekonomi warga setempat, bahkan pada pedagang kecil.

“Daya beli kita itu tergantung pada pariwisata dalam artian ada pendapatan lebih di situ, sehingga orang bisa belanja lebih, biasanya pulang dari tur itu kasih oleh–oleh camilan pada keluarga,” kata Regawa.

Menghadapi situasi yang tidak pasti akibat aktivitas Gunung Agung yang tidak bisa diprediksi, jauh-jauh hari masyarakat Bali hanya bisa bertahan dengan tabungan yang mereka miliki, serta berharap supaya Gunung Agung segera meletus atau aktivitasnya mereda sepenuhnya. [my]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG