Tautan-tautan Akses

Diperlunaknya Hukuman Pelaku KDRT Picu Kekhawatiran di Rusia

  • Daniel Schearf

Anggota-anggota parlemen Rusia memutuskan tidak menuntut pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan hukuman berat jika korban tidak menderita cedera. Para pendukung keputusan ini mengatakan denda atau hukuman penjara singkat sudah cukup dan bisa mencegah terpecah-belahnya keluarga.

Namun, kelompok yang menentang – termasuk keluarga korban KDRT – mengatakan polisi di Rusia memang enggan terlibat dalam pelanggaran KDRT dan langkah mundur ini hanya akan memperburuk masalah yang ada.

Di sebuah tempat penampungan bagi para istri korban KDRT, Marina – yang tidak ingin disebut namanya – membuat kue pai dan menjualnya supaya punya penghasilan. Ia dan putri tertuanya melarikan diri dari suaminya yang kasar tiga bulan lalu, setelah ia pulih dari luka sangat parah yang membuatnya harus menggunakan kursi roda.

“Polisi datang setelah saya dipukuli dan kemudian ia bahkan memukuli saya ketika berada di kursi roda, ia memukuli kaki saya. Jadi ketika polisi datang, mereka mengatakan “ini urusan keluarga, kalian berkelahi dan kemudian akur kembali,” ujar Marina.

Para korban khawatir polisi akan menjadi semakin enggan membantu setelah anggota-anggota parlemen Rusia memutuskan untuk mengurangi hukuman terhadap beberapa jenis KDRT, menjadi hukuman denda dan penjara beberapa hari saja.

Mereka yang mendukung pengurangan hukuman itu sepakat bahwa hanya KDRT yang mengakibatkan cedera fisik yang dituntut secara kriminal.

Wakil Ketua Duma Olga Batalina mengatakan, “Tetapi apabila pemukulan terjadi dalam konflik emosional, dan orang tidak berniat menimbulkan bahaya pada orang lain, dan tidak ada tuntutan hukum terhadap orang tersebut, maka tanggung jawab yang dikenakan bisa bersifat hukuman administratif saja”.

Kelompok yang menggagas perubahan undang-undang itu – Parent’s Resistance – mengatakan tuduhan-tuduhan tidak berdasar telah memporakporandakan keluarga karena hukuman yang dikenakan terlalu berat.

Ketua Parent’s Resistance Mariya Mamikonyan mengatakan, “Kami melihat banyak kasus semacam itu yang terjadi dalam 1,5 tahun terakhir ini. Orang tua jadi khawatir membawa anak-anak ke pusat trauma, padahal seharusnya mereka melakukan hal itu”.

Sejumlah korban KDRT yang sangat buruk mengatakan Presiden Vladimir Putin seharusnya tidak menandatangani perubahan undang-undang itu. Penyanyi terkenal Rusia Alla Yurievna Perfilova mengatakan, “Kita harus berpikir dua kali untuk membuat keputusan semacam itu. Karena ini tugas yang sangat serius, pertanyaan yang sangat serius bagi banyak keluarga di negara kita. Saya tahu bagaimana penderitaan akibat KDRT”.

Lepas dari perdebatan yang sedang berlangsung, kini diperlukan lebih banyak tempat penampungan korban.

Direktur Pusat Krisis Perempuan Aliona Sadikova mengatakan, “Mungkin karena lebih banyak perempuan yang tahu tentang pusat krisis ini. Tetapi kami mendapati bahwa jumlah permintaan telah naik 1,5 kali lebih besar tahun ini”.

Angka yang disampaikan pejabat Rusia menunjukkan 40% kejahatan dengan kekerasan terjadi di dalam keluarga dan ribuan perempuan meninggal setiap tahun akibat KDRT. [em/ii]

XS
SM
MD
LG