Tautan-tautan Akses

AS

Kongres AS Bahas Bentrokan Petugas Federal dan Demonstran


Jaksa Agung AS William Barr akan memberi kesaksian di hadapan Komite Kehakiman DPR, , Selasa (28/7) terkait berbagai topik terkait pemerintahan Presiden AS, Donald Trump. (Foto: ilustrasi)

Jaksa Agung AS William Barr Selasa (28/7) dijadwalkan memberi kesaksian mengenai protes yang masih terus berlangsung di Oregon, Portland, dan di berbagai tempat lainnya, yang berubah menjadi kerusuhan yang terpisah dari seruan bagi reformasi mengenai perlakuan polisi terhadap kaum minoritas di AS.

Barr, dalam pernyataan pembuka yang dirilis menjelang kehadirannya di hadapan Komite Kehakiman DPR, mengatakan, kematian George Floyd akhir Mei lalu sewaktu berada tahanan polisi di Minneapolis, Minnesota, merupakan peristiwa “mengerikan” yang memicu pemeriksaan yang diperlukan mengenai hubungan antara penegak hukum dan warga kulit hitam di AS.

Tetapi Barr menyatakan protes yang masih terus berlangsung di Portland dan berbagai tempat lainnya tidak terkait lagi dengan kematian Floyd.

“Secara umum di lokasi-lokasi perusakan itu bahkan tidak ada sedikitpun upaya para perusuh untuk mengaitkan tindakan mereka dengan kematian George Floyd atau seruan sah bagi reformasi,” sebut Barr.

Ia menekankan kritik pemerintahan Trump mengenai para pemimpin setempat, yang kebanyakan menolak tanggapan pemerintah federal dan meminta Kongres agar memblokir pengerahan pasukan federal di kota-kota mereka.

Jaksa Agung AS, William Barr di Gedung Putih, washington, D.C., 22 Juli 2020. (AP Photo/Evan Vucci)
Jaksa Agung AS, William Barr di Gedung Putih, washington, D.C., 22 Juli 2020. (AP Photo/Evan Vucci)

“Sebagai pejabat pemerintah federal yang dipilih rakyat, setiap anggota komite ini, terlepas dari pandangan politik atau perasaan Anda mengenai pemerintahan Trump, harus mengecam kekerasan terhadap petugas federal dan penghancuran properti federal,” kata Barr.

“Begitulah seharusnya para pemimpin negara bagian dan lokal yang memiliki tanggung jawab untuk memelihara keamanan komunitas mereka. Diam-diam memaafkan penghancuran dan anarki berarti mengabaikan prinsip-prinsip dasar supremasi hukum yang seharusnya mempersatukan kita, bahkan pada masa yang secara politis memecah belah.”

Sebelum ini ada bentrokan antara demonstran dan pasukan federal di Portland. Situasi meruncing di sana beberapa hari setelah ada tuduhan pasukan federal membawa pergi orang-orang tanpa alasan jelas. Para pejabat federal membela pengerahan itu yang dianggap perlu untuk mempertahankan properti federal seperti gedung pengadilan di kota tersebut.

Wali Kota Portland Ted Wheeler hari Senin mengemukakan isi surat dari sekelompok wali kota, meminta Kongres untuk bertindak guna membatasi penggunaan pasukan federal bahwa “tindakan-tindakan yang diambil dalam beberapa pekan belakangan ini tidak memiliki tempat di negara ini.”

Para legislator juga mungkin menanyai Barr mengenai bentrokan lain antara pasukan federal dan demonstran yang terjadi 1 Juni lalu di Lafayette Square, di seberang Gedung Putih. Para petugas menghalau demonstran dari taman itu antara lain dengan bom asap, tidak lama sebelum Trump, yang didampingi Barr dan para pejabat lainnya, berjalan ke sebuah gereja di dekatnya untuk berpose mengacungkan Alkitab di hadapan kamera. [uh/ab]

[uh/ab]

Lihat komentar (1)

XS
SM
MD
LG