Tautan-tautan Akses

Ada banyak laporan beredar di internet bahwa mariyuana legal, berlimpah dan sangat murah di Korea Utara.

Korea Utara belakangan ini mendapat sanjungan tinggi dari para pemadat.

Media-media yang fokus pada berita soal mariyuana, seperti High Times, Merry Jane dan Green Rush -- serta tabloid-tabloid yang senang sensasi -- menyebut Korea Utara sebagai surga ganja dan mungkin bahkan menjadi Amsterdam berikutnya dalam hal wisata mariyuana.

Mereka melaporkan bahwa mariyuana legal, berlimpah dan sangat murah di Korea Utara, dijual secara terbuka ke turis-turis China dan Rusia di sebuah pasar besar di perbatasan Utara dengan harga sekitar Rp 40 ribu per setengah kilogram.

Klaim bahwa mariyuana legal di Korea Utara tidak benar: Undang-undang pidana Korea Utara memasukkannya ke dalam substansi yang dikontrol dalam kategori yang sama seperti kokain dan heroin. Dan pihak yang kemungkinan akan membantu warga Amerika yang didakwa pidana di Korea Utara menolak ide bahwa larangan itu tidak berlaku.

"Seharusnya tidak ada keraguan bahwa narkoba, termasuk mariyuana, adalah ilegal di sini," ujar Torkel Stiernlof, Duta Besar Swedia. Amerika Serikat tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Utara, sehingga Kedutaan Besar Swedia bertindak sebagai penengah jika warga negara AS berhadapan dengan aturan Korea Utara.

"Tidak ada yang bisa membelinya secara legal dan mengkonsumsinya merupakan pelanggaran hukum pidana," ujar Stiernlof. Ia mengatakan bahwa jika orang Amerika yang melanggarnya, ia tidak akan diberikan ampunan apa pun.

Meski demikian, klaim bahwa Korea Utara adalah surga bagi perokok mariyuana sukses berputar di internet dalam berbagai versi dalam beberapa tahun terakhir.

Troy Collings, yang rutin bepergian ke Korea Utara dan direktur pengelola agen perjalanan Young Pioneer Tours, menawarkan penjelasan sederhana: itu hanyalah hemp, sejenis mariyuana yang tidak membuat teler.

"Saya telah melihat dan bahkan membeli hempt, tapi itu tidak mengandung THC (zat kimia yang menyebabkan efek teler dalam mariyuana) dan dijual sebagai pengganti tembakau berharga murah," katanya.

"Hemp tumbuh di daerah pegunungan Utara dan orang-orang memetiknya, mengeringkannya dan menjualnya di pasaran, tapi tidak menyebabkan teler seberapa pun banyaknya dikonsumsi."

Korea Utara menanam sesuatu yang lain yang mungkin disalahartikan sebagai mariyuana: campuran daun tembakau berwarna cokelat dan hijau yang diisap dengan pipa dan dijual terbuka di Pyongyang dan tempat lain.

Merokok campuran itu dalam jumlah banyak jelas akan memberi efek tertentu, dan mungkin sakit kepala berat, tapi dari nikotin. [hd]

XS
SM
MD
LG