Tautan-tautan Akses

Kompensasi Pembayaran untuk Para Petani Uganda untuk Tidak Menebang Pohon Akhirnya Terbayarkan


Gerald Mukisa, penjaga hutan yang juga bertindak sebagai pemandu wisata, berpose di Hutan Zika, dekat Entebbe sekitar 25 kilometer sebelah timur ibukota Uganda, Kampala (foto: AP Photo/Stephen Wandera)

Program rintisan yang membayar para pemilik lahan di Uganda untuk tidak menebang pohon dianggap berhasil, menurut para peneliti yang berusaha mencari cara untuk menekan emisi karbon.

Para peneliti menggunakan metode wawancara, pemeriksaan periodik, dan pencitraan satelit untuk memantau hutan di sekitar 121 desa dalam kurun waktu dua tahun. Di 60 desa, mereka menawarkan para pemilik lahan kompensasi sebesar $28 setiap tahun untuk setiap hektar hutan yang mereka lestarikan.

Penggundulan hutan bertanggung jawab untuk sekitar sepersepuluh emisi karbon di tingkat global, menurut the Union of Concerned Scientists, dan membiarkan pohon tetap tumbuh adalah satu pilihan yang paling efisien dari segi biaya untuk menangkap karbon. Namun tidak mudah untuk menunjukkan apabila metode ini efektif.

“Apabila anda membangun panel surya, anda dapat katakan, ‘Ha! Saya sudah menempatkan panel surya. Tolong berikan saya kredit berdasarkan target yang ingin saya capai.’ Apabila anda menekan laju penggundulan hutan … tidak mudah untuk merasakan dampak yang anda rasakan,” ujar salah satu peneliti Seema Jayachandran, seorang ahli ekonomi di Northwestern University kepada VOA.

Pohon-pohon yang berserak di kawasan yang dahulu tanah yang berhutan lebat di daerah Sudan Selatan tampak dari pesawat.
Pohon-pohon yang berserak di kawasan yang dahulu tanah yang berhutan lebat di daerah Sudan Selatan tampak dari pesawat.

Penggundulan hutan di Uganda

Studi dilaksanakan oleh para peneliti di Northwestern dan sebuah organisasi asal Belanda yang bernama Porticus. Uganda adalah lokasi ideal untuk mengupayakan program tersebut karena antara 2005-2010, negara ini mengalami tingkat penggundulan hutan tertinggi di dunia, dengan kehilangan hutan yang mencapai 2,7 persen setiap tahunnya.

Para peneliti ingin mengangkat keprihatainan yang ada bahwa skema pembayaran ini tidak akan sungguh-sungguh menekan laju penggundulan hutan, oleh karena peserta dalam program ini tidak akan memanen pohon itu, atau mereka akan memanen pohon lebih banyak lagi dari kawasan hutan yang tidak dilindungi atau mereka akan segera memanen tanaman segera setelah program ini berakhir.

Studi ini yang dipublikasikan di jurnal Science, menemukan ada kurang dari setengah penggundulan hutan di sekitar desa yang ikut serta dalam program dibandingkan dengan desa yang menjadi patokan. Para peneliti menemukan desa-desa yang diikutsertakan dalam program kompensasi telah melestarikan 5,5 hektar lebih banyak kawasan hutan dibandingkan dengan desa-desa lainnya.

Dan setelah program ini berakhir, tidak ada ketergesa-gesaan untuk menebang pohon, jadi manfaat dari program ini berlanjut.

Meskipun demikian, karena skala studi ini kecil, relatif terhadap pasar kayu dan batubara nasional, para peneliti tidak dapat melihat efeknya pada pasar-pasar tersebut. Tanpa informasi itu, mereka tidak dapat menunjukkan bahwa berkurangnya penggundulan hutan di kawasan yang menjadi obyek studi tidak menyebebkan meningkatnya penggundulan hutan di tempat lain.

Alasan penggundulan hutan

Jayachandran mengatakan program seperti ini akan paling sesuai apabila digabungkan dengan berbagai upaya untuk mengangkat alasan-alasan penggundulan hutan. Ini dapat membantu orang-orang untuk membeli kompor, sehingga mereka tidak memasak dengan menggunakan arang, atau mengajari pada para petani untuk menanam lebih banyak tanaman pangan di tempat yang lebih kecil, sehingga mereka tidak perlu untuk membabat hutan untuk menanam tanaman.

Para peneliti berharap pemerintah yang berusaha untuk memenuhi target pengurangan emisi karbon dibawah Kesepakatan Paris 2015 akan mempertimbangkan untuk membayar negara-negara yang lebih miskin untuk mengurangi laju penggundulan hutan. Kesepakatan Paris terkait perubahan iklim bertujuan untuk menjaga suhu rata-rata di bumi dan mencegah agar tidak meningkat sebesar 2 derajat Celsius di atas masa-masa pra-revolusi industri.

Program ini tergolong populer

Jayachandran mengatakan pada VOA bahwa umat manusia tidak boleh mengabaikan peluang apapun untuk menekan emisi karbon.

Program ini dikelola oleh Dana Perwalian Chimpanzee Sanctuary and Wildlife Conservation. Dana perwalian Chimpanzee berbicara pada para peserta tentang cara-cara lain untuk mendapatkan penghasilan dari hutan seperti beternak lebah atau budidaya jajur, dan tetang manfaat melestarikan hutan.

Lilly Ajarova, direktur eksekutif dari dana perwalian tersebut, mengatakan program ini sangat populer di antara para peserta.

“Tantangan yang kami hadapi saat ini adalah tidak adanya keberlanjutan program,” ujar Ajarova. Program ini harus lebih bersifat jangka panjang agara “manfaat ekonomi yang nyata dapat dirasakan, tidak hanya untuk mereka yang terlibat namun untuk seluruh bangsa ini.” [ww]

XS
SM
MD
LG