Tautan-tautan Akses

Korsel Minta Utusan AS Hidupkan Kembali Pembicaraan dengan Korut


Wakil Menteri Luar Negeri AS Stephen Biegun (kiri) dan Penasihat Keamanan Nasional Presiden Korea Selatan, Suh Hoon, di Seoul, Korea Selatan, 9 Juli 2020. (Foto: South Korea Presidential Blue House via AP)
Wakil Menteri Luar Negeri AS Stephen Biegun (kiri) dan Penasihat Keamanan Nasional Presiden Korea Selatan, Suh Hoon, di Seoul, Korea Selatan, 9 Juli 2020. (Foto: South Korea Presidential Blue House via AP)

Korea Selatan, Kamis (9/7), meminta utusan khusus AS yang sedang berkunjung untuk berusaha menghidupkan kembali pembicaraan nuklir yang mengalami kebuntuan dengan Korea Utara. Pyongyang selama ini menolak melanjutkan kembali pembicaraan itu karena kebijakan-kebijakan Washington yang dinilai bermusuhan.

Wakil Menteri Luar Negeri AS Stephen Biegun, yang juga menjadi utusan AS untuk masalah Korea Utara, telah berada di Seoul sejak Selasa (7/7) untuk melangsungkan pembicaraan terkait masalah itu. Ia juga dijadwalkan melawat ke Jepang, Kamis (9/7).

Dalam pembicaraan dengan Penasihat Keamanan Nasional Presiden Korea Selatan yang baru, Suh Hoon, Biegun menegaskan pentingnya melanjutkan kembali pembicaraan antara Pyongyang dan Washington, dan sepakat untuk melakukan koordinasi erat dengan Seoul, sebut pernyataan yang dikeluarkan Gedung Biru, rumah kepresidenan Korea Selatan.

Menurut pernyataan itu, Suh menghargai usaha Biegun untuk memulai kembali diplomasi AS-Korea Utara dan memintanya melanjutkan usaha itu.

Wakil Menlu AS Stephen Biegun (kiri) dan Penasihat Keamanan Nasional Presiden Korea Selatan Suh Hoon di Seoul, Korea Selatan, 9 Juli 2020.
Wakil Menlu AS Stephen Biegun (kiri) dan Penasihat Keamanan Nasional Presiden Korea Selatan Suh Hoon di Seoul, Korea Selatan, 9 Juli 2020.


Setelah pertemuan dengan sejumlah pejabat Seoul lain, Rabu (9/7), Biegun menyiratkan bahwa Washington masih membuka peluang untuk berbicara dengan Pyongyang. Namun ia juga menuduh seorang perunding nuklir Korea Utara, yang menyatakan kebuntuan pembicaraan itu terjadi karena sikap bermusuhan Amerika, masih terjebak dalam cara berpikir yang sudah ketinggalan zaman. Ini mengindikasikan bahwa Washington tidak akan membuat konsesi untuk melanjutkan kembali pembicaraan meskipun ada tekanan dari Korea Utara.

Korea Utara sebelumnya menuntut agar AS mencabut sanksi-sanksi internasional dan menyediakan jaminan keamanan jika sungguh-sungguh berkomitmen pada pembicaraan itu.

Pembicaraan nuklir itu tidak menghasilkan kemajuan yang berarti sejak gagalnya KTT ke-2 antara Kim dan Presiden Donald Trump pada awal 2019. Pemerintah liberal Korea Selatan, yang memfasilitasi bagian awal diplomasi nuklir itu, mengatakan, akan mendorong dimulainya kembali pembicaraan tersebut untuk menciptakan perdamaian di Semenanjung Korea. [ab/uh]

Recommended

XS
SM
MD
LG