Tautan-tautan Akses

Lagi, Pro Kontra Penyemprotan Disinfektan


Petugas Satgas COVID-19 mengenakan alat pelindung diri (APD) menyemprotkan disinfektan di jalan untuk mencegah penyebaran COVID-19 di Solo, Jawa Tengah, 6 Juli 2021. (Foto: Antara/Mohammad Ayudha via Reuters)

Perebakan luas virus corona, khususnya varian Delta yang lebih cepat menular dibanding varian sebelumnya, mendorong banyak kota melakukan penyemprotan disinfektan di pemukiman yang memiliki tingkat perebakan masif. Jalan-jalan di sekitarnya ikut disemprot. Pro kontra pun tak terhindarkan.

Tangan Ismail tampak luka dan melepuh. Kulit jemarinya mengelupas. Sesekali bapak dua anak ini mengoleskan salep di tangannya. Luka di tangannya itu, ujar Muhammad Ismail, adalah dampak iritasi parah karena disinfektan selama pandemi.

"Awalnya saya kaget, tangan saya kulit terasa kasar, mengelupas, gatal-gatal. Tangan saya kalau kena disinfektan seperti itu. Ada luka dan perih. Iritasi kulit sering terkena cairan disinfektan semprot,” ujar Ismail ketika ditemui VOA. Kondisinya semakin parah karena kulit tangannya tergolong sensitif sehingga meski diobati, akan kembali luka jika terkena cairan disinfektan.

Penyemprotan disinfektan di berbagai jalanan di Solo saat awal PPKM Darurat, (6/7). (Foto: Courtesy/Pemkot Surakarta)
Penyemprotan disinfektan di berbagai jalanan di Solo saat awal PPKM Darurat, (6/7). (Foto: Courtesy/Pemkot Surakarta)

Kondisi berbeda dialami Mayasari. Bagi Maya, bau menyengat disinfektan saat penyemprotan membuatnya merasa pusing.

"Saya tidak kuat kalau bau disinfektan. Baunya menyengat, membuat pusing. Jadi saya menghindar kalau ada penyemptotan disinfektan,” jelas Maya.

Penggunaan disinfektan untuk membunuh virus masih marak ditemukan di berbagai daerah, termasuk di Solo, Jawa Tengah. Mobil water cannon atau penyemprot air milik Dinas Pemadam Kebakaran dan petugas-petugas yang memanggul jerigen cairan desinfektan hilir mudik menyemprot jalan-jalan hingga pemukiman warga. Tak jarang, petugas penyemprotan disinfektan tidak mengenakan alat pengaman atau baju pelindung.

Pekerja menyemprotkan disinfektan saat persiapan jelang pembukaan kembali kebun binatang saat pembatasan COVID-19 dilonggarkan di Solo, Provinsi Jawa Tengah, 18 Juni 2020. (Foto: Antara/Maulana Surya via REUTERS)
Pekerja menyemprotkan disinfektan saat persiapan jelang pembukaan kembali kebun binatang saat pembatasan COVID-19 dilonggarkan di Solo, Provinsi Jawa Tengah, 18 Juni 2020. (Foto: Antara/Maulana Surya via REUTERS)

Bau klorin atau cairan yang biasa dipakai untuk pemutih pakaian atau pembersih toilet itu tercium sangat menyengat hingga radius puluhan meter.

Penyemprotan disinfektan kadang mengenai tubuh orang yang melintasinya. Bulir-bulir cairan disinfektan menempel baju maupun anggota tubuh lainnya.

Di jalanan, pengendara motor sering terkena di bagian tangan. Kepala dan muka masih terlindungi helm dan masker sedangkan jaket melindungi badannya.

Paparan Disinfektan pada Tubuh Berdampak Buruk

Pakar kimia dari Universitas Sebelas Maret UNS, Profesor Eddy Heraldy, kepada VOA, Kamis (22/7), mengatakan penggunaan disinfektan langsung ke tubuh akan memberikan dampak buruk, terutama kulit, mata, dan saluran pernafasan. Menurut Eddy, kandungan bahan kimia dalam produksi disinfektan tidak boleh sembarangan.

"Kalau penggunaan disinfektan di rumah, jalanan, di barang atau benda mati itu tidak masalah jika bahan kimia yang dipakai sesuai aturan, ada baku mutunya," jelas Guru Besar Kimia Fakultas MIPA UNS Solo itu.

Klorin, ozon, atau alkohol. Petugas penyemprot juga memakai alat pelindung mata, masker khusus, dan baju pengaman, bagaimanapun juga disinfektan itu kan kimia, kalau kena mata bisa iritasi, mata merah, dan juga kulit atau pernafasan, ya butuh perlindungan itu saja,” tambahnya.

Penyenprotan disinfektan di pemukiman warga di Solo, Minggu (25/7). (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)
Penyenprotan disinfektan di pemukiman warga di Solo, Minggu (25/7). (Foto: VOA/ Yudha Satriawan)

Lebih lanjut Eddy mengungkapkan pembuatan bilik penyemprotan disinfektan perorangan di pintu masuk sejumlah instansi juga dinilai tidak efektif mematikan virus. Menurutnya penyemprotan disinfektan sedianya diperuntukkan bagi benda -beda mati saja, bukan makhluk hidup.

Edukasi Lebih Penting Dibanding Penyemprotan

Pakar penyakit menular dari University of Maryland, Amerika Serikat Dr Faheem Younus sempat menyoroti kegiatan penyemprotan disinfektan di jalan-jalan yang dilakukan di Indonesia dan sejumlah negara lainnya, yang menurutnya akan sia-sia karena membuang energi dan uang. Ia juga menyoroti “bilik sauna” yang disebut-sebut akan meningkatkan imunitas.

Organisasi Kesehatan Dunia WHO juga menyatakan penyemprotan disinfektan di jalanan sebagai cara konyol untuk menghindari penularan virus corona. Penyemprotan jalanan menggunakan disinfektan dinilai WHO tidak ada gunanya.

Penggunaan disinfektan masih menjadi salah satu cara menangani penularan virus di masa pandemi ini. Mesin-mesin penyemprot disinfektan terus berbunyi seiring semburan bulir-bulir cairan kimia memenuhi udara dan membasahi seluruh benda dan makhluk hidup di sekitarnya.

Bagi Profesor Eddy, di masa pandemi, lebih baik mengedukasi masyarakat menerapkan protokol kesehatan.

Lagi, Pro Kontra Penyemprotan Disinfektan
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:02:52 0:00

"Penyemprotan disinfektan menurut saya ya efektif kalau tepat sasaran, kalau tidak ya akan tidak efektif. Saran saya untuk masyarakat dan pemerintah, lebih baik sosialisasi upaya preventif saja, terapkan protokol kesehatan, 5M. Itu saja,” pungkas Eddy.

Sementara itu, Ismail, tetap mendukung penyemprotan disinfektan namun khusus untuk benda atau barang yang sering dipegang banyak orang di fasilitas publik.

"Ya saya rasa masih perlu penggunaan disinfektan, tetapi jangan mengenai orang. Dilap saja benda atau barang yang sering dipegang orang di fasilitas publik. Kadang kan kita tidak tahu apakah orang itu habis bersin kemudian memegang sesuatu,” ungkap Ismail. [ys/em]

Recommended

XS
SM
MD
LG