Tautan-tautan Akses

Komisi Perlindungan Jurnalis Tuding Pers Pakistan Makin Tertekan


Para jurnalis Pakistan melakukan aksi unjuk rasa dengan menutup mulut mereka dengan plester (foto: ilustrasi).

Sebuah kelompok pengamat media global mengatakan, iklim kebebasan pers di Pakistan memburuk, dan menuding militer yang berpengaruh di negara itu secara diam-diam namun efektif mendorong swasensor.

Dalam sebuah laporan yang dirilis Rabu (12/9), Komisi Perlindungan Jurnalis (CJP) mengatakan, temuannya itu didasarkan pada wawancara dengan sejumlah wartawan dalam sebuah misi organisasi itu ke Pakistan tahun ini.

Riset CJP, meski demikian, mencatat adanya penurunan jumlah pembunuhan atau kekerasan terhadap jurnalis di Pakistan, negara yang hingga saat ini dikecam sebagai salah satu negara dengan jumlah kematian wartawan paling banyak di dunia.

"Sementara menurunnya jumlah pembunuhan wartawan sebagai berita menggembirakan, pemerintah perlu mengambil tindakan yang dapat mengonter tekanan-tekanan yang mengakibatkan swasensor dan ancaman terhadap media,” kata Steven Butler, kordinator Program Asia CJP.

"Militer menutup akses ke beberapa wilayah; menggunakan tindakan intimidasi secara langsung dan tidak langsung; dan bahwa memicu kekerasan terhadap wartawan untuk mencegah munculnya laporan-laporan yang mengecam,” ungkap laporan itu.

Serangan-serangan kekerasan di Pakistan selama satu dekade lalu telah menewaskan 22 pekerja media. Militer, dinas intelijen, atau kelompok-kelompok politik terkait militer diduga sebagai sumber yang memicu sebagian serangan fatal terhadap jurnalis. [ab/uh]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG