Tautan-tautan Akses

Macron Kecam Pembantaian Warga Aljazair 1961


Presiden Prancis Emmanuel Macron terlihat berbicara saat presentasi rencana investasi "Prancis 2030" di Istana Kepresidenan Elysee di Paris, Prancis, 12 Oktober 2021. (Foto: Ludovic Marin via Reuters)

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Sabtu (16/10) mengecam penindakan brutal oleh polisi Paris terhadap demonstran Aljazair pada 1961, menyebutnya "tak dapat dimaafkan." Skala peristiwa itu ditutup-tutupi selama puluhan tahun, mengecewakan para aktivis yang mengharapkan respon yang lebih besar.

Macron berbicara kepada para keluarga korban dalam peringatan ke-60 peristiwa berdarah itu. Ia mengatakan bahwa kejahatan itu dilakukan pada malam 17 Oktober 1961, di bawah perintah kepala polisi Paris yang kejam Maurice Papon.

Macron mengakui bahwa puluhan demonstran tewas, "jenazah mereka dibuang ke Sungai Seine." Ia memberi penghormatan untuk mengenang mereka.

Jumlah pasti korban tidak jelas, dan sebagian aktivis khawatir ada ratusan yang tewas.

Macron "mengakui fakta: bahwa kejahatan yang dilakukan malam itu atas perintah Maurice Papon adalah hal yang tak dapat dimaafkan bagi Republik," kata Istana Kepresidenan Elysee.

"Tragedi ini sudah lama dibungkam, dibantah atau ditutupi," tambahnya dalam pernyataan.

Presiden Aljazair Abdelmadjidn Tebboune mengatakan ada "keprihatinan yang kuat untuk menangani masalah sejarah dan kenangan tanpa mempertaruhkan prinsip, dan dengan rasa tanggung jawab yang tajam," bebas dari "dominasi pemikiran kolonialis yang arogan," kata kantornya dalam sebuah pernyataan. [vm/ah]

Recommended

XS
SM
MD
LG