Tautan-tautan Akses

Kontroversi Menyusul Pemilihan Pemimpin Hong Kong


Seorang pengunjuk rasa mengangkat poster yang menggambarkan Kepala Executive Hong Kong Leung Chun-ying (kiri) bertanduk setan pada aksi damai hari pertama di Hong Kong, 1 Januari 2017. (AP Photo/Vincent Yu)

Pemilihan pejabat tertinggi Hong Kong sudah mengalami tantangan besar sejak wilayah ini kembali ke China pada tahun 1997. Dan kontroversi tampaknya akan menjadi agenda dalam pemilihan kepala eksekutif berikutnya.

Salah satu mantan pejabat tinggi nomor dua sudah di penjara karena kasus suap, dan atasannya waktu itu, Donald Tsang, sekarang sedang diadili, juga atas tuduhan korupsi yang katanya tidak dia lakukan. Daftar saksi yang diajukan jaksa penuntut dalam kasus Tsang termasuk dua mantan pemegang posisi tertinggi kedua untuk wilayah itu.

Salah satunya adalah Henry Tang, yang mencalonkan diri untuk kepala eksekutif pada 2012 tapi gagal di tengah penyelidikan yang mengungkapkan pembangunan besar tanpa surat izin di rumahnya. Satu lagi adalah Carrie Lam, yang pada Kamis mengundurkan diri posisinya untuk ikut pemilihan kepala eksekutif.

Sidang Tsang saat ini memberi gambaran yang kurang baik untuk kampanye pemilihan pemimpin Hong Kong berikutnya, menjadi pengingat akan hubungan pribadi dan bisnis yang saling menguntungkan antara pemerintah dengan orang kaya dan elit profesional yang diandalkan untuk dukungan politik.

Kepala eksekutif pertama, Tung Chee-hwa, terpaksa mengundurkan diri setelah protes besar-besaran terkait upaya untuk memberlakukan undang-undang yang tidak populer mengenai keamanan nasional. Pemimpin ketiga dan pemimpin Hong Kong saat ini, C.Y. Leung, baru-baru ini mengumumkan bahwa ia tidak akan mencalonkan diri untuk masa jabatan kedua, dengan alasan keluarga, meskipun secara luas diyakini dia sebenarnya ingin terpilih lagi.

Pemilihan oleh sebuah komite yang terdiri dari 1.200 orang dan didominasi Beijing itu akan digelar Maret. [as/ab]

XS
SM
MD
LG