Tautan-tautan Akses

AS

Mantan Penasihat Trump Diinterogasi Komite Intelijen DPR AS


Steve Bannon, mantan penasihat Presiden Donald Trump di Gedung Putih (foto: dok).

Steve Bannon, mantan penasihat Presiden Donald Trump di Gedung Putih hari Selasa (16/1) diminta keterangan oleh sejumlah anggota DPR AS dalam penyelidikan tentang campur tangan Rusia dalam pemilu presiden Amerika tahun 2016.

Steve Bannon, mantan ahli strategi Donald Trump di Gedung Putih, hari Selasa diinterogasi anggota DPR dalam penyelidikan mereka terhadap campur tangan Rusia dalam pemilu presiden Amerika.

Bannon, yang merupakan pembantu penting kampanye Trump dan selama tujuh bulan menjadi penasihat utama Trump sebelum disingkirkan, hadir dalam pertemuan tertutup di Komite Intelijen DPR, satu dari beberapa penyelidikan yang sedang berlangsung di Washington mengenai hubungan kampanye Trump dengan Rusia.

Bannon tetap menegaskan dukungannya terhadap Trump. Tapi hubungannya dengan presiden memburuk setelah komentar Bannon mengecam kampanye Trump dan bulan-bulan pertama pemerintahan Trump di Gedung Putih yang dikutip secara ekstensif dalam buku baru Michael Wolff berjudul , Fire and Fury: Inside the Trump White House.

Mantan penasihat Trump itu dikutip menyebut anak tertua Trump, Donald Trump Jr, menantu lelakinya Jared Kushner yang sekarang menjadi penasihat Gedung Putih, dan manajer kampanye Paul Manafort "pengkhianat" dan "tidak patriotik" karena bertemu dengan seorang pengacara Rusia di tengah kampanye dalam upaya untuk mendapatkan bukti " yang memberatkan" terhadap calon presiden Partai Demokrat Hillary Clinton.

Setelah buku itu diterbitkan, Trump mulai menyebut Bannon "si ceroboh Steve," dan mengatakan, "Steve Bannon tidak ada hubungannya dengan saya atau kepresidenan saya. Ketika dipecat, ia tidak hanya kehilangan pekerjaannya, ia kehilangan akal sehatnya."

Komite Intelijen DPR besar kemungkinan akan menanyai Bannon tentang pertemuan bulan Juni 2016 yang diadakan oleh Trump Jr, yang mengatakan kepada penyidik bahwa pengacara Rusia tersebut tidak memberi informasi yang merusak mengenai Clinton. Trump berulang kali mengatakan bahwa "tidak ada kolusi" antara kampanyenya dan Rusia, meskipun belum satupun penyelidikan atau Penyidik Khusus Robert Mueller yang sudah dilakukan selama berbulan-bulan, mencapai kesimpulan.

"Apakah Anda memperhatikan Media Berita Bohong tidak pernah senang meliput berita ekonomi hebat yang mencatat rekor," kata Trump dalam sebuah komentar di Twitter hari Selasa (16/1), "tapi (mereka) lebih suka berbicara tentang hal negatif atau yang bisa diubah menjadi negatif. Berita bohong kolusi Rusia sudah berakhir kecuali yang dipertahankan oleh Pihak Demokrat, pahamilah."

Mueller juga menyelidiki apakah Presiden Trump menghalangi-halangi hukum ketika ia memecat mantan direktur FBI James Comey, yang memimpin penyelidikan tersebut sebelum Mueller ditunjuk dengan keberatan Trump untuk mengambil alih penyelidikan itu. [my/al]

XS
SM
MD
LG