Tautan-tautan Akses

Konflik di Yaman Tidak Getarkan Migran Ethiopia


Migran Ethiopia berkumpul di pusat Organisasi Migran Internasional di kota pelabuhan Aden, Yaman, 2 Januari 2017.

Badan Migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan bahwa ribuan migran Ethiopia terus melakukan perjalanan berbahaya ke Yaman yang dilanda perang untuk mencari peluang ekonomi yang lebih baik, meskipun kondisi keamanannya berbahaya.

Meskipun perang sedang berlangsung dan keadaan tidak aman di Yaman, negara itu tetap menjadi tempat transit utama bagi ribuan migran dari Tanduk Afrika.

Migran miskin mengambil risiko berbahaya untuk menyeberangi Selat Mandab dan mencapai Yaman, dari mana mereka pergi ke negara-negara Teluk dengan harapan bisa mendapat pekerjaan.

Organisasi Internasional untuk Migrasi melaporkan lebih dari 87.000 orang migran, kebanyakan dari Afrika, tiba di Yaman tahun lalu. Perjalanan ini difasilitasi oleh jejaring penyelundup.

Juru bicara IOM Joel Millman mengatakan bahwa perdagangan manusia ini terus berkembang.

Dia mengatakan empat kapal, yang membawa 602 migran, terutama pria dan wanita dari Ethiopia, tiba di lepas pantai Yaman pada hari Jumat. Dia mengatakan tiga kapal dilaporkan sampai dengan semua penumpangnya berada di atas kapal. Dia mengatakan bahwa tidak demikian halnya dengan kapal keempat, yang semula punya 117 orang di dalamnya.

"Hanya 95 yang tiba. Kami diberitahu bahwa penumpang di kapal dijatuhkan di perairanyang dalam, dan terpaksa berenang ke pantai. Tidak ada mayat yang ditemukan, tetapi 22 orang masih hilang ... Staf kami mengatakan bahwa sangat tidak biasa kalau ada empat kapal dengan jumlah migran yang banyak yang tiba pada waktu dan tempat yang sama," jelasnya.

Sebagian besar orang Ethiopia menuju Yaman dari Djibouti. Millman mengatakan kepada VOA bahwa staf IOM di sana mencoba memberi tahu para migran tentang bahaya yang dihadapi, termasuk arus kuat di selat itu. Sayangnya, menurutnya sebagian besar orang tidak memperhatikan peringatan ini.

Dari lebih dari 100 migran yang tiba di Djibouti setiap hari, dia mengatakan hanya sekitar 10 yang setuju untuk pulang dan tidak melakukan perjalanan laut berbahaya ke Yaman. [sp/jm]

XS
SM
MD
LG