Tautan-tautan Akses

Mahasiswa Iran di AS Takut Gelar Demonstrasi 


Vahideh Rasekhi, mahasiswi asal Iran yang belajar di program doktoral di Universitas Stony Brook, menyapa teman-teman dan kerabat setelah dibebaskan dari penahanan di Bandara John F. Kennedy, di New York, 29 Januari 2017. (Foto: AP)

Pada 1980-an, mahasiswa Iran yang belajar di berbagai lembaga pendidikan tinggi dan universitas di Amerika Serikat (AS), mengenakan seragam penjara dan bersama-sama merantai diri mereka. Aksi tersebut adalah protes senyap terhadap kebijakan politik Amerika terhadap Iran.

Namun kini, anak-anak mereka, atau mahasiswa internasional mengatakan mereka takut menggelar demonstrasi di AS, karena khawatir akan munculnya kejahatan berdasarkan kebencian, atau menghadapi kesulitan imigrasi yang akan mengganggu pelajaran mereka.

Warga Iran yang lebih muda, yang sedang belajar di universitas, atau imigran, mengatakan ketegangan politik yang paling baru ini telah membuat kehidupan, studi dan karier mereka di Amerika menjadi suram.

Lebih dari setengah juta mahasiswa internasional yang belajar di Amerika datang dari Cina dan India. Tahun lalu, jumlah mahasiswa dari Iran mencapai 12.141 orang. Iran merupakan negara terbesar ke-13 yang mengirim siswanya belajar di Amerika. Jumlah itu turun 5 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kanada, yang berusaha menarik siswa-siswa asing yang pandai kini mempermudah persyaratan bagi siswa Iran yang ingin belajar di sana. Dalam pengumuman yang dipasang di situs webnya, McGill University di Montreal, mengatakan, “batas waktu pendaftaran yang akan berakhir bulan Januari, diperpanjang bagi semua pelamar dari Iran.”

Mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi Kanada menyebut Kanada “punya masyarakat yang toleran dan tidak diskriminatif,” dan punya reputasi sebagai “negara yang aman.” [ii/ft]

XS
SM
MD
LG