Tautan-tautan Akses

Lindungi Putrinya dari Boko Haram, Ortu Nigeria Dorong Kawin Muda


Anak-anak perempuan Chibok, Nigeria yang menjadi korban penculikan oleh militan Boko Haram (foto: ilustrasi).

Lebih dari sepertiga anak perempuan Kamerun menikah sebelum menginjak usia 18 tahun, tetapi angka tertinggi kawin anak ada di perbatasan dengan Nigeria, di mana 60 persen anak perempuan dikawinkan. Salah satu alasan para orang tua mendorong anak-anak perempuan kawin muda adalah untuk melindungi mereka dari kelompok militan Boko Haram.

Ketika Boko Haram menyerang kota perbatasan Krawa Maffa empat tahun lalu, kelompok militan Nigeria itu menculik anak perempuan ini. Ketika itu ia baru berusia 13 tahun.

Kini, Julie, yang sudah berusia 17 tahun, masih ingat betul ketika kelompok Islamis itu memaksanya untuk menjadi salah satu istri mereka.

“Salah seorang di antara mereka mengatakan kita akan pergi ke semak-semak. Saya bilang ‘tidak! Saya anak kecil, apa yang akan saya lakukan di semak-semak?.’ Ia mengatakan kamu akan menjadi istri saya. Saya memohon agar ia meninggalkan saya. Saya ingin bersama ibu saya. Mereka telah membunuh ayah saya dan kini ingin membawa saya ke semak-semak,” tuturnya.

Julie melarikan diri dari Boko Haram ketika terjadi bentrokan dengan militer Kamerun dan kembali ke desanya. Seringnya serangan kelompok militan itu meningkatkan kekhawatiran bahwa kelompok itu akan kembali menculiknya. Jadi paman Juli menikahkannya dengan seorang laki-laki berusia 40 tahun yang tinggal 120 kilometer jauhnya, untuk menjadi istri ketiganya.

‘’Saya menghadapi banyak kesulitan. Sebelum Boko Haram mengambil lahan kami, saya punya banyak usaha pertanian. Saya punya banyak kambing. Mereka datang dan mengambil semuanya, menghancurkan rumah-rumah kami. Kini saya tidak punya apa-apa lagi. Saya ingin keponakan saya aman,” ungkap Varfa.

Badan PBB Untuk Anak-Anak UNICEF mengatakan meskipun di Kamerun lebih dari sepertiga anak perempuan kawin sebelum usia 18 tahun, di sepanjang perbatasan dengan Nigeria jumlahnya melonjak menjadi 60 persen.

Meskipun budaya memainkan peran, para orang tua mengatakan alasan lain adalah untuk melindungi anak-anak perempuan mereka dari Boko Haram. Namun demikian Kementerian Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Kamerun mengatakan Boko Haram seharusnya tidak dijadikan alasan kawin anak ketika para orang tua sebenarnya dapat mengirim anak mereka bersekolah. (em/ii)

Lihat komentar (3)

Recommended

XS
SM
MD
LG