Tautan-tautan Akses

Ketidakpastian Hantui Warga Rohingya di India

  • Anjana Parischa

Para pengungsi Rohingya dari Myanmar duduk di madrasah terbuka, di sebuah kamp di New Delhi, India (foto: dok).

Dapat diakses melalui jalan berdebu tanpa aspal, sebuah permukiman kumuh yang menampung sekitar 70 keluarga Rohingya di pinggiran New Delhi menunjukkan suasana miskin tetapi tenang dengan anak-anak bermain-main, perempuan mengambil air dari sebuah tangki dan seorang lelaki tua dengan sabar mengais tumpukan sampah mencari serpihan-serpihan kayu untuk tungku dapur keluarga.

Tetapi di balik ketenangan itu, para pengungsi merasa sangat tegang setelah muncul berita bahwa pihak berwajib berencana mengidentifikasi dan mendeportasi kaum minoritas yang umumnya Muslim yang lari dari Myanmar untuk menghindari persekusi.

Nurfatimah, sekarang berumur 30 tahun, melintas perbatasan masuk ke India sepuluh tahun lalu, khawatir bahwa kehidupan yang pelan-pelan dibangunnya di sini mungkin akan berantakan lagi.

Berdesakan tapi aman

Meskipun tinggal di sebuah bilik kotor berdesakan dengan tiga anaknya yang lahir di India, ia tidak mengeluh karena merasa aman. Rasa takut keluar rumah yang dialaminya di Myanmar, di mana Muslim Rohingya menjadi korban kekerasan sektarian, sekarang hanya kenangan samar-samar. “India lebih baik bagi kami,” katanya.

Di permukiman New Delhi ini, ia dan para pengungsi lain tinggal di sebidang kecil tanah yang dihibahkan oleh lembaga amaI, Yayasan Zakat, dan mencari nafkah sederhana sebagai buruh harian.

Warga Rohingya takut dideportasi

Tetapi di tengah seruan yang makin menggema dari kelompok-kelompok Hindu agar mereka dideportasi, ketidakpastian menghantui sekitar 40 ribu Muslim Rohingya yang tersebar di beberapa kota India.

“Setiap orang berpikir apa yang harus dilakukan. Saya terus berpikir mengapa ini terjadi pada diriku? Mengapa nasib kami begini?” ia bertanya dengan rasa putus asa.

Di utara lebih tidak aman

Keresahan lebih berat dirasakan oleh sekitar 6.000 pengungsi Rohingya yang bermukim di kota Jammu di utara, dimana gaung seruan untuk mengusir mereka paling keras.

Setelah beberapa gubuk Muslim Rohingya di Jammu dibakar dalam beberapa hari terakhir ini, para pengungsi dicekam rasa tidak aman.

Tindak kekerasan acak

Dalam sebuah insiden lain, seorang pemimpin masyarakat, Karimullah, menuduh bahwa kios kecil tempat ia menyimpan barang rongsokan untuk dijual dibakar orang, beberapa anggota keluarganya dihajar orang tak dikenal dan induk semang menekan agar mereka mengosongkan bilik-bilik kecil yang mereka sewa.

Kejadian-kejadian itu mengguncang perasaan para pengungsi Rohingya. Bertanya-tanya mengapa tiba-tiba mereka diusir, Karimullah mengatakan, “Pertamakali dalam 10 tahun kamui menghadapi ini. Setelah ini, saya benar-benar takut.”

Polisi mengatakan, penyidikan sedang dilakukan.

Kamar Dagang

Di antara yang menyerukan agar mereka diusir adalah Kamar Dagang dan Industri Jammu, yang khawatir bahwa kehadiran warga minoritas Muslim menjadi ancaman keamanan di wilayah yang sejak lama bergulat menghadapi militansi Islam.

Ketua Kamar Dagang setempat, Rakesh Gupta, mengatakan mereka menyerukan deportasi karena khawatir bahwa “mereka dapat dimanfaatkan oleh militan atau kekuatan anti-India untuk menciptakan suasana terkotak-kotak. Kamar Dagang setempat menghendaki perdamaian karena perekonomian bergantung pada ketenangan.”

Gupta sebelumnya dikutip memperingatkan bahwa mereka akan meluncurkan gerakan “identifikasi dan bunuh” jika para pengungsi tidak dideportasi, tetapi kemudian menyanggahnya dengan mengatakan pernyataannya dikutip diluar konteks.

Analis keamanan Ajay Sahni pada Lembaga Manajemen Konflik mengatakan ada kekhawatiran bahwa kaum minoritas Muslim telah diradikalkan oleh kelompok-kelompok teror berbasis di Pakistan. “Ini keprihatinan kami, ini masalah kami.” Namun ia menambahkan, “Kami memang tidak pernah melihat upaya signifikan Muslim Rohingya untuk melakukan kegiatan teroris apapun di India.”

Sahni mengatakan para pengungsi diidentifikasi sebagai “bagian dari gerakan luas menolak semua imigran gelap di India,” namun ia menambahkan bahwa gerakan itu sebegitu jauh “umumnya tidak berhasil.”

Perempuan yang mengatakan berasal dari komunitas Rohingya Myanmar, mencuci pakaian di sebuah kamp di New Delhi (foto: dok).
Perempuan yang mengatakan berasal dari komunitas Rohingya Myanmar, mencuci pakaian di sebuah kamp di New Delhi (foto: dok).

Perjuangan Rohingya di India

Badan Urusan Pengungsi PBB, UNHCR, di New Delhi telah memberikan kartu identitas kepada sekitar 14 ribu pengungsiRohingya, sehingga mereka dapat menyekolahkan anak-anak mereka. Namun Elsa Sherin Mattews dari UNHCR mengemukakan bahwa karena miskin dan tidak terampil, para pengungsi hanya dapat bekerja sebagai buruh dan kadang menjadi korban eksploitasi.

Ia juga mengatakan banyak dari mereka tinggal dalam kondisi miskin dan tidak sehat dengan dengan akses terbatas ke air, jamban dan aliran listrik.

Namun di kamp di New Delhi ini, para pengungsi siap hidup kumuh dan miskin karena mereka menikmati kebebasan.

Tetapi kondisi di India lebih baik daripada Bangladesh

Untuk sebagian dari mereka, persinggahan pertama adalah Bangladesh, dimana puluhan ribu warga Rohingya telah mengungsi. Namun kondisi yang sulit di negara itu membuat mereka menyeberang ke India.

“Saya tidak boleh keluar dari kamp, mereka akan memasukkan kami ke penjara, kampnya sangat berjejal, karena itu kami pergi ke India,” kata Jafar Alam yang berumur 27 tahun.

"Saya ingin tinggal di India,” katanya. “Orang di Myanmar masih dipersekusi, mereka hidup dalam kesulitan. Daripada tinggal di Myanmar, lebih baik kami masuk penjara di sini, dihukum di sini.”

Seorang gadis pengungsi Rohingya mengusap air matanya di Kamp Pengungsi Tak Terdaftar di Teknaf, Bangladesh (foto: dok).
Seorang gadis pengungsi Rohingya mengusap air matanya di Kamp Pengungsi Tak Terdaftar di Teknaf, Bangladesh (foto: dok).

Penghuni kamp yang paling tua, Ammanullah, 60 tahun, juga bertanya-tanya kemana mereka akan pergi kalau pemerintah India melaksanakan rencana mendeportasi mereka. Myanmar tidak mengakui mereka sebagai warganegara, dan menyebut mereka sebagai imigran gelap dari Bangladesh. Namun pemerintah Myanmar sejak lama membantah tuduhan terjadinya pelanggaran dan perlakuan sewenang-wenang yang meluas terhadap Muslim Rohingya.

Amanullah mengatakan meskipun sekarang 70 keluarga hidup berjejal di sebidang lahan sempit yang di desanya dulu hanya akan dihuni dua keluarga, sebegitu jauh mereka tidak mengeluh karena merasa aman.

Amanullah yang sering meluangkan waktu untuk memastikan bahwa para pengungsi hidup dengan rukun, mengatakan, “Kami hanya dapat kembali ke Myanmar kalau ada perdamaian.” [ds]

XS
SM
MD
LG