Tautan-tautan Akses

Lagi, Indonesia Serukan Hentikan Perang di Ukraina


Menlu RI Retno Marsudi (kiri) dalam pertemuan dengan Menlu AS Antony Blinken di kantor Deplu AS di Washington, DC hari Jumat (13/5).
Menlu RI Retno Marsudi (kiri) dalam pertemuan dengan Menlu AS Antony Blinken di kantor Deplu AS di Washington, DC hari Jumat (13/5).

Invasi Rusia di Ukraina dan dampaknya terhadap perekonomian dunia, termasuk di negara-negara Asia Tenggara, menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan bilateral Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken dan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi Jumat pagi (13/5).

Dalam konferensi pers sebelum pertemuan di Departemen Luar Negeri di Washington DC, Retno Marsudi kembali menegaskan seruan Indonesia agar perang di Ukraina dapat segera dihentikan. “Harapan kami perang di Ukraina secepat mungkin berhenti dan ada kesempatan mencapai resolusi damai, karena kita tahu, jika perang berlanjut maka kita semua akan menderita,” ujar Retno kepada mitranya Antony Blinken.

Meskipun tidak secara terang-terangan menyebut nama suatu negara, Retno menegaskan prinsip Indonesia dalam soal integritas dan kedaulatan negara. “Saya ingin kembali menegaskan kembali prinsip Indonesia yang sangat konsisten tentang pentingnya menghormati keutuhan wilayah dan kedaulatan suatu negara terhadap negara lain. Prinsip ini dijunjung tinggi Indonesia secara sangat konsisten,” tegasnya.

Menlu RI Retno Marsudi berbicara dengan Menlu AS Antony Blinken (tidak tampak) dalam pertemuan di kantor Deplu AS di Washington, DC hari Jumat (13/5).
Menlu RI Retno Marsudi berbicara dengan Menlu AS Antony Blinken (tidak tampak) dalam pertemuan di kantor Deplu AS di Washington, DC hari Jumat (13/5).

Indonesia memang telah berulang kali menyerukan dihentikannya perang di Ukraina, tetapi tidak pernah secara terang-terangan menyebut Rusia, sebagai pihak yang memulai invasi 24 Februari lalu.

UNHCR mengatakan lebih dari enam juta warga terpaksa meninggalkan Ukraina mengungsi ke negara-negara tetangga, antara lain: Polandia, Romania, Hungaria, Moldova dan Slovakia. Dampak ekonomi dari konflik yang sudah memasuki bulan ketiga ini dirasakan oleh seluruh negara, termasuk negara-negara di Asia Tenggara, yang belum lagi pulih pasca perebakan luas pandemi virus corona.

Gedung Putih: Konflik di Ukraina Jadi Agenda

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki hari Kamis (12/5) mengatakan konflik di Ukraina memang menjadi bagian dari agenda dialog dalam KTT AS-ASEAN yang berlangsung selama dua hari, tetapi ia tidak dapat memperkirakan apakah akan ada pernyataan bersama tentang hal ini.

“Ada beberapa negara ASEAN yang telah menjadi mitra penting yang mengecam secara terang-terangan tindakan Rusia dan invasi ke Ukraina, ikut serta dan mendukung sanksi-sanksi yang dijatuhkan, dan mematuhi hal itu. Konflik yang kita saksikan ini merupakan saat unik dalam sejarah modern global. Jadi tentu saja ini akan masuk dalam agenda KTT,” ujarnya.

AS Juga Soroti Krisis di Myanmar

Namun Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken, dalam pernyataan pers bersama, justru menyoroti krisis lain yang berkelanjutan di Myanmar, salah satu negara anggota ASEAN.

“Kami memiliki banyak isu untuk dibicarakan, termasuk situasi di Myanmar dan tugas-tugas lain,” ujarnya.

Tetapi ia menambahkan bahwa kemitraan kuat di antara negara-negara ASEAN selama 1,5 tahun terakhir diyakini akan membantu menyelesaikan krisis yang ada.

Ia secara khusus juga memuji kepemimpinan Indonesia sebagai “country coordinator” ASEAN dan keberhasilan penyelenggaraan KTT AS-ASEAN. “Terima kasih atas kepemimpinan luar biasa Indonesia... Keberhasilan hal ini (KTT AS-ASEAN.red) tidak lepas karena kepemimpinan Indonesia sebagai country coordinator kita, juga sebagai pemimpin ASEAN. Dari hasil pembicaraan dengan Presiden Biden, saya mengetahui bahwa pertemuan-pertemuan itu telah berlangsung sukses, dan semakin menekankan eratnya hubungan kita (Amerika-Indonesia.red), Amerika lekat hubungannya dengan ASEAN dan sentralitas ASEAN. Sebagian besar hal ini berkat kepemimpinan Indonesia.”

Wakil Presiden Kamala Harris memimpin pertemuan KTT AS-ASEAN hari kedua di Departemen Luar Negeri Jumat ini, yang selain diikuti kesembilan pemimpin negara anggota ASEAN, dihadiri pula oleh Utusan Khusus Amerika Untuk Perubahan Iklim John Kerry. Pertemuan puncak bersama Presiden Joe Biden dilangsungkan Jumat sore, yang menurut rencana diakhiri dengan dirilisnya sebuah komunike bersama. [em/pp]

XS
SM
MD
LG