Tautan-tautan Akses

Laki-laki dan Feminisme dalam Pusaran Aksi Teroris Perempuan


Putri Munawaroh, tersangka militan, duduk di kursi terdakwa dalam persidangan di Pengadilan Negeri di Jakarta, Rabu, 7 April 2010. (Foto: AP)

Keterlibatan perempuan dalam berbagai aksi terorisme di Indonesia didorong oleh berbagai faktor. Kajian sejumlah pakar menyebut hal-hal baru, yang mungkin membawa cara pandang berbeda terhadap tindakan mereka.

Psikolog Universitas Indonesia, Dr Zora Sukabdi misalnya, menyatakan ada sistem payung yang membedakan aksi teroris laki-laki dan perempuan. Sistem ini membedakan pilihan pelaku, di mana perempuan menjadikan suami atau ayahnya sebagai rujukan. Perbedaan ini dia temukan dalam penelitian terhadap napi terorisme.

Psikolog Dr Zora Sukabdi. (Foto: VOA/Nurhadi)
Psikolog Dr Zora Sukabdi. (Foto: VOA/Nurhadi)

“Jadi memang berbeda dengan pembuatan keputusan pada laki-laki, dia langsung ke Tuhan kemudian ke imam atau leader-nya. Kalau perempuan, leader-nya lebih ke keluarga dulu, bisa suami atau ayahnya,” kata Zora.

Karena itulah, figur suami atau ayah berperan besar bagi teroris perempuan. Bagi pelaku yang belum menikah, figur ayahnya menjadi acuan utama. Jika figur ayah itu tidak bisa diandalkan, misalnya karena mengecewakan dalam implementasi keagamaan, kata Zora, teroris perempuan baru akan mencari sosok lain.

Dalam diskusi Perempuan, Terorisme dan Media Sosial yang diselenggarakan Kajian Terorisme dan Kajian Gender SKSG Universitas Indonesia, Rabu (28/4), Zora memberikan contoh kecenderungan ini. Pada surat wasiat yang ditinggalkan pelaku teror di Mabes Polri 31 Maret 2021 lalu, pelaku menyebut ibunya 14 kali, sedangkan ayahnya hanya sekali.

“Sehingga mungkin, analisanya memang dia lebih dekat ke ayahnya. Oleh pelaku di Makassar, ibu disebut tujuh kali, sedangkan ayahnya sekali. Tetapi ada faktor, karena dia anak yatim,” tambah Zora.

Meski cenderung menggunakan emosi, tambah Zora, perempuan pelaku terorisme juga memiliki kalkulasi yang rasional terhadap apa yang dia lakukan.

Bagian dari Propaganda

Pakar kajian media dan komunikasi, Dr Puspitasari. (Foto: VOA/Nurhadi)
Pakar kajian media dan komunikasi, Dr Puspitasari. (Foto: VOA/Nurhadi)

Pakar kajian media dan komunikasi UI, Dr Puspitasari menganalisa berbagai aksi terorisme layaknya teater pertunjukan, yang menjadikan masyarakat sebagai penontonnya. Aksi-aksi terorisme didesain sedemikian rupa sehingga menjadi senjata psikologis untuk mengesankan keberanian dan panggilan jihad, heroisme, membangun efek menular, dan propaganda.

Dalam upaya mencapai tujuan dari desain itu, perempuan kemudian dilibatkan. Sayangnya, selama ini konstruksi sosial masyarakat telah menempatkan perempuan dalam femininitas yang melekat. Aspek yang dibangun adalah stereotipe perempuan sebagai pihak yang lemah lembut, pendukung keluarga, pengasuh anak, mengalah dan jauh dari kekerasan.

Laki-Laki dan Feminisme dalam Pusaran Aksi Teroris Perempuan
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:30 0:00

“Persoalannya adalah, perempuan dalam drama terorisme ditempatkan dengan memanfaatkan sterotipe yang berdasarkan femininitas tadi, sehingga perempuan diabaikan dalam pemeriksaan fisik, diabaikan dalam pemantauan, yang dalam satu titik membuat aparat lengah,” kata Puspitasari.

Karena masyarakat menempatkan perempuan dalam stereotipe itu, mereka cenderung tidak percaya ketika perempuan melakukan aksi terorisme. Padahal, lanjut Puspitasari, riset menunjukkan bahwa perempuan punya peran sangat vital dalam organisasi teroris.

Tim forensik Polri memeriksa lokasi kejadian bom di sebuah gereja di Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei 2018. (Foto: REUTERS/Sigit Pamungkas)
Tim forensik Polri memeriksa lokasi kejadian bom di sebuah gereja di Surabaya, Jawa Timur, 13 Mei 2018. (Foto: REUTERS/Sigit Pamungkas)

Perempuan menjadi ahli propaganda, terlibat perekrutan, pengumpulan dana untuk biaya kegiatan terorisme, bagian dari operator sistem teknologi infomasi, dipakai sebagai ornamen, pengasuh anak secara ideologis, hingga menyediakan dukungan logistik sampai materi bom. Dalam beberapa kasus, perempuan bahkan menjadi pelaku bom itu sendiri.

“Jangan lupa, dalam konsep teater, perempuan menjadi pemain utama dalam orkestrasi teater tersebut. Sudahkan kita memperhitungkan akibat, dari melihat perempuan secara stereotipe,” ujar Puspitasari bernada tanya.

Proses yang Berbeda

Antropolog Dr Amanah Nurish. (Foto: VOA/Nurhadi)
Antropolog Dr Amanah Nurish. (Foto: VOA/Nurhadi)

Antropolog Dr Amanah Nurish mengakui bahwa terorisme adalah aksi lintas gender. Dalam kasus pelaku perempuan, aparat lebih sulit menjaringnya karena identitas yang kompleks dan sulit diprediksi.

Amanah yang melakukan penelitian terorisme perempuan di Sulawesi Tengah melihat, unsur kewilayahan menjadi faktor cukup berpengaruh. Dalam sudut pandang antropologi, saat ini ada kecenderungan lebih mudah merekrut perempuan dari Jawa Barat. Perempuan yang direkrut bahkan sudah sampai ke generasi milenial.

“Perempuan-perempuan teroris dari Sulawesi dan Sumatera, militansinya sangat luar biasa dan masih konvensional. Sementara militansi JAD ala kasus Jawa Barat, mereka masih kategori massa mengambang karena sosial media, pengaruh dari internet dan sebagainya,” kata Amanah.

Di Jawa, perempuan lebih mudah mengakses internet dan karena itu generasi milenial sudah banyak terpapar. Sementara di Sumatera dan Sulawesi, pelaku cenderung berasal dari generasi sebelumnya, namun mereka sangat militan daam mengimani ISIS. Tanpa mengakses doktrin secara online, mereka bahkan bisa menjadi pelatih atau guru bagi teroris perempuan lain.

Dalam satu sisi, perempuan yang sudah memutuskan untuk melakukan amaliah, biasanya memiliki perasaan tidak tega meninggalkan anak mereka. Karena itulah, muncul aksi bom bunuh diri yang dilakukan seluruh anggota keluarga. Pilihan aksi ini dipengaruhi aspek keibuannya, yang tidak bisa meninggalkan anak-anaknya hidup sendiri.

Amanah juga menyebut, feminisme memiliki kontribusi pada peningkatan aksi teroris perempuan. Mereka seolah ingin membuktikan, bahwa peremupuan juga punya peran penting dalam tindakan ini dan setara dengan laki-laki.

Kritis pada Dogma

Pemikir muslimah, Prof Musdah Mulia. (Foto: VOA/Nurhadi)
Pemikir muslimah, Prof Musdah Mulia. (Foto: VOA/Nurhadi)

Pemikir muslimah, Prof Musdah Mulia berpesan, perempuan harus memiliki nalar kritis, karena tidak ada ajaran agama yang berlawanan dengan akal sehat. Dalam konteks ini, ketaatan kepada figur, baik suami maupun pemimpin tidak boleh mutlak karena akan berbahaya.

Perempuan pelaku terorisme sering dibuai oleh romantisme keagamaan masa lalu. Dalam konteks Islam, salah satunya adalah romantisme sistem khilafah. Ada kecenderungan, perempuan bukan lagi dijebak pada aksi terorisme, tetapi memang menjadi agensi penting karena memiliki keyakinan atas apa yang dia lakukan. Namun Musdah mengingatkan, ideologi semacam itu bukan monopoli Islam, karena juga ada dalam agama lain seperti Kristen dan Buddha.

Dalam kajian yang dia lakukan, Musdah menemukan fakta bahwa perkawinan kadang dimanfaakan untuk tindak terorisme ini. Pada kondisi semacam itulah, kesetiaan perempuan terhadap apa yang dilakukannya, bisa lebih besar dibanding laki-laki.

“Perempuan biasanya kalau sudah didoktrin seperti itu, baik oleh ayahnya, oleh suaminya atau imamnya, bisa mengalahkan loyalitas lelaki,” kata Musdah.

Karena itulah, lanjut Musdah, penting bagi perempuan untuk berdaya dan memiliki literasi yang kuat, sehingga tidak mudah dihipnotis. [ns/ab]

Lihat komentar (2)

Forum ini telah ditutup.

Recommended

XS
SM
MD
LG