Tautan-tautan Akses

Lembaga Nirlaba Lintas Agama AS Bantu Tunawisma Hadapi Dampak Covid-19

Para tunawisma tiba di gedung konvensi di pusat kota San Diego, California, yang diubah menjadi hunian sementara para tuna wisma di tengah wabah virus corona, 1 April 2020. (Foto: Reuters)
Para tunawisma tiba di gedung konvensi di pusat kota San Diego, California, yang diubah menjadi hunian sementara para tuna wisma di tengah wabah virus corona, 1 April 2020. (Foto: Reuters)

Dampak wabah virus corona dirasakan berbagai lapisan masyarakat, termasuk para tunawisma. Sebuah lembaga nirlaba lintas agama di Kabupaten Montgomery, Maryland, mencoba meringankan beban mereka dengan tetap beroperasi selama berlangsungnya krisis itu.

Seiring merebaknya wabah virus corona, berbagai kegiatan dihentikan di negara bagian Maryland. Namun, tak sedikit yang masih beroperasi karena begitu esensialnya bagi warga Maryland, termasuk Interfaith Works Empowerment Center (IWEC), sebuah lembaga nirlaba lintas agama yang memperjuangkan nasib tunawisma.

Kacy Baker, Direktur Progam Interfaith Works, menjelaskan alasan mengapa organisasi yang merupakan koalisi 165 komunitas dari berbagai aliran agama dan kepercayaan itu tetap menjalankan kegiatan rutinnya.

"Kami tahu bahwa layanan yang kami sediakan ini penting untuk bertahan hidup. Makanan, pakaian, tempat penampungan, tempat untuk mandi dan lain-lain. Jadi kami tetap beroperasi. Tempat penampungan tunawisma perempuan masih menampung 70 orang. Para staf kami tetap bekerja, menerima telepon dan menjalin komunikasi dengan para tunawisma, dan para pendonor," papar Baker.

Felix Guzman, kanan, mengenakan sarung tangan pelindung dan masker membagikan sarung tangan sekali pakai duntuk orang-orang yang tak memliliki tempat tinggal di 34th Street, Sabtu, 21 Maret 2020, di New York. (Foto: AP)
Felix Guzman, kanan, mengenakan sarung tangan pelindung dan masker membagikan sarung tangan sekali pakai duntuk orang-orang yang tak memliliki tempat tinggal di 34th Street, Sabtu, 21 Maret 2020, di New York. (Foto: AP)

Baker menjelaskan, sekitar 70 ribu warga Kabupaten Montgomery hidup di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan pemerintah federal, dan sekitar 20 ribu di antara mereka adalah anak-anak. Interfaith Works, yang berdiri sejak 1972, menurutnya, mencoba meringankan beban mereka tanpa memandang latar belakang agama dan kepercayaan orang-orang miskin itu.

Debbie Ezrin, direktur komunikasi Koalisi Maryland untuk Tunawisma, menilai kontribusi Interfaith bagi Kabupaten Montgomery ikut meringankan beban yang ditanggung pemerintah selama wabah virus corona.

“Kami merasa beban kami semakin bertambah karena COVID-19. Sumberdaya kami terbatas karena penutupan kegiatan hampir semua komunitas. Pusat-pusat rekreasi seperti taman tutup, restoran tutup, perpustakaan tutup," kata Ezrin.

"Padahal semua itu adalah tempat-tempat yang biasanya menampung tunawisma. Sebagian staf kami juga terpaksa harus bekerja dari rumah. Yah, beban semakin berat tapi kami berusaha memenuhi panggilan tugas kami," lanjut Ezrin.

Dalam situasi normal, ratusan orang biasa membantu Interfaith Works menjalankan misinya tiap hari, mulai dari menyediakan tempat penampungan darurat hingga pengadaan rumah permanen. Setiap tahunnya, kata Baker, Interfaith Works membantu lebih dari 17 ribu orang miskin, dan atau tunawisma.

Apa saja sebetulnya yang dilakukan Interfaith Works? Organisasi ini memiliki sejumlah tempat penampungan. Becky’s House, contohnya, adalah rumah dengan delapan tempat tidur yang dikhususkan untuk perempuan tunawisma yang lanjut usia.

Di rumah itu, tersedia pengawasan dan perawatan intensif selama 24 jam untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan kestabilan individu-individu yang secara fisik rapuh ini. Sementara itu, Priscilla’s House menampung belasan perempuan tunawisma yang menderita gangguan jiwa.

Organisasi itu juga memiliki pusat bantuan pengadaan tempat tinggal permanen, pusat pelatihan keterampilan, pusat pemberdayaan, pusat konseling, dan pusat bantuan pencarian kerja.

Interfaith Works juga memiliki pusat distribusi pakaian bekas. Jonathan Syemor, seorang relawan yang bertugas di sana menceritakan kesibukannya.

“Setiap pagi mulai pukul 6.30, orang-orang mengantri untuk bukaan pertama pada pukul 9, dan mengantri sejak pukul 11 pagi untuk bukaan kedua pukul 1 siang. Mereka berusaha memastikan mendapatkan pakaian yang mereka butuhkan untuk keluarga mereka," kata Syemor.

Russel Bowers, seorang relawan (kanan), mengantar makanan untuk Becky Foster (32), dan kedua anaknya di Edinburgh, Skotlandia, di tengah pandemi virus corona, 22 April 2020. (Foto: AFP)
Russel Bowers, seorang relawan (kanan), mengantar makanan untuk Becky Foster (32), dan kedua anaknya di Edinburgh, Skotlandia, di tengah pandemi virus corona, 22 April 2020. (Foto: AFP)

Carmen, seorang migran miskin asal Honduras, merasakan manfaat keberadaan pusat distribusi pakaian bekas itu.

“Orang-orang seperti kami tidak mungkin pergi ke mal untuk membeli apa yang kami butuhkan. Di sini kami memperolehnya secara gratis. Ini sangat membantu keluarga saya," kata Carmen.

Interfaith Works berharap mendapat bantuan lebih banyak lagi sehingga dapat mengembangkan program-programnya dan membantu lebih banyak tunawisma dan orang miskin. [ab/uh]

XS
SM
MD
LG