Tautan-tautan Akses

Mantan Istri Militan ISIS Kini Perangi Kelompok Teror di Suriah


Di kamp Haj Ali, bagian utara Irak, istri dari para militan ISIS yang tewas, tertangkap atau melarikan diri, mengatakan mereka tidak bisa mempengaruhi pilihan suami mereka dalam masyarakat yang konservatif.

Dua bersaudara, yang dipaksa menikah dengan militan ISIS di Suriah ketika kelompok teror itu menguasai kota mereka, kini menjadi bagian dari brigade pejuang perempuan yang dikenal sebagai Unit Perlindungan Perempuan (YPJ), yang ikut melawan ISIS di beberapa bagian Suriah.

Vian yang berusia 26 tahun dan Zhyan yang berusia 18 tahun, dinikahi oleh dua militan ISIS sebelum pasukan lokal yang didukung Amerika membebaskan kota Al-Shaddadi dan mengusir militan ISIS dari daerah itu.

Viand an Zhyan adalah nama samaran. Kedua kakak beradik itu mengambil nama itu dari dua rekan perempuan mereka yang tewas dalam pertempuran melawan ISIS.

“Mereka memaksa kaum perempuan untuk menikah, apakah sang perempuan sudi atau tidak. Saya menikahi orang ISIS ini, tinggal bersamanya selama satu bulan, dan kemudian melarikan diri,” ujar Zhyan kepada VOA.

Zhyan menikah dengan seorang pejuang ISIS dari Arab Saudi ketika ia masih remaja. Sementara Vian menikah dengan seorang pejuang ISIS lokal.

Kakak beradik itu mengatakan kepada VOA, bagi mereka perang melawan ISIS adalah hal pribadi.

Vian mengatakan ia bergabung karena ingin menjadi bagian dari kekuatan yang memberikan suara kepada perempuan dan tidak memaksa mereka bertindak berlawanan dengan kehendak mereka. Zhyan mengatakan ia bergabng karena ingin menghadapi suaminya. “Jika ia masih hidup, saya ingin membalas dendam dengan tangan saya sendiri,” ujar Zhyan.

Kota Al-Shaddadi berada di propinsi Al-Hasakah, sekitar 38 kilometer dari perbatasan dengan Irak. Kota itu dikuasai ISIS pada Mei 2014.

Pasukan Demokratik Suriah SDF yang didukung Amerika pada 2016 melancarkan operasi Wrath Khabur yang berhasil membebaskan kota itu dari tangan ISIS. [em/al]

XS
SM
MD
LG