Tautan-tautan Akses

Mantan Ketua Milisi Republik Afrika Tengah Ditangkap


ARSIP - Ketua Federasi Sepakbola Republik Afrika Tengah, Patrice-Edouard Ngaissona, hadir dalam sidang umum Konfederasi Sepakbola Afrika ke-40 di Casablanca, Maroko, 2 Februari 2018 (foto: Fadel Senna/AFP)

Seorang pejabat terkemuka sepakbola Afrika ditangkap di Perancis atas tuduhan kejahatan perang yang dilakukan di Republik Afrika Tengah.

Jaksa Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengatakan Patrice-Edouard Ngaissona, adalah pimpinan paling senior dan "Koordinator Umum Nasional" milisi anti-Balaka.

Menurut ICC, sebagai pemimpin milisi yang umumnya Kristen, Ngaissona diduga melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan termasuk pembunuhan, pemusnahan, deportasi, penganiayaan, penyiksaan, penyerangan warga sipil, dan perekrutan tentara anak-anak.

Milisi anti-Balaka dibentuk tahun 2013 untuk melawan pemberontak Seleka Muslim yang menguasai ibukota Republik Afrika Tengah, Bangui, dan menggulingkan Presiden Francois Bozize. Perang saudara yang pecah karenanya membunuh ribuan orang dan memaksa ratusan ribu lainnya mengungsi.

Ngaissona adalah ketua federasi sepak bola nasional negaranya. Februari lalu, ia terpilih menjadi anggota komite eksekutif Konfederasi Sepak Bola Afrika, badan sepak bola di benua itu, membuat banyak orang berpendapat bahwa ia tidak tersentuh. Tetapi Lewis Mudge, peneliti senior di Divisi Afrika Human Rights Watch, mengatakan penangkapan itu membuktikan "bahkan tokoh tingkat tinggi yang terlibat kejahatan besar dapat ditangkap untuk diadili."

Amnesty International, yang menyebut Ngaissona dan 19 lainnya sebagai tersangka kejahatan perang pada tahun 2014, menyebut penangkapan itu sebagai "langkah maju yang besar dalam perang melawan kekebalan hukum di Republik Afrika Tengah." [ka]

Recommended

XS
SM
MD
LG