Tautan-tautan Akses

Korea Utara Berusaha Cegah Kerusakan Akibat Banjir di Tengah Krisis COVID


Seorang anak laki-laki Korea Utara memegang sekop di ladang jagung di daerah yang rusak akibat banjir dan topan baru-baru ini di pertanian kolektif Soksa-Ri di Provinsi Hwanghae Selatan. (Foto: Reuters)
Seorang anak laki-laki Korea Utara memegang sekop di ladang jagung di daerah yang rusak akibat banjir dan topan baru-baru ini di pertanian kolektif Soksa-Ri di Provinsi Hwanghae Selatan. (Foto: Reuters)

Warga Korea Utara berusaha melindungi tanaman pangan, peralatan pabrik, dan aset-aset lainnya dari potensi kerusakan akibat hujan deras selama berhari-hari, kata media pemerintah KCNA, Selasa (28/6). Sementara itu, para pengamat di luar Korea Utara mengatakan, mereka khawatir banjir apa pun dapat memperburuk kesulitan ekonomi negara itu di tengah wabah COVID-19.

Banjir musim panas di Korea Utara, salah satu negara termiskin di Asia, sering menyebabkan kerusakan serius pada pertanian dan sektor lainnya karena sistem drainase yang bermasalah dan penggundulan hutan.

Topan dan hujan lebat pada tahun 2020 termasuk di antara kesulitan yang menurut pemimpin Kim Jong Un telah menciptakan “banyak krisis '' di dalam negeri, bersama dengan pembatasan ketat terkait pandemi dan sanksi-sanksi PBB atas program senjata nuklirnya.

Otoritas cuaca Korea Utara memperkirakan musim hujan tahun ini akan dimulai pada akhir Juni dan mengeluarkan peringatan untuk hujan lebat di sebagian besar wilayahnya dari Senin hingga Rabu.

KCNA mengatakan Selasa bahwa pihak berwenang di wilayah tengah dan barat daya “telah memusatkan semua kekuatan dan sarana pada usaha untuk mengatasi kemungkinan kerusakan akibat banjir dan topan''.

Mereka berusaha melindungi tanaman pangan, peralatan di perusahaan industri logam dan kimia, fasilitas pembangkit listrik dan kapal penangkap ikan dari hujan lebat. KCNA juga melaporkan, badan penanggulangan bencana negara itu sedang meninjau kesiapan para pekerja darurat dan staf medis.

Petani di pertanian koperasi Chongsan-ri mulai menanam padi untuk tahun ini pada Selasa, 12 Mei 2020, di Nampho, Korea Utara. (Foto: AP)
Petani di pertanian koperasi Chongsan-ri mulai menanam padi untuk tahun ini pada Selasa, 12 Mei 2020, di Nampho, Korea Utara. (Foto: AP)

KCNA mengatakan para pejabat Korea Utara mendesak penduduk mematuhi pembatasan terkait pandemi selama musim hujan di negara itu. Kantor berita itu melaporkan, para pekerja medis siap untuk menangani potensi masalah kesehatan utama, dan para pejabat berusaha memastikan penegakan langkah-langkah pengendalian epidemi di tempat-tempat penampungan bagi orang-orang yang dievakuasi dari daerah yang dilanda banjir.

Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengatakan pada Selasa malam bahwa pihaknya meminta Korea Utara untuk memberi tahu Korea Selatan terlebih dahulu jika mereka berencana untuk melepaskan air bendungan di sepanjang perbatasan saingan. Beberapa pelepasan air bendungan yang tiba-tiba dan tidak diinformasikan sebelumnya merenggut korban jiwa di kota-kota Korea Selatan yang berbatasan dengan Korea Utara.

Permintaan Korea Selatan disampaikan melalui saluran komunikasi hotline militer lintas batas. Sebelumnya Selasa, Korea Selatan mengatakan Korea Utara tidak menanggapi panggilannya di saluran komunikasi resmi lainnya tetapi para pejabat penghubung dari kedua negara akhirnya berhasil melakukan komunikasi reguler mereka.

Kekhawatiran tentang hujan lebat muncul setelah Korea Utara bulan lalu mengakui negaranya menghadapi wabah virus corona. Negara itu mengatakan, sekitar 4,7 juta dari 26 juta orang di negara itu jatuh sakit dan hanya 73 yang meninggal, tetapi para ahli mempertanyakan apakah propaganda Korea Utara telah memberikan gambaran yang benar tentang wabah tersebut. [ab/lt]

Forum

Recommended

XS
SM
MD
LG