Tautan-tautan Akses

Kurang Gizi Kronis dan Hepatitis B, Ancaman bagi Balita Indonesia


Tim Kemenko PMK meninjau penimbangan berat badan balita dan aktifitas Posyandu di Solo, Jawa Tengah, Selasa 18/7. (Foto: VOA/Yudha)
Tim Kemenko PMK meninjau penimbangan berat badan balita dan aktifitas Posyandu di Solo, Jawa Tengah, Selasa 18/7. (Foto: VOA/Yudha)

Kurang gizi kronis atau stunting dan penyebaran hepatitis B menjadi ancaman nyata bagi bayi dan anak Indonesia.

Lebih dari 20 balita dan belasan ibu hamil menjalani pemeriksaan di Pos Pelayanan Keluarga Berencana - Kesehatan Terpadu atau Posyandu di Solo, Selasa (18/7). Puluhan balita dan ibu hamil ini diperiksa tim kesehatan Pemkot Solo terkait kelengkapan imunisasi, kondisi janin, kelengkapan asupan gizi, berat badan, tinggi badan dan sebagainya.

Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan atau Kemenko PMK memberi perhatian khusus pada dua masalah kesehatan yang dihadapi ibu hamil yaitu stunting atau kekurangan gizi kronis dan penyebaran hepatitis B pada bayi.

Data Kementerian kesehatan, menunjukkan 37,2 persen atau sekitar 9 juta anak mengalami gizi buruk kronis sementara Ibu hamil yang mengidap hepatitis 30 persen juga berpotensi menularkan pada anaknya.

Saat melihat langsung kondisi aktivitas posyandu di Solo, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sigit Prio Utomo, mengatakan ketidaktahuan masyarakat terhadap penyakit tersebut ditambah ketidakpedulian pada kesehatan kandungan membuat kasus itu meningkat

“Di Indonesia, stunting atau kekuranagn gizi kronis itu biasanya berhubungan dengan tingkat ekonomi masyarakat yang rendah, namun saat ini kita temukan kasus stunting terjadi di daerah yang tingkat ekonomi bagus, kasus stunting justru tinggi. Ini kenapa? Jadi perhatian kita. Analisa kita artinya ada yang salah dengan kondisi itu, mungkin partisipasi ibu hamil, masyarakat di daerah yang ekonominya maju itu rendah dalam kegiatan Posyandu atau pemeriksaan kesehatan," ungkap Sigit.

Terkait upaya pemerintah untuk menanganinya Sigit menambahkan, "Tahun ini kita coba program untuk menangani stunting di 19 kabupaten kota dengan kasus stunting-nya tinggi dengan harapan kasus stunting itu bisa ditangani secara intensif dan jumlah kasus menurun. Tahun berikutnya kita coba lagi pada 50 kabupaten kota lainnya. Tidak hanya stunting, kasus penyebaran hepatitis B pada bayi juga mengkhawatirkan. Penularan hepatitis terus terjadi pada masyarakat, terutama pada ibu hamil. Banyak kita temukan ibu hamil mengidap hepatitis B. Itu kalau tidak kita programkan dengan baik, potensi penularan 30 persen ibu hamil positif hepatitis B akan terjadi pada janin atau bayinya hingga pasca kelahiran, bayi yang terjangkit hepatitis B harus mendapat imunisasi Hb0.”

Walikota Solo, Hadi Rudyatmo menegaskan pemerintah memberilayanan gratis bagi ibu hamil hingga proses melahirkan. Menurut Rudy, pemerintah kota Solo juga membuka kelas khusus bagi ibu hamil yang akan mengajarakan berbagai hal menyangkut kehamilan dan proses melahirkan.

“Kwhamilan bulan ke 3 pertama cek laboratorium gratis, 3 bulan berikutnya cek laboratorium lagi juga gratis, begitu juga di masa kehamilan jelang kelahiran cek laboratorium juga gratis. Melahirkan pun bisa dibiayai APBD, sehingga kan kita mengurus masyarakat, sejak dalam kandungan sampai kelahiran,” papar Rudy.

Kurang Gizi Kronis dan Hepatitis B, Ancaman bagi Balita Indonesia
mohon tunggu

No media source currently available

0:00 0:03:55 0:00

Indonesia adalah salah satu negara yang masih dibelit masalah gizi. Berdasarkan Global Nutrition Report , Indonesia termasuk 17 negara yang memiliki masalah kekurangan gizi serius.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis. Kondisi ini ditandai dengan tinggu tubuh anak yang terlalu pendek untuk usianya. Kondisi kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir. Namun stunting baru terlihat setelah anak berusia dua tahun. Stunting mempengaruhi tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, dan produktivitas.

Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia, WHO dan pihak-pihak terkait akan menyelenggarakan 2 prakarsa global untuk mengadvokasi perlunya penanganan terhadap penyebaran virus hepatitis. Hari Hepatitis Dunia 2017 akan diperingati pada tanggal 28 Juli dengan tema "Musnahkan Hepatitis".

Adapun konvensi utama komunitas hepatitis dunia atau World Hepatitis Summit 2017 akan digelar 1-3 November 2017 mendatang di Brazil. [ys/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG