Tautan-tautan Akses

Kerusuhan Landa Sierra Leone Setelah Pemungutan Suara


Para pendukung partai oposisi Partai Rakyat Rakyat Sierra Leone melempar batu ke arah polisi menyusul dugaan insiden di markas partai, di kawasan Goderich, Freetwon, 7 Maret 2018. (J. Patinkin/VOA)

Pemimpin oposisi utama Sierra Leone, Rabu (7/3) malam, meminta pendukungnya tetap tenang setelah mereka bentrok dengan polisi, yang mengakibatkan setidaknya satu orang cedera pada akhir pemungutan suara yang umumnya berlangsung damai di negara Afrika Barat tersebut.

"Saya ingin setiap warga Sierra Leone menjaga perilaku mereka dengan cara damai sehingga pemilu kali ini akan berlangsung damai," kata Julius Maada Bio kepada wartawan di markas Partai Rakyat Sierra Leone di lingkungan mewah Goderich di Freetown, di mana ia berlindung setelah pendukungnya bentrok dengan polisi di jalan.

"Kami berharap ini tidak mencemari keseluruhan pemilu yang relatif lancar," kata Bio, seorang pensiunan jenderal yang sempat merebut kekuasaan dalam kudeta 1996, sebelum menyerahkan kekuasaan kepada penguasa sipil.

Sierra Leone pada Rabu melangsungkan pemilu yang oleh para analis disebut sebagai salah satu persaingan paling ketat dalam sejarah Sierra Leone. Bio mencalonkan diri sebagai presiden melawan Samura Kamara dari Partai Kongres Rakyat yang berkuasa dan 14 kandidat lainnya. Presiden sekarang, Ernest Bai Koromo dari Partai APC, harus mundur setelah menjabat selama dua periode.

Pemungutan suara berlangsung dengan lancar di seluruh negeri, namun setelah TPS ditutup, ketegangan meningkat di Goderich menyusul insiden di luar markas SLPP, di mana pejabat partai mengatakan sedang melakukan penghitungan suara.

Bio menuduh polisi mencoba memasuki kompleks itu tanpa surat perintah pengadilan dan mengepungnya. Ia mengatakan polisi menuduhnya melakukan "peretasan" dan mengancam akan menggunakan gas air mata dan memaksa untuk masuk. Bio membantah tuduhan peretasan itu. [my/ds]

XS
SM
MD
LG