Tautan-tautan Akses

Kilas Balik 2017: Pupus, Mimpi ISIS Dirikan Kekhalifahan di Irak dan Suriah


Pasukan Irak merayakan direbutnya Rawah, kota terakhir di Irak yang berhasil dibebaskan dari cengkeraman ISIS, 17 November 2017 lalu (foto: dok).

Mendekati berakhirnya tahun 2017, mimpi kelompok “Negara Islam” atau ISIS untuk mendirikan kekhalifahan di Irak dan Suriah pupus. Operasi yang dilakukan dengan gigih di darat oleh gabungan pasukan pemerintah Irak dan pasukan pendukung koalisi di Suriah, yang dikombinasikan dengan kekuatan udara Barat, akhirnya memaksa kelompok teror itu mundur. Meskipun pejabat-pejabat Irak, Suriah dan Iran mengumumkan kemenangan, Amerika dan sekutu-sekutunya mengingatkan bahwa pertempuran masih jauh dari berakhir.

Kelompok teror ISIS memastikan bahwa tahun 2017 dimulai dengan pertumpahan darah, ketika mereka mengirim seorang penembak ke klub malam Reina di Istanbul pada 1 Januari, yang menewaskan 39 orang.

Yusuf Kodat, salah seorang saksi mata serangan itu mengatakan, “Orang-orang panik, darah, suara tembakan dan ledakan. Itu yang saya ingat.”

Tetapi keterkejutan serangan teror berdarah itu menunjukkan kenyataan yang berbeda di Irak, dimana pasukan keamanan berhasil mendesak ISIS ke Mosul, ibukota kekhalifahan ISIS di Iraq.

Letnan Kolonel Hisham Abdulkadhim mengatakan, “Musuh kalah di depan kami meninggalkan senjata dan peralatan mereka, dan kabur setelah kami menimbulkan kerugian sangat besar pada mereka.”

ISIS Hadapi Pukulan di Banyak Negara Muslim

Sementara itu ISIS juga menghadapi pukulan di beberapa bagian negara Muslim. Warga Tunisia misalnya turun ke jalan-jalan memprotes kembalinya para eks petempur ISIS.

Di Amerika, Presiden Donald Trump memperingatkan ISIS dan kelompok-kelompok seperti itu akan musnah.

“Kami belum menggunakan kemampuan nyata yang kami punya. Kami menahan diri. Kami harus mengenyahkan ISIS. Kami berupaya melawan ISIS. Kami tidak punya pilihan,” tandas Trump.

Sebagai bagian dari peningkatan upaya itu, Amerika memberdayakan negara-negara anti-ISIS, yaitu dengan – untuk pertama kalinya – menyediakan kendaraan lapis baja bagi Pasukan Demokratik Suriah SDF, ketika mereka berupaya mengusir kelompok teror itu dari Raqqa ibukota mereka di Suriah.

Di Baghdad, Menteri Pertahanan Jim Mattis mengatakan, “Kami akan tetap bersama tentara Irak, rakyat Irak, yang memerangi musuh ini.”

ISIS Klaim Serangan Teror di Beberapa Negara

Meskipun ISIS menghadapi tekanan lebih besar di Irak dan Suriah, pengaruhnya bisa terasa di negara-negara lain. Februari lalu, seorang simpatisan ISIS menggunakan kampak menyerang beberapa penjaga keamanan di luar Museum Louvre di Paris.

ISIS juga mengklaim serangan Minggu Palma di Alexandria, Mesir, yang menewaskan puluhan orang. ISIS juga menunjukkan pengaruhnya di Pakistan dan Afghanistan dengan mengklaim serangan terhadap sebuah rumah sakit di Kabul bulan Maret lalu yang menewaskan lebih dari 30 orang.

Amerika menanggapi hal itu dengan menjatuhkan bom bukan nuklir terbesar pada gua-gua dan kompleks terowongan yang menjadi tempat persembunyian utama ISIS di Nangarhar, Afghanistan.

Panglima Komando NATO di Afghanistan Jendral John Nicholson mengatakan, “Saya ingin menegaskan bahwa kita tidak akan lengah dalam misi bersama mitra kita di Afghanistan, untuk menghancurkan ISIS-K pada tahun 2017 ini.”

Pada Juli lalu, kekhalifahan yang diumumkan ISIS mulai berantakan, ibukotanya Mosul di Irak berhasil dibebaskan setelah pertempuran selama beberapa bulan.

Perdana Menteri Irak Haider Al Abadi mengatakan, “Saya mengumumkan dari sini ke seluruh dunia, tentang berakhirnya, gagalnya dan hancurnya kelompok teroris ISIS.”

Tiga bulan kemudian warga bersukacita di Raqqa ketika para pejuang ISIS melarikan diri dari Raqqa ibukota kekhalifahan mereka di Suriah.

Pasukan keamanan Filipina berhasil membebaskan kota Marawi di Filipina selatan dari kelompok militan pro-ISIS, 17 Oktober 2017 lalu (foto: dok).
Pasukan keamanan Filipina berhasil membebaskan kota Marawi di Filipina selatan dari kelompok militan pro-ISIS, 17 Oktober 2017 lalu (foto: dok).

ISIS Juga Gagal Kuasai Kota Marawi di Filipina Selatan

Pada bulan Oktober, sebuah kemunduran ISIS terjadi di Filipina ketika pertempuran selama lima bulan untuk merebut kembali kota Marawi di bagian selatan Filipina berakhir dengan kekalahan.

Meskipun demikian ketika ISIS kehilangan wilayah dan pejuang-pejuangnya, jangkauannya terasa dalam serangan di Stockholm, Paris, Barcelona dan New York.

Pakar intelijen di Institute for the Study of War Jennifer Cafarella mengatakan, “ISIS jelas menunjukkan kemampuan bersinambung untuk melakukan peran globalnya, rangkaian serangannya terhadap Barat. Kami melihat peningkatan pesat aktivitas ISIS di Afrika bagian utara, di Afghanistan, dan di beberapa tempat lain seperti di Asia Tenggara.”

Kelompok teror itu tampaknya mengikuti saran pemimpinnya, Abu Bakar Al Baghdadi, dalam rekaman audio September lalu, bahwa “jalan menuju kemenangan adalah dengan bersabar dan melawan.” [em/al]

Opini Anda

Tunjukkan komentar

XS
SM
MD
LG