Tautan-tautan Akses

AS

Kongres AS Bersiap Hadapi Keputusan Trump Soal Kesepakatan Nuklir Iran


Capitol Hill, Washington DC (Foto: dok).

Presiden Donald Trump diperkirakan, hari ini, Kamis (12/10), akan mengumumkan bahwa Iran tidak mematuhi kesepakatan nuklir yang disebut Rencana Aksi Komprehensif Bersama 2015 yang dirundingkan oleh pendahulunya, Barack Obama, untuk menghentikan aktivitas nuklir Iran. Keputusan Trump ini akan memberi Kongres waktu selama 60 hari untuk menetapkan langkah-langkah berikutnya terkait Iran.

Reporter VOA Katherine Gypson melaporkan mengapa keputusan presiden ini akan menempatkan para legislator di Capitol Hill dalam posisi sulit.

Presiden Donald Trump pernah mengatakan, "Kesepakatan nuklir Iran barangkali adalah kesepakatan nuklir terburuk yang pernah dibuat. Jika kesepakatan itu tidak dipenuhi sebagaimana seharusnya, mereka akan menghadapi masalah besar.”

Dalam waktu dekat, kesepakatan ini akan menjadi masalah Kongres. Namun, sejumlah anggota partai presiden sendiri mengatakan, lebih baik memperbaiki apa yang sudah disepakati.

Ed Royce, tokoh Partai Republik yang mengepalai Komisi Urusan Luar Negeri DPR AS mengatakan, "Seburuk apapun kesepakatan itu, saya yakin kita harus memberlakukannya.”

Dan jika kesepakatan yang sudah berumur dua tahun itu dipertanyakan, Gedung Putih yang seharusnya mengarahkannya.

Royce mengatakan, "Penting bagi presiden untuk menjabarkan fakta-fakta. Ia harus menjelaskan apa arti keputusannya itu, dan apa yang bukan. Dan kemudian, saya harap, seperti yang saya lakukan di sini pada hari ini, presiden akan mendefinisikan jalur yang bertanggungjawab untuk mengkonfrontasi semua ancaman.”

Namun, sejumlah pejabat tinggi Partai Demokrat memperingatkan, membatalkan kesepakatan nuklir Iran bisa memberi pukulan serius terhadap reputasi Amerika.

Eliot Engel seorang anggota DPR dari Partai Demokrat mengungkapkan, "Amerika Serikat harus memenuhi janjinya. Jika kita mundur dari kesepakatan itu sekarang, Iran akan terbebas dari batasan-batasan yang mengekang program nuklir mereka, dan dari inspeksi mendalam yang digariskan kesepakatan itu.”

Jake Sulivan, mantan penasehat keamanan nasional pemerintahan Barack Obama, mengatakan kepada Kongres, keputusan Trump itu bisa mempengaruhi krisis-krisis di berbagai penjuru dunia.

"Pertimbangkan China, pertimbangkan usaha-usaha untuk berunding dengan Korea Utara. Selama ini kita bisa menawarkan: rundingkan kesepakatan isu nuklir dengan kami, karena kami bisa diandalkan untuk benar-benar menegakkannnya. Seandainya kita mundur begitu saja dari kesepakatan nuklir Iran, tawaran seperti itu akan ditertawakan,” jelasnya.

Pemerintahan Trump telah dua kali mengukuhkan kepatuhan Iran terhadap kesepakatan nuklir itu, namun sejumlah analis keamanan mengatakan, itu tidak membendung niat Trump untuk membatalkan kesepakatan tersebut.

Trump mengatakan, "Pada akhirnya saya harus memutuskan apa yang terbaik bagi Amerika Serikat, dan apa yang terbaik bagi dunia. Karena ini benar-benar masalah dunia, bukan hanya Amerika. Ini masalah dunia dan masalah ini harus diselesaikan.” [ab/lt]

XS
SM
MD
LG